RADAR JEMBER - Kita lanjutkan File Epstein. Tulisan sebelumnya anggap saja pemanasan. Kita sibak satu per satu file hitam penuh konspirasi dunia itu. Salah satunya, kain kiswah yang menutupi Ka’bah ternyata dikirim ke Jeffrey Epsein, sang predator anak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Selembar Kiswah Ka’bah, kain hitam bersulam benang emas ayat-ayat suci, yang tiap tahun diganti pada ritual resmi di Masjidil Haram, disentuh dan disaksikan jutaan jamaah haji dan umrah dari seluruh mazhab Islam, ternyata pernah dikirim ke rumah Jeffrey Epstein di Amerika Serikat.
Bukan ke museum Islam.
Bukan ke lembaga riset peradaban.
Bukan ke kepala negara Muslim.
Ke rumah Jeffrey Edward Epstein, terpidana kejahatan seksual anak, yang pada saat pengiriman itu secara resmi sudah terdaftar sebagai sex offender di Amerika Serikat.
Fakta ini muncul dari email internal yang terungkap dalam rilis besar Departemen Kehakiman AS (DOJ) akhir Januari 2026, bagian dari pembukaan ±3 juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan sekitar 2.000 video, dokumen yang dilepas ke publik atas nama undang-undang transparansi era pemerintahan Donald Trump.
Dalam email tersebut, potongan Kiswah itu disebut dikirim sebagai “a sign of respect” tanda penghormatan.
Pengirimnya bukan orang sembarangan. Jalurnya melibatkan Aziza Al-Ahmadi, figur bisnis perempuan yang memiliki koneksi kuat dengan jaringan elite Teluk dan relasi Arab Saudi, bersama Abdullah al-Maari. Namanya muncul berulang dalam komunikasi Epstein terkait akses istana dan lingkaran kerajaan. Pengiriman dilakukan lintas negara, langsung ke alamat pribadi Epstein di Amerika Serikat.
Tidak ada catatan kegiatan keagamaan. Tidak ada konteks filantropi. Tidak ada alasan spiritual. Yang ada hanya bahasa elite global, simbol, relasi, dan pengakuan kekuasaan. Pada titik ini, setiap Muslim berhak bertanya dengan dada sesak, mengapa simbol paling suci dalam Islam bisa berakhir di rumah seorang predator?
Jawabannya ada pada posisi Epstein sendiri.
File-file DOJ menunjukkan, Epstein bukan sekadar pelaku kejahatan seksual, tetapi broker jaringan global. Ia menjalin hubungan erat dengan elite Uni Emirat Arab, termasuk Sultan Ahmed bin Sulayem (CEO DP World) melalui korespondensi intens yang mencakup urusan bisnis, geopolitik, dan teknologi keamanan. Ia berperan sebagai perantara pertemuan rahasia antara elite Israel dan Emirat, bertahun-tahun sebelum Abraham Accords 2020 diumumkan.
Epstein juga tercatat mengirim kit tes DNA ke keluarga kerajaan Emirat, mengedit draft memoar penguasa Dubai, serta mempromosikan teknologi surveilans Israel untuk infrastruktur pelabuhan strategis UAE.
Baca Juga: Trump Ancam, Iran Menggeram, Sekutu Kabur
Ke Arab Saudi, relasinya tak kalah mencengangkan. Epstein melakukan kunjungan langsung ke Riyadh pada akhir 2016. Menurut korespondensi internal, pulang membawa hadiah mewah dari lingkaran Crown Prince Mohammed bin Salman (MBS). Kontaknya dengan figur kerajaan Saudi bersifat ekstensif dan berkelanjutan. Cukup untuk menjelaskan mengapa simbol sekelas Kiswah diperlakukan sebagai hadiah diplomatik, bukan benda sakral.
Bagi Epstein, Kiswah bukan kain ibadah. Ia adalah kode pengakuan.
Dalam dunia elite gelap, pemberian simbol sakral adalah bahasa paling mahal. Ia berarti, kami tahu siapa kamu, kami tahu rahasia yang kamu simpan, dan kami menghormatimu karena itu. Kiswah berubah fungsi, dari penutup Ka’bah menjadi jaminan relasi.
Hubungan Epstein dengan Israel memperjelas posisinya. Ia memiliki kedekatan ekstrem dengan Ehud Barak, mantan Perdana Menteri Israel dan mantan kepala intelijen militer. Catatan kunjungan menunjukkan Epstein mendatangi townhouse Barak di New York lebih dari 30 kali antara 2013–2017, tinggal di apartemennya, dan merekam percakapan strategis terkait Palantir, Peter Thiel, serta akses politik Amerika.
Memo FBI menyebut Epstein sebagai “co-opted Mossad agent”, yang beroperasi di bawah jaringan Barak. Email-email internal bahkan menunjukkan Epstein membahas konflik di Suriah, Ukraina, Libya, dan Somalia sebagai “kesempatan finansial,” yang ditanggapi Barak dengan dingin, “Benar, tapi tidak mudah diubah jadi uang.”
Di Libya, Epstein berperan sebagai penghubung antara mantan agen MI6 Inggris dan Mossad Israel untuk mengakses aset negara yang dibekukan pasca-Gaddafi, bernilai miliaran dolar. Negara runtuh dibaca sebagai peluang. Kekacauan dijadikan portofolio.
Dalam konteks inilah, Kiswah Ka’bah harus dibaca. Bukan sebagai kesalahan administratif. Bukan sebagai kekhilafan budaya. Melainkan sebagai bukti paling telanjang bahwa kesucian bisa direduksi menjadi alat diplomasi gelap, jika yang dihadapi adalah manusia pemegang kompromat kelas dunia.
Artikel ini tidak meminta nuan membenci agama. Justru sebaliknya. Ini peringatan pahit, ketika simbol iman masuk ke meja transaksi elite global, yang dikorbankan bukan politik, tetapi kehormatan umat.
Setelah tahu fakta ini, sulit untuk tidak bertanya dengan suara nyaris bergetar, jika Kiswah Ka’bah saja bisa berakhir di rumah Jeffrey Epstein…apa lagi yang sudah lama berpindah tangan tanpa kita sadari? Diamlah sejenak, wak. Kagetmu hari ini mungkin awal dari kewarasan.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar