Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cermin Buram Tradisi Tabayyun dan Ishlah

M. Ainul Budi • Selasa, 2 Desember 2025 | 01:12 WIB
Sutriyono (Mahasiswa S3 prodi studi Islam UNUJA Paiton Probolinggo dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syari
Sutriyono (Mahasiswa S3 prodi studi Islam UNUJA Paiton Probolinggo dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syari

Cermin Buram Tradisi Tabayyun dan Ishlah

Oleh : Sutriyono

Mahasiswa S3 prodi Studi Islam UNUJA Paiton dan Ketua STIS Darul Falah Bondowoso

Photo
Photo

Konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang muncul dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan dinamika yang tidak sekadar organisatoris, melainkan juga menyentuh aspek-aspek etis dan kultural.

Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU memiliki tradisi intelektual dan moral yang mengakar, termasuk prinsip tabayyun (klarifikasi) dan ishlah (perdamaian).

Tulisan ini (semoga menjadi sumbangsih) mencermati konflik PBNU kontemporer melalui kacamata etika-tradisi keulamaan tersebut. Dengan pendekatan deskriptif-analitis, tulisan ini mengidentifikasi bagaimana konflik yang mencuat ke ruang publik telah mencerminkan kaburnya implementasi "dogma" tabayyun dan melemahnya spirit ishlah dalam relasi elite organisasi.

Catatan ini berusaha mengindikasikan bahwa distorsi terhadap nilai-prinsip itu terjadi karena banyak faktor; konflik kepentingan, kompetisi tafsir wewenang struktural, di tengah berubahnya ekosistem komunikasi publik di era digital.

Pada bagian akhir, refleksi ini tetap mengandaikan opsi muhasabah sebagai jalan pemulihan nilai-nilai "dogmatis", agar NU kembali pada khittah etik-kulturalnya sebagai organisasi yang mengedepankan kesejukan, kewibawaan moral, dan keteladanan ulama


Fakta itu bernama Konflik

Riuh rendah konflik di tubuh organisasi besar merupakan fenomena yang (baca: acap kali dianggap) wajar dalam dinamikanya. Namun konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini memiliki sensitivitas tersendiri

. Sebab, NU bukan hanya institusi sosial-keagamaan-kemasyarakatan, melainkan simbol otoritas moral, tradisi keilmuan pesantren, dan pengarusutamaan nilai-nilai Islam Nusantara.

Dalam beberapa waktu terakhir, publik menyaksikan ketegangan internal di tubuh PBNU yang mencuat ke permukaan, terutama terkait persoalan tafsir wewenang struktural, perbedaan pandangan keorganisasian, serta respons terhadap keputusan strategis di level syuriah dan tanfidziyah. Konflik ini beresonansi ke publik, memunculkan spekulasi, persepsi dan narasi yang saling berkelindan dan tak beraturan.

Dalam konteks tradisi keulamaan, situasi tersebut menimbulkan kegelisahan karena seolah menjadi cermin buram dari nilai yang selama ini dijunjung dan dianut: tabayyun dan ishlah. Muncul satu pertanyaan, apakah konflik PBNU dapat dibaca sebagai problem implementasi nilai tersebut, sekaligus mengapa distorsi itu terjadi.

Potret Tradisi Tabayyun dan Ishlah

Dalam bangunan tradisi NU, konsep
Tabayyun (ruang klarifikasi) dijunjung sebagai Etika Organisasi, Ilmiah dan Moral

Prinsip dan nilai tabayyun mengandaikan sikap berhati-hati dan tidak mudah menerima informasi sebelum diverifikasi dan divalidasi. NU secara kultural sangat menekankan prinsip ini karena berakar dari adab intelektual pesantren; tidak gegabah mengambil kesimpulan, tidak mudah menuduh (vonis prematur) dan selalu menguji kesahihan dan kebenaran melalui sanad informasi.

Sedangkan prinsip Ishlah (Perdamaian/harmoni) diyakini sebagai mandat Keulamaan. Ishlah dipahami sebagai usaha merawat harmoni, mengurangi konflik, dan memperbaiki hubungan yang retak. Dalam tradisi NU, ishlah merupakan tugas moral para kiai, sekaligus fondasi relasi sosial nahdliyin. Konflik antar-elite yang tidak segera diarahkan pada ishlah berpotensi merusak kepercayaan publik dan memecah-belah warga / jama'ah.

Apalagi penerimaan publik atas kabar yg beredar, melalui banyak platform media digital-sosial saat ini nyaris tak bisa dikendalikan, cepat tercerna dan melahirkan persepsi dan narasi zig-zag.

NU dan Ujian di Ruang Digital

Di era media sosial, organisasi keagamaan menghadapi tantangan baru: fragmentasi informasi, percepatan persepsi-opini publik, dan dimungkinkan munculnya aktor-aktor informal yang ikut menciptakan narasi provokatif. Hal ini mempercepat eskalasi konflik dan menghambat ruang dialog.

