Pesan Ekologis di Balik Peristiwa Isra Mikraj
Penulis: Abdur Rahmad
Alumnus Ponpes Nurul Jadid, Pengurus AISNU Jatim, Pengurus PKC PMII Jatim, dan Pengurus GP Ansor Giligenting Madur
Salah satu bagian paling misterius sekaligus sarat makna dalam peristiwa Isra Mikraj adalah ketika Rasulullah SAW berada Sidratul Muntaha. Dalam berbagai riwayat dan penafsiran, Sidratul Muntaha digambarkan menyerupai pohon bidara yang luar biasa. Alquran menyebut istilah sidr atau sidrah dalam beberapa ayat, antara lain QS. Saba’ [34]: 16, QS. Al-Waqi’ah [56]: 28, serta QS. An-Najm [53]: 14 dan 16. Meski hakikatnya hanya Allah yang Maha Mengetahui, penggunaan simbol pohon bukanlah sesuatu yang netral.
Pohon bidara dikenal sebagai tanaman yang tumbuh di wilayah kering, tahan terhadap cuaca ekstrem, dan memiliki banyak manfaat. Dalam konteks ini, Sidratul Muntaha seolah menjadi simbol bahwa puncak pengalaman spiritual Rasulullah SAW justru dihadirkan melalui representasi alam, bukan bangunan megah atau cahaya abstrak semata.
Langit tertinggi digambarkan dengan bahasa ekologis.
Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad menggambarkan daun di Sidratul Muntaha sebesar telinga gajah dan buahnya seperti kendi besar.
Gambaran ini menegaskan bahwa alam bukan sekadar latar pasif dalam kisah kenabian, melainkan medium utama penyampaian pesan ilahi. Bagi saya, ini adalah isyarat kuat bahwa dalam kosmologi Islam, alam memiliki kedudukan spiritual yang tinggi.
Jika langit saja “berbahasa alam”, mengapa manusia di bumi justru memperlakukannya secara serampangan? Pertanyaan ini saya kira sangat relevan sebagai otokritik dan refleksi untuk menyadari bahwa krisis lingkungan hari ini bukan semata krisis teknis, melainkan krisis cara pandang.
Iman, Amal, dan Kepedulian terhadap Kehidupan
Dalam perjalanan Isra Mikraj, Rasulullah Saw juga diperlihatkan berbagai fenomena kehidupan yang dijadikan perumpamaan.
Salah satu yang menarik adalah kisah tentang sekelompok manusia yang menanam tumbuhan dan memanennya hanya dalam dua hari, lalu tumbuh kembali seperti semula.
Ketika ditanyakan kepada Malaikat Jibril, dijelaskan bahwa mereka adalah para mujahidin yang mengorbankan harta dan jiwa di jalan Allah, dan setiap pengorbanannya dilipatgandakan balasannya.
Perumpamaan ini menggunakan metafora pertanian, menanam dan memanen.
Artinya, amal saleh tidak digambarkan dengan simbol perang atau kekerasan, melainkan dengan siklus kehidupan alam. Ini menunjukkan bahwa dalam imajinasi etik Islam, kebermanfaatan, keberlanjutan, dan produktivitas memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Di sinilah letak persoalan kita hari ini. Keberimanan sering kali diukur secara sempit melalui intensitas ritual individual. Padahal, merawat lingkungan, menjaga keseimbangan alam, dan mencegah kerusakan ekologis juga merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Iman yang tidak berdampak pada cara manusia memperlakukan bumi, menurut saya, adalah iman yang rapuh secara sosial.
Pandangan ini sejalan dengan mandat kekhalifahan manusia sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30. Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai penguasa absolut yang bebas mengeksploitasi sesuka hati.
Kekhalifahan mengandung makna amanah, tanggung jawab, dan keterikatan moral.
Teladan Nabi dan Etika Lingkungan dalam Islam
Jika menengok sejarah awal Islam, kita akan menemukan bahwa misi kenabian tidak pernah terlepas dari kepedulian terhadap lingkungan.
Rasulullah Saw tidak hanya mengajarkan salat, puasa, dan zikir, tetapi juga membangun etika hidup yang ramah terhadap alam. Dalam banyak riwayat, Nabi melarang perusakan, pemborosan air, bahkan dalam kondisi berlimpah.
Hadis riwayat Abu Dawud tentang larangan memotong pohon bidara secara sembarangan menunjukkan bahwa Islam sejak awal telah menanamkan kesadaran ekologis.
Ancaman keras dalam hadis tersebut bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti secara literal, melainkan untuk menegaskan bahwa merusak alam adalah dosa sosial yang dampaknya luas.
Pesan ini terasa kontras dengan realitas hari ini. Data dari berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa deforestasi, pencemaran air, dan eksploitasi sumber daya alam terus terjadi, sering kali atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Akibatnya, kita menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai “kiamat-kiamat kecil”: banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, serta perubahan iklim yang memengaruhi kehidupan jutaan orang.
El Nino dan perubahan pola cuaca ekstrem yang dirasakan belakangan ini bukan sekadar fenomena alam yang berdiri sendiri.
Ia berkaitan erat dengan ulah manusia yang melampaui batas daya dukung lingkungan. Dalam konteks ini, peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif, bukan sekadar seremoni tahunan.
Menanam Harapan di Tengah Krisis
Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa jika seseorang memegang benih kurma di tangannya pada hari kiamat, maka ia tetap berkewajiban menanamnya. Pesan ini sangat kuat dan relevan. Ia mengajarkan optimisme aktif, tanggung jawab hingga detik terakhir, serta keyakinan bahwa setiap tindakan baik, sekecil apa pun, memiliki nilai.
Bagi saya, hadis ini adalah fondasi etika ekologis yang luar biasa. Di tengah ancaman krisis global, sikap apatis hanya akan mempercepat kehancuran.
Sebaliknya, tindakan kecil yang konsisten—mengurangi sampah, menjaga ruang hijau, mendukung kebijakan ramah lingkungan—adalah bentuk ibadah sosial yang nyata.
Isra Mikraj mengajarkan bahwa puncak spiritualitas tidak menjauhkan manusia dari bumi, tetapi justru mengikatnya lebih kuat dengan tanggung jawab kemanusiaan dan kealaman. Iman yang sejati tidak hanya diukur dari seberapa sering kepala bersujud, tetapi juga dari seberapa sungguh-sungguh tangan menjaga kehidupan.
Jika pesan ini dipahami secara utuh, maka agama tidak lagi diposisikan sebagai penonton pasif dalam krisis ekologis, melainkan sebagai sumber etika dan inspirasi perubahan. Dan mungkin, di situlah makna terdalam Isra Mikraj bagi umat hari ini: mengingatkan bahwa jalan ke langit selalu berangkat dari cara kita merawat bumi.
Editor : M. Ainul Budi