Refleksi HSN 2025
Feodalisme lahir di Barat dan Ta'dzim di Pesantren
Saat perayaan Hari Santri Nasional, yang selalu jatuh pada tanggal 22 Oktober 2025, kali ini, kembali komunitas santri dan pesantren diuji dengan isu Neo Feodalisme dalam relasi kiai-santri. Isu ini berhembus di tengah ramai kasus Trans7 beberapa hari yang lalu. Sebetulnya isu ini bukan wacana baru. Dalam 10 tahun terakhir, banyak kritik, bahkan stigma terhadap eksistensi pesantren, yang telah memantik perdebatan panjang.
Namun pesantren dengan kekuatan distingsinya mampu survival dan menjadi pembeda dalam perkembangannya yang terus melaju kencang. Bagaimana sebenarnya wacana ini kita dudukkan secara epistemologis dan akar historisnya. Sehingga darimanapun kita memandang dan apapun kacamatanya, objeknya akan kelihatan jelas batas-batasnya.
Istilah feodalisme dalam konteks Barat sering kali diasosiasikan dengan sistem sosial yang menindas dan bersifat hierarkis, di mana kekuasaan dan hak istimewa hanya dimiliki oleh golongan bangsawan.
Namun, di Indonesia, khususnya dalam tradisi pesantren, bentuk penghormatan santri kepada kiai kerap disalahartikan sebagai praktik feodalisme. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan mendasar antara feodalisme Barat dan sistem penghormatan dalam pesantren, baik dari segi historis, filosofis, maupun sosiokultural.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, ditemukan bahwa penghormatan di pesantren berakar pada nilai adab (etika keilmuan) dan spiritualitas Islam, bukan pada struktur kekuasaan. Oleh karena itu, penghormatan santri kepada kiai tidak dapat dikategorikan sebagai feodalisme, melainkan sebagai ekspresi kesadaran moral dan penghargaan terhadap ilmu.
Pendahuluan
Feodalisme merupakan sistem sosial yang berkembang di Eropa abad pertengahan, ditandai oleh pembagian kelas yang kaku antara bangsawan dan rakyat biasa. Dalam sistem ini, kekuasaan dan hak milik ditentukan oleh garis keturunan, bukan oleh kemampuan atau keilmuan.
Sebaliknya, dalam konteks pesantren di Indonesia, relasi antara kiai dan santri sering kali diwarnai oleh penghormatan yang tinggi. Namun, sebagian kalangan modern menilai hal tersebut sebagai bentuk feodalisme keagamaan. Artikel ini berupaya mengurai secara ilmiah perbedaan konseptual dan kultural antara feodalisme versi Barat dan penghormatan dalam pesantren.
Feodalisme dalam Perspektif Barat
Secara etimologis, istilah feodalisme berasal dari kata feodum atau fief, yang berarti tanah warisan atau hak feodal (Bloch, 1961). Sistem ini melahirkan struktur sosial di mana raja atau bangsawan memiliki kekuasaan absolut terhadap rakyat.
Hubungan sosial bersifat vertikal dan eksploitatif, di mana rakyat harus bekerja untuk tuan tanah tanpa hak kepemilikan.
Feodalisme melahirkan ketimpangan sosial yang tajam, membatasi mobilitas sosial, dan memelihara sistem kelas yang kaku (Anderson, 1974). Nilai-nilai yang berkembang dalam feodalisme bersifat materialistik dan kekuasaan menjadi pusat orientasi kehidupan sosial.
Tradisi Penghormatan di Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki sistem nilai tersendiri. Penghormatan santri kepada kiai bukan didasari oleh ketakutan atau kekuasaan, tetapi oleh penghargaan terhadap ilmu dan spiritualitas. Dalam ajaran Islam, guru (ustaz atau kiai) dipandang sebagai perantara ilmu yang membawa barakah (keberkahan).
Etika santri terhadap kiai, seperti mencium tangan, tidak menyela saat berbicara, dan bersikap sopan, merupakan manifestasi dari adab al-‘ilm—yakni tata krama dalam menuntut ilmu (Al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim). Prinsip ini menekankan bahwa keberhasilan menuntut ilmu tidak hanya bergantung pada intelektualitas, tetapi juga pada kebersihan hati dan sikap hormat terhadap guru.
Dimensi Sosial dan Spiritualitas Pesantren
Struktur sosial pesantren tidak bersifat hierarkis seperti feodalisme, melainkan paternalistik dan egaliter. Kiai berperan sebagai murabbi (pembimbing spiritual) yang membentuk karakter santri melalui keteladanan, bukan melalui kekuasaan (Dhofier, 2011).
Kedekatan kiai dengan masyarakat menunjukkan bahwa pesantren justru membangun kesetaraan sosial berbasis moral. Banyak kiai hidup sederhana, tanpa kekayaan berlebih, dan mengabdikan diri untuk kemajuan umat. Dengan demikian, penghormatan yang diberikan santri bukan bentuk feodalisme, melainkan penghargaan terhadap integritas dan keilmuan.
Kesimpulan
Feodalisme dalam tradisi Barat lahir dari struktur kekuasaan yang menindas, sedangkan penghormatan di pesantren bersumber dari nilai adab dan spiritualitas Islam. Menyamakan penghormatan santri kepada kiai dengan feodalisme merupakan bentuk kekeliruan epistemologis dan kultural.
Pesantren justru menanamkan nilai-nilai kesetaraan, keikhlasan, dan penghargaan terhadap ilmu. Dalam konteks pendidikan modern, nilai adab pesantren ini layak dijadikan model pendidikan karakter berbasis moralitas dan penghormatan.
Oleh: Sutriyono
(Mahasiswa S3 prodi studi Islam UNUJA Paiton Probolinggo dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah Darul Falah Bondowoso)
Editor : M. Ainul Budi