Puasa Memperkuat Hablun Minallah Hablun Minannas

Radar Digital • Dipublikasikan Jumat, 29 Maret 2024 | 21:12 WIB
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA

Puasa Memperkuat Hablun Minallah Hablun Minannas

Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.*

LEBIH setengah bulan ibadah puasa telah kita jalani dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, sehingga semakin jelas kita rasakan bahwa puasa telah memengaruhi mindset, sikap dan perilaku kita. Bukan hanya dalam ranah kehidupan pribadi, tetapi sekaligus ranah publik. Bahkan telah menyentuh ke semua sisi kehidupan manusia, tak terkecuali perihal hablun minallah dan hablun minannas. Tulisan berikut ingin update salah satu hikmah puasa dalam memperkuat hablun minallah dan hablun minannas.

Setiap ibadah yang diperintahkan Allah SWT adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal yaitu hubungan kita dengan Allah (hablun min Allah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan kita dengan sesama makhluk Allah, khususnya manusia (hablun min an-nas). Hubungan ini merupakan bentuk komunikasi yang bersifat eksternal antara manusia dengan di luar dirinya. Namun, ada satu bentuk komunikasi yang sering luput dari perhatian kita, yaitu hubungan dengan diri sendiri (hablun min an-nafs).

Merajut hubungan dengan Allah dengan sesama dan dengan diri sendiri terasa semakin sering diabaikan dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan iklim mutakhir. Merajut hubungan dengan Allah, misalnya, kita sering terjebak pada yang bersifat rutinitas daripada bentuk ketundukan kepada-Nya.

Islam bukanlah agama yang memerintahkan untuk hanya beribadah saja kepada Allah tanpa memikirkan kehidupan dunia. Begitu pun sebaliknya, tidak juga hanya mengejar kehidupan dunia saja dengan melalaikan akhirat. Tetapi, setiap ibadah itu harus melahirkan keseimbangan antara dunia dengan akhirat. Salat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam yang mendoakan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Artinya, dalam bacaan salat pun ada hubungan antara Allah dengan sesama manusia.

Dalam Islam, salah satu media merajut hubungan dengan Allah adalah salat. Jika kita melakukan refleksi, akan bisa memahami bahwa ketika memulai salat kita awali dengan bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Dan, ketika mengakhiri salat, kita secara sadar menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucap salam, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang bahwa salat akan berimplikasi terciptanya kedamaian.

Alangkah dahsyatnya jika kita melaksanakan salat berjamaah, tentu sekat-sekat primordial, sekat-sekat partai politik, sekat-sekat ormas keagamaan, dan berbagai hambatan psikologis lain akan luntur disinari dengan statement kita, “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, semua kupersembahkan hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin”.

Dalam hadis banyak dikemukakan bahwa Allah senantiasa menunggu hamba-Nya yang mau berkomunikasi dengan-Nya. Pintu maaf-Nya selalu terbuka, mengingat Allah adalah Maha Mendengar, Maha Penerima Taubat, dan Pemberi Kedamaian. Ketika hati seorang mukmin telah dipenuhi rasa cinta dan rindu kepada Allah, maka panggilan salat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, laiknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya, atau seorang ibu yang merindukan untuk bersua anak-anaknya yang berada jauh darinya.

Betapa sejuk dan ceria ketika menjalani salat. Semua kegiatan ditinggalkan karena tidak ada yang lebih utama ketimbang menghadap Allah SWT. Jika kita salat dan merasakan perasaan rindu dan cinta pada Allah, maka kita akan betah berlama-lama, merasakan aliran energi cinta dan damai dari-Nya.

Artinya, hubungan dengan sesama manusia pun akan baik, karena secara empiris, tidak sedikit komunikasi dengan sesama yang akhirnya hanya menorehkan noda, luka, dan petaka. Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirinya saja sulit, maka akan lebih sulit lagi berkomunikasi dengan diri sendiri, ibarat melihat tengkuk sendiri, “begitu dekat, tetapi begitu jauh dan sulitnya untuk dilihat dan ditelisik”.

Akibatnya, area untuk melakukan objektifitas kepada objek komunikasi, yaitu diri sendiri, menjadi sangat sempit. Karenanya, bukan hal aneh ketika terjadi gejolak  dalam diri sendiri, ada kecenderungan untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain. Maka, ada pepatah “bila ingin tahu tentang pribadi seseorang yang sesungguhnya, tanyakanlah kepada kawannya”. Ini menunjukkan betapa sulitnya seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif.

Mengenal diri sendiri sangat penting untuk membangun hubungan dengan manusia dan Allah. Salah satu bentuk mengenali diri sendiri adalah mengenal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya.

Akhirnya, sebagai pamungkas, kita perlu melakukan refleksi meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Kita bisa mengambil ‘ibrah tentang salat: ketika memulai salat kita bertakbir Allahu Akbar dan menyatakan dengan penuh khusyuk, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, kupersembahkan untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Dan, ketika kita mengakhiri salat, kita menyatakan komitmen kedamaian dengan mengucapkan salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini perlambang bahwa salat kita berimplikasi terhadap terciptanya kedamaian bagi sesama, apa pun partainya, apa pun ormasnya, dan apa pun paham keagamaannya.

Nah, kini saatnya kita memperkuat kembali hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri, dan dengan sesama. Karena itulah jalan bagi kita untuk menjalani kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur, Guru Besar UIN KHAS Jember, dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember

Editor : Radar Digital
opini