Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

“Panggilan Darurat” Agama di Tengah Krisis Lingkungan Global

Alvioniza • Senin, 25 Agustus 2025 | 18:10 WIB
Opini: M. Khusna Amal
Opini: M. Khusna Amal

DI tengah eskalasi krisis lingkungan global, diskursus keagamaan ditantang untuk tidak lagi terjebak dalam ruang-ruang seminar dan forum wacana. Kerusakan bumi hari ini bukan sekadar persoalan ekologis, melainkan persoalan moral dan spiritual.

Di sinilah konsep ekoteologi menawarkan satu perspektif baru dalam ranah dakwah Islam. Menjadikan perawatan bumi sebagai bagian integral dari moderasi beragama.

Ekoteologi, dalam pengertian sederhana, merupakan sintesis antara prinsip-prinsip ketuhanan dengan kesadaran ekologis. Konsep ini menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana diamanahkan dalam QS. Al-Baqarah: 30, dengan mandat menjaga dan memelihara keseimbangan alam, bukan mengeksploitasinya secara serakah. Dalam kerangka teologis ini, alam bukan hanya objek eksplorasi, melainkan subjek peribadatan yang harus dihormati dan dijaga keberlanjutannya.

Kementerian Agama RI mengambil inisiatif mengarusutamakan ekoteologi dalam berbagai program kebijakan strategisnya. Konsep moderasi beragama, yang selama ini ditekankan dalam aspek relasi antarumat beragama, mulai diperluas cakupannya pada dimensi ekologis.

Program Madrasah Hijau, Masjid Ramah Lingkungan, dan penguatan peran penyuluh agama sebagai agen perubahan ekologi, adalah langkah konkret untuk membumikan prinsip moderasi beragama dalam tindakan nyata. Namun demikian, gagasan ekoteologi masih sering dipahami sebagai agenda tambahan, bukan sebagai arus utama dakwah keagamaan.

Moderasi beragama, secara substansi, mengandung prinsip keseimbangan dan keadilan (wasathiyah). Dalam aspek hubungan manusia dengan alam, prinsip ini mengajarkan pengelolaan sumber daya secara bijak dan proporsional.

Jika radikalisme ideologi adalah manifestasi ekstremisme dalam cara berpikir, maka kerakusan dalam eksploitasi alam adalah bentuk ekstremisme dalam gaya hidup modern. Inilah ekstremisme ekologi yang belum banyak disadari oleh masyarakat beragama.

Ekoteologi perlu dipahami sebagai instrumen dakwah moderasi yang tidak hanya berada di aras wacana, tetapi menyapa realitas sosial. Dakwah moderasi beragama bukan sekadar seruan toleransi antarumat, tetapi ajakan untuk hidup ramah lingkungan, hemat energi, mengelola sampah, dan membangun gaya hidup yang selaras dengan kelestarian alam.

Bumi yang rusak adalah cermin gagalnya manusia memaknai mandat kekhalifahan yang disematkan oleh Tuhan. Agama, yang sejatinya hadir sebagai solusi peradaban, justru akan kehilangan relevansi jika hanya menjadi narasi ritual di ruang-ruang ibadah.

Peran Kementerian Agama menjadi strategis dalam konteks demikian. Masjid tidak boleh lagi berhenti sebagai pusat ibadah ritual, tetapi harus bergerak menjadi pusat edukasi ekologis. Madrasah dan pesantren dapat dijadikan laboratorium konservasi alam.

Nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan dalam bentuk teks, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Penyuluh agama harus mampu menjadi agen perubahan, yang tidak sekadar menyampaikan dakwah lisan, tetapi menggerakkan umat untuk menanam pohon, mengurangi plastik sekali pakai, dan membangun perilaku konsumtif yang lebih bijak, termasuk dalam ranah digital.

Era digital telah melahirkan dimensi baru dari polusi, yaitu sampah digital. File tak berguna yang menumpuk di server global, email tidak terhapus, hingga penggunaan data berlebihan, semuanya berkontribusi pada peningkatan jejak karbon digital.

Realitas ini menunjukkan bahwa dakwah ekoteologi tidak lagi cukup membahas aspek fisik ekosistem, tetapi juga harus menyentuh ranah budaya digital masyarakat modern.

Alquran telah menegaskan larangan keras terhadap kerusakan lingkungan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56). Hadis Nabi pun mengajarkan pentingnya menanam pohon bahkan di ambang kiamat.

Pesan-pesan ekologis dalam teks suci agama menunjukkan bahwa perhatian terhadap lingkungan bukan hal baru dalam khazanah Islam. Namun persoalannya hari ini adalah bagaimana teks tersebut dihadirkan secara kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kerangka demikian, ekoteologi harus dipahami bukan sebagai wacana elitis di ruang akademik, melainkan sebagai praktik sosial-keagamaan yang membumi. Dakwah tidak cukup berhenti pada lisan dan tulisan. Ia harus menjadi aksi kolektif umat di ranah nyata. Moderasi beragama menemukan makna sejatinya ketika mampu hadir dalam gerakan melestarikan alam sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta.

Krisis ekologi global hari ini adalah ujian nyata bagi relevansi agama dalam peradaban manusia. Jika agama gagal bicara di tengah kerusakan bumi, maka peradaban akan kehilangan salah satu kompas moral terpentingnya.

Agama tidak boleh hanya bicara di langit, melainkan harus hadir di bumi. Melalui ekoteologi, agama dapat menawarkan jalan tengah yang adil dan berkeadilan, sebagaimana esensi moderasi beragama itu sendiri.

Menjadikan ekoteologi sebagai wujud dakwah moderasi beragama yang membumi bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan peradaban. Di tengah bumi yang luka, agama harus turun tangan.

Bukan sekadar mengajarkan doa, tetapi menanam pohon. Bukan sekadar menyerukan zikir, tetapi menggerakkan aksi membersihkan sungai. Karena sejatinya, menjaga bumi adalah menjaga amanah Tuhan. Dan itulah bentuk dakwah moderasi yang paling nyata.

Ekoteologi merupakan panggilan darurat di tengah kondisi lingkungan global yang kian memprihatinkan. Sebagai wujud syukur atas kemerdekaan yang memasuki usia ke-80 tahun, saatnya kesadaran ekologis menjadi jalan bersama dalam memaknai dan mengisi kemerdekaan.

Menyelamatkan bumi adalah bentuk syukur yang paling nyata, agar kemerdekaan ini tidak hanya diwariskan kepada manusia hari ini, tetapi juga kepada generasi mendatang dan seluruh ciptaan.

*) Penulis adalah Wakil Rektor I UIN KHAS Jember.

Editor : Alvioniza
#madrasah #gaya hidup #Ekoteologi #Lingkungan