Menakar Gaya “Komunikasi Bisnis” Caleg untuk Menggaet Pemuda
Oleh: Dicky Andriyanto
KOMUNIKASI merupakan aktivitas yang sering dipraktikkan individu untuk menyampaikan suatu pesan penting kepada individu lainnya dengan harapan pesan tersebut dapat diterima, dipahami, dan diikuti sesuai keinginan yang menyampaikan.
Sebagai salah satu kegiatan esensial yang dilakukan antar individu, maka berbagai macam cara komunikasi terus mengalami perkembangan setiap waktu.
Komunikasi tidak hanya dilakukan dengan cara berbicara atau melalui pesan tertulis saja, akan tetapi sudah merambah pada penggunaan media.
Tidak hanya caranya saja yang beragam, gaya berkomunikasi juga memiliki berbagai bentuk antara lain menggunakan kata-kata khusus, slogan, akronim, atau kalimat singkat yang mudah diingat.
Pada konteks ekonomi dan bisnis, bentuk dan gaya komunikasi inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis untuk memperoleh keuntungan maksimum.
Dalam studi ekonomi, komunikasi penting untuk diperhatikan karena berkaitan langsung membangun hubungan baik dengan para konsumen.
Laudon dan Laudon (2018) menjelaskan dalam konsep Customer Relationship Management (CRM) bahwa komunikasi patut diperhitungkan oleh pelaku bisnis demi menjaga kepercayaan konsumen, sehingga kepuasan dan kesetiaan pelanggan memilih produknya tetap terjaga dalam jangka waktu lama. Maka tidak heran jika perusahaan atau pelaku bisnis akan menjaga komunikasi dengan berbagai cara seperti mengirimkan pesan berupa promo harga, new arrival (barang baru datang), dan lainnya supaya pelanggan setia menggunakan produk mereka.
Teori komunikasi dalam konteks ekonomi telah berkembang dan diaplikasikan pada bidang lain seperti di lingkup politik, khususnya pemilihan calon legislatif (caleg).
Para caleg mulai melakukan “komunikasi bisnis” sejak periode awal kampanye, bahkan jauh sebelum masa kampanye ditentukan mereka sudah mulai memperkenalkan diri di berbagai sudut kabupaten/kota sampai dengan desa.
Komunikasi bisnis ala caleg disini memiliki tujuan yang sama seperti teori CRM, yaitu menginginkan kepercayaan dan suara masyarakat yang maksimum supaya memilih dia (caleg) untuk masa pemilihan yang sebentar lagi akan diselenggarakan.
Jika mengamati gaya komunikasi sebagian caleg terdapat dua macam yaitu mendatangi langsung masyarakat dalam sebuah forum untuk menyampaikan visi-misinya dan menggunakan media yang memiliki macam-macam isi pesan seperti: (1) menggunakan kalimat singkat berupa ajakan memilih dirinya, (2) menggunakan kalimat “unik” yang mudah dihafal, (3) menyertakan janji atau menjelaskan kinerja yang telah direalisasikan, (4) memperbesar foto yang sangat menarik supaya lebih dikenali, dan (5) menggunakan nama keluarga untuk mendongkrak elektabilitasnya.
Semua cara komunikasi dilakukan untuk mendulang suara dari berbagai lapisan masyarakat.
Menariknya adalah dari lapisan masyarakat tersebut terdapat lapisan yang dikenal sebagai kaum milenial dan Gen Z, di mana posisi mereka memiliki porsi suara cukup besar pada pemilihan 2024.
Kompetisi pemilihan caleg di era Gen Z dan milenial telah dipersiapkan oleh seluruh parpol dengan mengusung para kader-kadernya yang tergolong usia muda dan berharap para pemilih milenial serta Gen Z akan condong memberikan suaranya kepada kader mudanya, meskipun beberapa kader yang sudah senior masih diikutsertakan kembali untuk menarik suara kelompok tua.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengungkap bila 33,6 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) di tahun 2024 adalah generasi milenial (lahir pada tahun 1984-1994) dan 22,85 persen dari total DPT adalah generasi Z/Gen Z (lahir pada tahun 1995-200an).
