Selamat ‘Idul Fitri, Minal ‘Ãidīn wal Fāizīn

Radar Digital • Dipublikasikan Jumat, 12 April 2024 | 13:55 WIB
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA

Selamat ‘Idul Fitri, Minal ‘Ãidīn wal Fāizīn

Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.*

Tiada ungkapan yang paling popular hari-hari ini kecuali ungkapan “‘Idul Fitri” dan “Minal ‘Aidin wal Faizin”, karena kita memang berada dalam momentum “Hari Raya ‘Idul Fitri 1445 Hijriah”.

Suatu momentum yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat muslim khususnya, dan masyarakat di berbagai belahan dunia pada umumnya. Sejak beberapa hari sebelumnya berbagai kalangan sudah mempersiapkan acara-acara spesial menyongsong ‘Idul Fitri, di media massa sudah ramai dengan ucapan selamat, di media elektronik seperti radio dan televisi sudah sekian lama mendesain acara spesial, di jejaring sosialpun tidak kalah semaraknya, sehingga banyak handphone yang trouble sejak memasuki satu syawal, karena banyaknya pesan yang tersimpan dan diterima, ini semua menunjukkan bahwa ‘Idul Fitri benar-benar menjadi momentum istimewa yang ditunggu-tunggu semua kalangan.

Selain itu, banyak sekali ungkapan tentang ‘Idul Fitri yang digunakan akhir-akhir ini, seperti: ‘îdul fitri,‘id mubârak”, “ja’alanâllâh wa iyyâkum minal ‘âidîn wal fâizîn”, dan sebagainya. Namun ungkapan yang paling popular di kalangan masyarakat kita dalam menulis dan mengungkapkan ucapan selamat dan rasa syukur biasanya hanya mengatakan minal ‘âidîn wal fâizîn.

Ungkapan kegembiraan ini bukan lagi menjadi monopoli yang beragama Islam, karena non muslimpun fasih mengucapkannya meskipun tidak dijamin memahami makna yang sebenarnya, ungkapan kegembiraan ini seolah telah menjadi milik bersama warga dunia.

Mari kita telaah bersama makna di balik ucapan selamat  tentang ‘Idul Fitri ini.

Sebagai puncak berakhirnya pelaksanaan ibadah puasa, ‘Ĩdul Fitri tentu memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri. Secara kebahasaan (etimologi), kata ‘id dalam bahasa arab diambil dari akar kata ‘ain-wa-da, yang memiliki banyak arti, antara lain memiliki arti kembali atau kembali ke asal.

Pengertian ‘îdul fitri sebagai kembali ke asal adalah pengertian yang sangat relevan dengan makna yang akan dicapai dalam pelaksanaan ibadah puasa. Ibadah puasa merupakan sarana penyucian diri, media pendidikan yang sangat strategis, training pendidikan ssamawi, tentu saja apabila ibadah puasa dijalankan dengan penuh kesungguhan, ketulusan, dan hanya mengharap ridla Allah Swt. Sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw berkaitan dengan asal kejadian manusia.

Dikatakan dalam hadits Rasulullah Saw bahwa setiap anak yang lahir adalah suci.

Baca Juga: [EKSLUSIF] Megawati Hangestri Pertiwi Mudik ke Jember, Ini Cerita Cara Keluarga Motivasi Megatron Main di Korea (Jilid 2)

Penegasan yang berkenaan dengan kesucian bayi yang baru lahir juga dinyatakan dalam hadits lain yang menyatakan bahwa seorang bayi apabila meninggal, maka ia dijamin akan masuk surga.

Itulah gambaran kita jika berpuasa ramadlan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, jaminannya adalah jaminan kesucian dan surga.

Istilah Minal ‘Ăidîn wal Fâizîn,  adalah harapan dan do’a yang selalu kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai taulan pada saat ’idul fitri, setelah sebulan lamanya berpuasa.

Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada al-Qur’an untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata ‘âidîn. Namun dari segi bahasa,  minal ‘âidîn berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali”.  Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni kembali ke “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “keimanan”, atau “agama yang benar”.

