Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Memotret Pekerja Awe-Awe di Gumitir

Radar Digital • Jumat, 3 November 2023 | 20:40 WIB
Sukidin
Sukidin

AKHIR pekan kemarin kami sekeluarga menyempatkan diri pulang kampung ke Banyuwangi. Ketika melewati lereng Gunung Gumitir, kami menemukan adanya pekerja awe-awe. Pekerja awe-awe memiliki peran membantu pengendara mobil atau motor ketika berada di tikungan. Kondisi pekerja awe-awe bak jamur tumbuh di musim hujan. Sekarang mereka tidak hanya berada di posisi tikungan, tapi sudah berada di hampir sepanjang jalan lereng Gumitir. Peran mereka tidak lagi membantu para pengendara yang melintas, namun sudah bergeser menjadi peminta-minta atau pengemis jalanan. Fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan semua pihak. Rasanya makin miris dan hati terasa teriris melihat saudara kita masih banyak yang menjadi pengemis. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa mereka rela menjadi pekerja awe-awe dan bagaimana solusi untuk mengatasi problem yang dialami oleh pekerja awe-awe. Dalam tulisan sederhana ini akan mengurai benang kusut tentang pekerja awe-awe di lereng Gumitir.

Untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang fenomena tersebut, hal pertama yang harus diketahui adalah motif mereka menjadi pekerja awe-awe. Dari hasil beberapa kajian menunjukkan bahwa motif mereka menjadi pekerja awe-awe ada dua, yaitu motif kondisi ekonomi keluarga dan motif lingkungan sosial. Motif pertama yaitu kondisi ekonomi keluarga menjadi alasan bagi mayoritas pekerja awe-awe di sepanjang lereng Gumitir. Sebagian besar pekerjaan utama mereka adalah sebagai buruh lepas di perkebunan atau bekerja serabutan. Dari pekerjaan ini upah yang diterima sangat kecil. Untuk kelangsungan bertahan hidup yang serba kekurangan tersebut, maka mereka mencoba keberuntungan dengan melakukan aktivitas sampingan yaitu sebagai pekerja awe-awe.

Motif yang kedua adalah motif lingkungan sosial, yang di dalamnya adalah adanya pengaruh dari tetangga, teman atau saudara yang sudah sebagai pekerja awe-awe lebih dulu. Sedangkan bagi pekerja awe-awe anak-anak, lebih banyak dipengaruhi oleh teman sebayanya. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa anak biasanya sangat akrab bergaul dengan teman sebaya untuk bermain. Teman sebaya sebagai tempat bersosialisasi yang paling efektif dan menyenangkan bagi anak. . Pengaruh tersebut awalnya berupa ajakan untuk bermain di tempat beberapa pekerja awe-awe menjalani rutinitasnya di jalanan, lantas lama-kelamaan mereka turut serta menjadi pekerja awe-awe. Ada pula orang tua yang melakukan pemaksaan pada anak agar berperan sebagai pekerja awe-awe. Anak disuruh orang tahu untuk membantu ekonomi keluarga dengan cara sebagai pekerja awe-awe. Orang tua berpandangan bahwa anak memiliki nilai ekonomi bagi keluarga. Jadi memperkerjakan anak agar memperoleh penghasilan merupakan hal yang lumrah pada masyarakat miskin.

Pekerja awe-awe telah menghadirkan rasa empati dan belas kasihan. Mereka berani berdiri di jalan dan meminta bantuan untuk sekedar dapat memenuhi kebutuhan makan. Mereka harus berjuang menghadapi kesulitan hidup setiap hari, namun mereka bertahan dan tetap tegar di tengah keterbatasan ekonomi. Hal ini menjadi pengingat bahwa rintangan pasti akan muncul dalam hidup, dan kita harus memiliki ketabahan dan semangat untuk mengatasinya. Mereka sebenarnya ingin hidup layak seperti yang lainnya, tetapi keterbatasan sumber daya dan keterampilan yang membuatnya seolah mengalami jalan buntu untuk memperbaiki keadaan.

Para pekerja awe-awe membutuhkan kehadiran para pengambil kebijakan dan para pihak yang memiliki keberpihakan pada masyarakat miskin. Mereka perlu diberi bekal keterampilan dan kecakapan hidup. Di sekitar lereng Gumitir perlu didirikan bengkel Latihan Kerja dan Kewirausahaan. Para pemuda yang masih menganggur didata, kemudian diberi pendidikan keterampilan sesuai dengan minat dan bakatnya. Berbekal keterampilan tersebut, mereka diharapkan mampu mandiri, bisa menangkap peluang kerja dan berdaya mengatasi kehidupan ekonominya.

Jangan dibiarkan mereka mengajari anak dan generasi muda bermental miskin. Pengasuhan yang benar terhadap anak adalah fondasi dasar bagi kehidupannya. Pengasuh yang baik akan membentuk kepribadian dan perilaku seorang anak. Orang tua bertanggung jawab untuk memberikan moral, prinsip, dan pengetahuan yang diperlukan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif. Fenomena pekerja awe-awe yang dilakukan oleh anak-anak, yang identik dengan pengemis, bukan merupakan praktik kehidupan yang diharapkan. Anak-anak yang merasakan perhatian dan cinta orang tua mereka cenderung memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Sebaliknya, anak-anak yang tidak menerima cukup perhatian dan perhatian mungkin akan mencari penggantinya di jalanan.

Masa depan yang lebih baik dapat dicapai melalui peningkatan pola pengasuhan. Orang tua yang mendorong anak-anak mereka untuk belajar, berkembang, dan memiliki prinsip moral yang kuat dapat membantu mencegah mereka terjebak dalam gaya hidup yang berbahaya, seperti menjadi pengemis awe-awe. Selain peran orang tua dalam pengasuhan, faktor-faktor eksternal juga dapat menyebabkan anak-anak menjadi pengemis. Gangguan sosial, eksploitasi oleh orang dewasa, dan kekerasan dalam rumah tangga dapat membuat anak-anak meninggalkan rumah dan hidup di jalanan.

        Pemerintah daerah dan pihak lain yang terkait perlu melakukan beberapa upaya untuk menangani budaya pengemis awe-awe. Di sekitar lereng Gumitir perlu dihadirkan program Pusat Penyelamatan Anak. Pusat penyelamatan anak berperan memberikan perlindungan dan rehabilitasi bagi anak-anak jalanan. Untuk membantu anak-anak yang tinggal di jalanan agar mendapatkan pendidikan, program-program alternatif penyelamatan anak perlu dioptimalkan perannya. Gagasan adanya kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi sosial yang lain juga diperlukan. Program ini berkontribusi memberikan layanan sosial, pendidikan dan kesehatan kepada anak-anak jalanan. Melalui berbagai program aksi tersebut diharapkan problem pekerja awe-awe dapat diatasi dan masalah anak jalanan dapat diurai solusinya. Selamat tinggal budaya meminta, dan selamat datang budaya memberi.

 

*) Penulis adalah Korprodi Program Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

 

Editor : Radar Digital
#Gumitir #Awe-Awe