Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Urgensi Pengembangan Konsep Geonursing di Ijen Geopark

Radar Digital • Jumat, 26 Januari 2024 | 22:40 WIB
Hamidah Retno Wardani
Hamidah Retno Wardani

COVID-19 merupakan penyakit menular yang juga berdampak pada industry pariwisata. Akibat pandemic Covid-19 jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2020. Bulan kedua tahun 2023, kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia mencapai 701,93 ribu kunjungan. Meskipun mengalami penurunan 4,62 persen dibandingkan Januari 2023, namun kebangkitan sektor pariwisata semakin terasa. Hal ini seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19 dan pencabutan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level I di seluruh tanah air. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara meningkat sebesar 567,27 persen dibandingkan bulan Februari tahun lalu. Selain itu, Indonesia memiliki beberapa kebijakan kesehatan pariwisata di Indonesia didasarkan pada berbagai regulasi kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Semua kebijakan kesehatan pariwisata ini diterapkan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan wisatawan dan masyarakat setempat serta untuk meminimalkan risiko penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Upaya untuk meningkatkan kesehatan wisata akan membutuhkan peran dari semua aspek pelayanan kesehatan di bidang kedokteran, keperawatan, gizi kesehatan, lingkungan dan kesehatan Masyarakat. Khususnya dari bidang keperawatan, penelitian yang dilakukan oleh Swedarma, Yanti, dan Sulistiowati (2016) menemukan bahwa dari perspektif pendidikan, dan kognitif perawat mengacu pada pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis dan evaluasi. Aspek kognitif itu sendiri lebih dominan pada bagaimana perawat menguasai pelayanan keperawatan baik kepada wisatawan, pelaku wisata (guide) dan masyarakat. pelaku pariwisata (guide) dan masyarakat. Begitu juga dengan aspek psikomotorik meliputi keterampilan fisik perawat dalam melakukan atau menyelesaikan sesuatu. Selanjutnya usia yang lebih produktif berpengaruh pada pemberian pelayanan keperawatan. Kondisi tersebut membuat seorang perawat memiliki banyak energi dan motivasi dalam melakukan pelayanan keperawatan. Perawat cukup baik dalam memberikan pendidikan kesehatan terutama pada masyarakat sebagai tujuan wisata sehingga proses pemberdayaan masyarakat akan terwujud. Memperluas konsep pengobatan wisata secara tidak langsung sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah tujuan wisata. Kesehatan merupakan indikator yang sangat penting baik bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke sana.

Dalam hal ini perhatian juga tak luput ditujukan pada daerah wisata Ijen Geopark Bondowoso yang menjadi wisata ikonik di Kabupaten Bondowoso sehingga Pemerintah berupaya untuk mengembangkan serta memperkenalkan Ijen Geopark di kancah Internasional. Sebagai bentuk keseriusan pengembangan Ijen Geopark ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Kantor Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bondowoso menyiapkan tim teknis yang terdiri atas PHIG (Pengurus Harian Ijen Geopark), Penjaga Situs, dan Pengelola Situs yang memiliki tugas masing-masing untuk mengatur, menjaga, serta Mengelola Objek Wisata Ijen Geopark di Wilayah Bondowoso. Namun, dalam realitasnya pengembangan objek pariwisata di suatu wilayah memerlukan proses panjang karena sejak awal berbagai hambatan akan dihadapi sehingga pelaksanaannya tidak berjalan lancar sesuai harapan. Hambatan itu dipengaruhi berbagai faktor yang secara umum, dapat dipilah dan dibedakan atas faktor internal dan faktor eksternal seperti dana, sarana, prasarana, dan sebagainya. Salah satu akibat dampak pandemi Covid-19.

Jumlah wisatawan di daerah wisata Ijen pada tahun 2021 mengalami penurunan yang signifikan akibat pandemi Covid-19. Solusi yang dibutuhkan tidak hanya dalam pengembangan potensi ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk namun inovasi dan pengembangan dalam tatalaksana Covid-19 di daerah wisata saat masa pandemic melalui konsep geonursing sangat dibutuhkan. Model tata laksana geonursing ini dapat dikembangkan dalam penerapan konsep keperawatan kesehatan pariwisata yaitu bentuk pelayanan keperawatan yang menekankan pada status kesehatan wisatawan secara holistic dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, social, dan spiritual) yang ditujukan pada wisatawan baik individu, keluarga dan kelompok serta masyarakat yang sedang melakukan perjalanan dengan pendekatan proses keperawatan.

Menurut Wirawan (2022) Kesehatan pariwisata fokus pada tiga unsur yaitu kondisi kesehatan wisatawan sebelum melakukan perjalanan, potensi risiko akibat aktivitas masyarakat dan lingkungan yang memfasilitasi pergerakan wisatawan, implikasi bagi kesehatan atau akibat-akibat pergerakan wisatawan dan aktivitas masyarakat yang memfasilitasinya terhadap kehidupan masyarakat secara luas. Asuhan keperawatan yang diberikan perawat professional juga bisa kita berikan kepada wisatawan saat berwisata. Sehingga pelayanan asuhan keperawatan tidak hanya dilakukan di rumah sakit, klinik, puskesmas, perusahan-perusahaan akan tetapi perawat professional bisa juga ditempatkan di daerah wisata dalam rangka memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang komprehensif pada wisatawan sehingga wisatawan dapat mempertahankan kesehatan, merasakan kenyamanan dan keamanan. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut mencakup Upaya promosi kesehatan di daerah wisata, Surveilans epidemiologi penyakit terkait wisata, Peningkatan kapasitas untuk deteksi penyakit, Peningkatan kapasitas layanan kesehatan, keamanan pangan local, Kesehatan lingkungan daerah wisata, kesehatan dan keselamatan kerja di industri pariwisata.

Maka pengembangan konsep geonursing melalui pemberian asuhan keperawatan dengan ruang lingkup Geopark (aspek warisan geologi (geoheritage), keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity), konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan)) yang berfokus pada klien (individu, keluarga, kelompok, dan komunitas) yang holistik (biopsikososiokultural–spiritual) dan komprehensif (promotif, prefentif, kuratif, dan rehabilitatif) dapat menjadi solusi utamanya di masa pasca pandemi Covid-19 ini di daerah wisata Ijen Geopark. Konsep geonursing ini merupakan pengembangan metode pemberian asuhan keperawatan yang diberikan khusus pada wisatawan. Dibutuhkan kolaborasi inter-professional dan kolaborasi lintas sector dengan sector pariwisata, termasuk di antaranya pemerintah dan industry pariwisata, yang akan berperan besar dalam terwujudnya upaya kesehatan pariwisata. Jika hal ini bisa berjalan dengan baik, visi untuk mewujudkan pariwisata sehat bisa mejadi sebuah kenyataan utamanya di daerah wisata Ijen Geopark Kabupaten Bondowoso di masa pasca pandemic Covid-19.

*) Penulis adalah dosen Prodi D-3 Keperawatan Universitas Bondowoso.

 

 

 

 

Editor : Radar Digital
#Ijen Geopark