Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menjaga Waras Bersama 60 Ribu Kepala

M. Ainul Budi • Minggu, 8 Februari 2026 | 18:54 WIB

 

Menjaga Waras Bersama 60 Ribu Kepala - Foto Ai hanya ilustrasi
Menjaga Waras Bersama 60 Ribu Kepala - Foto Ai hanya ilustrasi

RADAR JEMBER - Siang ini saya cuma tidur sebentar. Maklum libur. Bangun-bangun, mata masih berat, kopi belum sempat dipanaskan ulang, notifikasi sudah ribut. Followers tembus 60 ribu. Saya diam. Bukan sok rendah hati, saya benar-benar terharu. Terharu karena, kok ya, masih ada orang yang mau mengikuti saya. Penulis yang tulisannya, kata orang Pontianak, tak tentu rudu.

Saya ini penulis yang sering salah paham. Kadang dituduh hoaks. Pernah dibilang totol. Ada yang serius menyebut saya agen Mossad, besoknya naik level jadi agen CIA. Kalau semua tuduhan itu mau dibikin CV, mungkin saya sudah layak direkrut badan intelijen lintas galaksi. Tapi begitulah hidup di negeri +62. Imajinasi sering lebih cepat dari verifikasi.

Enam puluh ribu tentu bukan angka dewa. Tak ada apa-apanya dibanding akun-akun senior yang digarap dengan kamera canggih, filter mahal, suara bariton penuh kharisma, dan editing yang bikin realitas minder. Saya? Modalnya cuma tulisan sekitar 500–550 kata, ditambah gambar AI. Nulisnya pun sambil ngopi di warkop, kadang di kafe, dapur, bandara, kampus, anywhere. Begitu ide datang, HP keluar, jari bekerja, lalu publish.

Selesai. Tak ada ritual, tak ada doa khusus, apalagi manajemen konten bertingkat. Praktis. Murah. Merakyat.

Maka izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada para pengikut Partai Koptagul, ups, refleks. Misi saya sederhana dan mungkin terdengar naif, menyampaikan informasi, lalu memberinya makna. Bukan supaya terlihat paling pintar, tapi agar otak tetap encer dan waras. Peristiwa berat saya bedah dengan gaya warung kopi.

Yang ringan saya kasih bobot, supaya tidak terbang sia-sia. Karena di zaman ini, informasi bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal siapa yang paling cepat dan paling keras.

Ada satu hal yang diam-diam membuat saya bahagia. Gaya tulisan ini mulai ditiru. Itu bukan aib. Itu justru tanda hidup. Banyak yang ikut menulis panjang, naratif, dipadu gambar AI. Saya senang. Artinya, ada ekosistem berpikir yang bergerak. Yang membuat saya sedih hanya satu, copy–paste tanpa nama. Tulisan diambil, nama dihapus, seolah-olah itu lahir dari rahim sendiri. Mental begini ternyata masih subur. Silakan repost tulisan saya, saya tak pelit. Tapi jangan hapus nama. Etika itu gratis, tapi nilainya mahal.

Perjalanan ke titik ini jelas tidak selalu manis.

Dari sekian banyak netizen, selalu ada yang datang membawa batu. Akun bodong, akun baru netas, akun digembok, bahkan bot yang entah digaji siapa.

Niatnya satu, menyerang. Saya hadapi dengan sabar. Karena bermain media sosial itu seperti turun ke pasar. Kalau tak siap dengar teriakan, lebih baik belanja online. Kalau tak mau dihujat, tulislah yang lempeng-lempeng saja. Tapi dunia tak berubah oleh tulisan yang terlalu sopan.

Enam puluh ribu ini bukan tentang angka.

Ini tentang kepercayaan. Tentang orang-orang yang memilih membaca, berpikir, lalu menimbang. Untuk itu, saya bangga. Bukan pada diri saya semata, tapi pada para pembaca yang masih mau meluangkan waktu untuk waras di tengah keramaian.

Doakan saya, agar tetap sehat, tetap jujur, dan terus memproduksi konten yang inspiratif dan edukatif, supaya kita semua, para pegiat warung kopi digital, tidak mudah dibohongi, tidak gampang diseret emosi, dan tidak kehilangan akal sehat. Karena di zaman ini, akal sehat adalah bentuk perlawanan paling sunyi, sekaligus paling berani.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#agen cia #hoaks #cia