Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Refleksi 95 Tahun Sumpah Pemuda bagi Generasi Milenial

Radar Digital • Selasa, 31 Oktober 2023 | 21:20 WIB

“Banyak produk pers yang dihasilkan pada tahun politik seperti saat ini, dapat dilihat dari siapa pemiliknya.” DARIS WIBISONO SETIAWAN Ombudsman Jawa Pos Radar Ijen
“Banyak produk pers yang dihasilkan pada tahun politik seperti saat ini, dapat dilihat dari siapa pemiliknya.” DARIS WIBISONO SETIAWAN Ombudsman Jawa Pos Radar Ijen

“Sejarah bangsa adalah sejarahnya kaum muda, jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa” (Pramoedya Ananta Toer). “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya Semeru akan tercabut dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, maka akan kugoncangkan dunia” (Bung Karno). Pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan Founding Fathers Bangsa Indonesia Bung Karno tersebut sungguhlah sangat tepat untuk kita jadikan daya dorong menggali lebih jauh nilai-nilai sumpah pemuda, terlebih pentingnya bagi generasi milenial. Faktanya, kedahsyatan para pemuda 95 tahun yang lalu dengan penuh keterbatasannya telah mampu menciptakan karya besar mendunia dan menjadi pembuka pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Sejarah juga mencatat bagaimana kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah terjadi tanpa adanya peran pemuda dengan tragedi Rengasdengklok. Selanjutnya, bagaimana semangat resolusi jihad para santri yang melebur bersama arek-arek Surabaya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia di Surabaya. Hebatnya, mampu mencetak sejarah dunia dengan terbunuhnya dua jenderal Sekutu, yang konon pasukan Sekutu dengan garda terdepan Inggris selalu menjadi jawara perang. Tidak hanya itu, pemuda dengan idealismenya yang belum mati rasa itu menjadi pendorong lahirnya Orde Baru dan Orde Reformasi.

                Tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia bagaimana para pemuda yang tergabung dalam Tri Koro Dharmo, Jong-Islamieten Bond, Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees Verbond, dan organisasi lainnya dari Sabang sampai Merauke. Hadirnya mereka pada kongres pemuda di Jakarta dengan segala keterbatasannya pada saat itu, terlebih soal teknologi informasi dan transportasi sungguh menggambarkan dahsyatnya nilai karakter pemuda saat itu.

                Sejarah dengan bangga setidaknya mencatat dua hal fenomenal yang terjadi pada kongres pemuda tersebut. Yang pertama adalah rangkaian kata yang terangkai menjadi kalimat sumpah pemuda. Kedua, dalam kongres pemuda tersebut juga disosialisasikan dan dinyanyikan perdana lagu Indonesia Raya melalui alunan biola yang dimainkan oleh WR. Supratman, selaku pencipta lagunya. Menyanyikan lagu Indonesia Raya pada 17 tahun sebelum Indonesia merdeka tentunya adalah nyali pemuda yang luar biasa. Dari peristiwa tersebut jelas mewariskan nilai-nilai karakter yang dipraktikkan langsung oleh para pemuda antara lain; cinta tanah air, semangat kebangsaan, rela berkorban, nilai persatuan, dan nilai toleransi.

                Zaman terus bergerak dan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Derasnya arus globalisasi yang dibarengi dengan dahsyatnya perkembangan teknologi menghadirkan segala beda. Dulu para pemuda angkat senjata melawan penjajah merebut dan mempertahankan kemerdekaan, pemuda hari melawan bangsanya sendiri yang tak terlihat nyata. Senjata pun berbeda, dari bambu runcing menjadi gawai untuk eksistensi diri. Pemuda dulu sibuk mengorganisasi diri dan sekencang-kencangnya teriak merdeka, hari ini mereka terorganisasi pada dunia maya dan sibuk “konser” di sosial medianya.

                Ironisnya, generasi milenial yang terjebak dalam organisasi dunia maya itu entitasnya sebagai makhluk sosial semakin terkikis. Mereka menjadi generasi layar sentuh penikmat bumi datar yang apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat sekitarnya. Impian Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia 2045 dengan bonus demografinya akan menjadi fatamorgana pastinya jika kuantitas populasi generasi milenial yang melimpah ini terkutuk menjadi budak teknologi dengan tergerusnya nilai-nilai karakternya. Realitas sosial ini sudah menjadi menu harian kita bersama, di mana generasi milenial menjadi generasi sumbu pendek yang mudah tersulut hingga terpampang bagaimana banyaknya kekerasan yang terjadi sebagai wujud nyata ketidakmampuan generasi milenial melakukan problem solving dengan arif dan bijaksana. Sebaliknya, selaras dengan sifat teknologi, generasi milenial selalu menggunakan cara-cara instan untuk mewujudkan ambisinya. Lantas, bagaimana generasi milenial seharusnya?

                Generasi milenial yang sangat lekat dengan teknologi sejatinya adalah energi besar penggerak perubahan. Tentunya dengan cerdas memanfaatkan kemudahan teknologi untuk terus menggali potensi di lingkungan sekitarnya sehingga dapat memberikan kontribusi langsung bagi kemajuan daerahnya dan selanjutnya pasti berpengaruh besar bagi Bangsa Indonesia. Para generasi milenial bisa berkolaborasi menjadi garda terdepan menginisiasi desa cerdas, desa yang mampu mengoptimalkan potensi sumber dayanya untuk meningkatkan kualitas hidup dengan penggunaan teknologi. Wujud nyatanya tentu saja dapat dilihat dari peningkatan kualitas pada berbagai bidang seperti; pelayanan publik, pertanian, kesehatan, pendidikan, UMKM, dan berbagai bidang lainnya di pedesaan. Jika fase ini terwujud, maka sejatinya generasi milenial tersebut adalah perwujudan generasi muda era kolonial yang memiliki kobaran api cinta tanah air (nasionalisme).

                Kecepatan generasi milenial untuk beradaptasi dengan teknologi tentunya berpotensi pada terciptanya peluang pemanfaatan teknologi untuk produktivitas. Laksana pisau bermata dua, satu matanya bisa membunuhmu dan sisi satunya bisa membawamu sehebat keinginanmu. Harapannya, munculnya profesi-profesi baru karena dampak teknologi bisa dimanfaatkan oleh para generasi milenial. Adapun profesi baru tersebut seperti; youtuber, tiktoker’s, food blogger, selebgram, web developer, social media specialist, digital marketer, app developer, content writer, video creator, graphic designer, data analyst, affiliate account manager, dan masih banyak yang lainnya. Pendek kata, jangan hanya jadi followers, tapi jadilah trendsetter

Akhirnya, harus menjadi kesadaran bersama tentang pentingnya melakukan refleksi Sumpah Pemuda bagi kehidupan seorang pemuda baik di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Seperti tergambar di atas bahwa detik ini permasalahan tentang lunturnya karakter pemuda sedang marak terjadi dan hal tersebut dipicu karena arus globalisasi yang semakin pesat, namun tidak diimbangi dengan penanaman karakter pada seorang individu melalui pendidikan yang berkualitas. Pendek kata, gencarnya ilmu teknologi (IT) harus dibarengi dengan kualitas iman taqwa (IT) sebagai benteng baja generasi emas kita. Maka dari itu, ayo generasi milenial mengoptimalkan potensi diri dan berkolaborasi membangun negeri menuju Indonesia Emas 2045.

 

*) Penulis adalah Kepala SMKN 1 Klabang-Bondowoso, Seger Waras (Sekolah Gratis Kwalitas Teratas).

               

Editor : Radar Digital
#refleksi #sumpah pemuda