Apabila ditotal, maka ada sekitar 55 persen suara dari seluruh DPT yang dapat diperebutkan oleh seluruh partai untuk mengantar kadernya duduk sebagai wakil rakyat.
Perlu diketahui, bahwa era milenial dan Gen Z yang awalnya memiliki sikap apatis pada pemilu, mulai menunjukkan partisipasinya karena pengaruh komunikasi dari berbagai media yang memberitakan perkembangan politik yang akhir-akhir ini semakin masif.
Mereka mulai peka terhadap isu-isu yang saat ini menjadi polemik seperti stunting, ketahanan pangan, kemiskinan, dan lainnya.
Disamping itu, mereka akan mencari rekam jejak para caleg sebagai bentuk rasa keingintahuannya supaya suara yang akan diberikan memang ditujukan kepada orang yang tepat dan kredibel.
Jika sebagian caleg masih mengikutsertakan nama keluarga untuk mengambil simpati para pemilih, nampaknya tidak akan terlalu berpengaruh bagi pemilih di era 4.0 saat ini yang lebih realistis.
Lalu apakah gaya komunikasi para caleg selama ini mampu menggaet suara publik, terkhusus kaum milenial dan Gen Z?
Pilihan paling baik dan utama adalah caleg dapat berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat, sehingga publik dapat melihat dan menilai langsung bagaimana program caleg tersebut.
Cara komunikasi mereka untuk memperkenalkan visi-misi dan menjawab setiap pertanyaan juga akan dinilai oleh publik.
Sebagaimana kita adalah pembeli akan jauh lebih nyaman apabila bisa berbicara secara langsung dengan penjual, maka konsep komunikasi bisnis langsung bisa diaplikasikan oleh caleg. Jenis komunikasi ini akan memberikan kesan yang cukup baik karena masyarakat akan lebih mudah mengingat caleg dibanding sekedar mendirikan baliho. Para kaum milenial dan Gen Z menjadi leluasa untuk melakukan eksplorasi program-program yang ditawarkan oleh para caleg.
Apabila menakar gaya komunikasi secara tidak langsung dengan menggunakan media baliho di era saat ini, sepertinya tidak cukup untuk menarik suara Gen Z dan milenial.
Gaya “komunikasi bisnis” tersebut seakan sudah bukan zamannya lagi jika terus menonjolkan baliho. Gen Z dan milenial membutuhkan “komunikasi bisnis” yang berbeda, mampu berinteraksi secara langsung, dan mudah diakses setiap saat sesuai era 4.0 saat ini. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, komunikasi secara langsung lebih efektif dan membutuhkan strategi khusus supaya bisa berinteraksi langsung walaupun dalam posisi jauh.
Maka media sosial menjadi pilihan utama saat ini untuk dimanfaatkan berkomunikasi secara efektif dan efisien. Riset Bradshaw et al., (2019) tentang media sosial untuk berpolitik menjelaskan selama pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 2016, banyak platform media sosial muncul sebagai media yang digunakan untuk berkampanye dan memiliki dampak cukup signifikan bagi publik.
Cara tersebut merupakan bentuk “komunikasi bisnis” yang sangat penting dan kekinian untuk mendongkrak elektoral di mata pemilih milenial dan Gen Z.
Secara tidak langsung pemanfaatan media maya untuk personal branding lebih efisien dan murah, sehingga bisa meminimalisir pengeluaran kampanye yang selama ini dikenal menghabiskan banyak dana.
Terlepas dari bagaimana cara komunikasi bisnis yang dilakukan oleh caleg, penyampaian gagasan dan tindakan apa yang telah dilakukan kepada masyarakat perlu ditekankan karena pemilih saat ini lebih rasional dengan melihat rekam jejak calon yang akan dipilihnya.
Terutama para caleg muda tidak cukup mem-posting foto menarik atau sekedar mengikutsertakan nama besar keluarga, tapi apa yang telah mereka lakukan kepada masyarakat serta inovasi apa yang ditawarkan menjadi nilai tambah dan penting untuk diketahui para milenial dan Gen Z dalam meyakinkan mereka untuk bijak memberikan suara.
*) Penulis adalah Dosen Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Universitas Airlangga.
Editor : Radar Digital