Indikasi Konflik internal PBNU mencuat dari sejumlah isu. Diantaranya: soal perbedaan tafsir kewenangan struktural dalam implementasi keputusan-keputusan keorganisasian, yang kemudian melahirkan
ketegangan antara unsur syuriah dan tanfidziyah dalam menyikapi agenda strategis organisasi.

Berikutnya, munculnya respons cepat publik yang tidak terkendali, akibat narasi yang tersebar di media sosial tanpa klarifikasi memadai. Diperparah dengan dugaan imbas dinamika politik nasional yang secara tidak langsung mempengaruhi persepsi publik terhadap langkah-langkah elite PBNU.

Wujudnya, isu-isu ini lahir dan muncul di permukaaan melalui pernyataan-pernyataan publik, konferensi pers, komentar pengurus, hingga rumor di ruang digital yang semakin memperkeruh keadaan.

Situasi eksternal ini tidak bisa dihindari. Namun demikian, perlu disikapi dengan bijak sebagai tantangan dan ujian NU saat ini dan di masa yang akan datang.

Ketika Cermin Tabayyun Mengabur

Ruang baca publik yang keruh melahirkan Persepsi dan narasi liar. Ini terjadi dan beredar lebih cepat dari pada intensitas ruang dan waktu klarifikasi.

Banyak pernyataan, potongan video, atau dokumen internal tersebar ke publik tanpa penjelasan resmi. Pola ini menyebabkan tabayyun tidak berjalan, bahkan cenderung diabaikan. Ketiadaan mekanisme komunikasi yang terpadu membuat ruang publik dipenuhi tafsir bebas.

Terlihat fragmentasi otoritas suara yang semakin tidak kredibel. Tidak semua yang berbicara atas nama PBNU memiliki mandat komunikasi publik. Tak ayal lagi, di ruang publik, setiap pernyataan dianggap sebagai “sikap resmi.” Kondisi ini mempersempit ruang tabayyun karena publik kesulitan membedakan mana informasi yang valid.

Pada situasi ini, tak berlebihan kalau ada pandangan, bahwa laku di arena medsos telah menggeser adab Pesantren-NU, yang menekankan dialog langsung, mengambil keputusan dengan musyawarah, dan tentu dengan prinsip saling menahan diri. Siapa yang akan memulai meretas jalan ini ? Kita dorong inisiatifnya dengan penuh kesantunan.

Spirit Ishlah yang Melemah

Kondisi ini terindikasi dan dapat dibaca dari
beberapa perbedaan pandangan seharusnya dapat diselesaikan melalui tafaqquh fil masail atau forum tashih al-qawl di internal. Namun, pada eskalasi publik menunjukkan bahwa ruang ishlah tidak diaktifkan secara maksimal. Jangan biarkan konflik berlarut-larut dan menjadi bom waktu yang kontra produktif.

Pada sisi lain, relasi elite yang mengeras, ketegangan yang muncul menunjukkan adanya jarak antara kelompok-kelompok elite organisasi.

Protes, kritik internal, hingga pernyataan keras mengindikasikan bahwa suasana kebatinan para pengurus tengah berada dalam ketegangan.

Korbannya adalah jamaah yang akan ikut terseret dalam pusaran gap yang semakin menganuang Ketika elite tidak berishlah, warga nahdliyin ikut terbelah. Narasi dukung-mendukung muncul, menciptakan polarisasi yang mengikis kewibawaan moral organisasi.

Indahnya Bergerak Bersama menuju Khittah Tabayyun dan Ishlah

Tak berlebihan kiranya, disaat situasi semakin keruh dan mengeras dalam perbedaan, perlu dibijaki dalam qudwah hasanah
para pemimpin PBNU untuk mengaktifkan kembali pola komunikasi yang mengedepankan etik pesantren, dengan prinsip Tabayyun dan semangat Ishlah.

Institusi Syuriah dan Tanfidziyah memiliki posisi sebagai penjaga moral-etik dan teologis organisasi. Ketegasan namun kelembutan syuriah sangat menentukan keberlanjutan ishlah, dengan good will yang diakselerasi oleh tanfidziyah dan ketenangan jamaah dalam pemampuan berliterasi secara digital.

Cermin yang kini berkabut dan buram itu seharusnya terus memantulkan kejernihan nilai tabayyun dan ishlah. Mampu menyerap dan mereduksi distorsi dinamika kepentingan, perubahan kultur komunikasi, serta minimnya mekanisme resolusi konflik internal.

Tentu ( dengan munajat bersama) PBNU dapat mengembalikan wajah kejernihannya sebagai organisasi keagamaan yang menjunjung kesantunan, menegakkan moralitas, dan menjadi peneduh umat. Jalan ishlah selalu terbuka—sepanjang ada kerendahan hati untuk saling memahami dan keberanian untuk kembali ke khittah Tabayyun dan Ishlah. Insya Allah...

Editor : M. Ainul Budi
#TRADISI #tabayyun #pbnu #nu #UNUJA #Bondowoso