Dari makna ini jelas, bahwa mereka yang didoakan dan diharapkan dengan ungkapan minal ‘âidîn adalah mereka yang benar-benar berpuasa, yang puasanya benar-benar didasari sepenuhnya dengan keimanan dan keikhlasan sehingga pantas didoakan  “semoga termasuk orang-orang yang kembali, minal ‘âidîn.

Setelah mengasah dan mengasuh jiwa (dengan berpuasa) selama sebulan, diharapkan setiap muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dan menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagaimana ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar.

Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena (menurut Rasulullah Saw) ad dîn al-muâmalah , yakni keserasian antar sesama manusia, lingkungan, dan alam.  

Sedang al fâizîn, diambil dari kata fawz yang berarti “keberuntungan”.  Apakah “keberuntungan” yang kita harapkan itu?. Di sini kita dapat merujuk kepada al-Qur’an, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, berulang. 

Bila kita telusuri al-Qur’an yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS. 4: 73) mengandung makna “pengampunan dan keridlaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi”. Sehingga wal fâizîn dapat dipahami dalam arti harapan dan do’a, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridla dari Allah Swt, sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya.

Dengan berpuasa sebulan lamanya, banyak pengaruh positif yang kita kembangkan dan kita rasakan, seperti, (1) berpuasa akan menjadikan kita sehat, ”shuumuu tashihhuu”, berpuasalah kamu agar kamu sehat, dawuh Nabi Muhammad Saw, (2) dengan kesehatan fisik, kesehatan akal dan kesehatan qalbu kita setelah mengalami proses pengasahan dan pendidikan selama sebulan, tentu akan memperkuat kepribadian kita, karena berpuasa akan menjadikan kita lebih baik, ”wa antashuumuu khairul lakum...”, firman Allah Swt dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, dan (3) kita merasakan sesuatu yang baru dalam kehidupan kita, rasanya kita menjadi semakin dekat dengan Allah dan dengan sesama, sehingga berpuasa memperkokoh hubungan kita secara vertikal dan horizontal sekaligus, sehingga selama berpuasa proses pembinaan dan pengembangan secara terpadu telah terjadi dan dampaknya terpancar pada saat idul fitri, wajah yang ceria, saling bersilaturrahim, seolah menjadi indikator bahwa kita sedang memperoleh kebahagiaan yang hakiki, kita sedang menggapai kesalihan individual dan sekaligus kesalihan sosial, semoga Allah Swt selalu memberi kesehatan dan kekuatan lahir batin bagi kita semua, Amin.

Oleh karena itu, di saat-saat momentum seperti sekarang, sangat penting untuk melakukan refleksi, apakah berpuasa ramadhan sebulan lamanya benar-benar telah berdampak positif bagi kita?.

Artinya, bagi aql kita, bagi qalbu kita, bagi perilaku kita, atau bagi kualitas kepribadian kita?. Apakah berpuasa ramadhan benar-benar telah berpengaruh bagi terciptanya rekonsiliasi hubungan dengan Allah dan dengan sesama?.

Jika masih belum, mungkin puasa kita belum sepenuhnya karena ”iymannan” dan ”ihtisaaban” karena Allah Swt. Dan, jika sudah, mudah-mudahan puasa ramadhan kita benar-benar  karena ”iymannan” dan ”ihtisaaban”, sehingga Allah Swt telah memberikan rahmatNya, memberikan ampunanNya, dan membebaskannya dari siksa neraka.

Sebagai pamungkas tulisan, marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan untuk saling memberi dan meminta maaf, dan saling mengungkapkan secara tulus “Selamat ‘Ĩdul Fitri, Minal ‘Ăidîn wal Fâizîn”.

Semoga kita dapat kembali menemukan jati diri kita, semoga kita benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Yang tidak kalah pentingnya, semoga pengalaman berpuasa sebulan lamanya semakin mendekatkan kita kepada Allah Swt dan kepada sesama, untuk memperoleh ampunan dan ridlaNya.

Dan, yang tidak kalah penting, semoga dengan berpuasa ramadhan akan menjadikan kita semua lebih baik di masa-masa yang akan datang. Ămîn. Wallahu a’lam.   

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember, Guru Besar UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur dan Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur.

Editor : Radar Digital
Radar Jember Halim opini