Di tengah gemuruh perubahan iklim global yang semakin terasa, kita berdiri di persimpangan penting. Suhu bumi telah mengalami peningkatan signifikan selama beberapa dekade terakhir. Peningkatan suhu permukaan bumi adalah salah satu indikator utama dari perubahan iklim global yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Peningkatan suhu ini dapat memiliki dampak serius pada ekosistem, cuaca, dan kehidupan manusia, sehingga menjadi perhatian serius dalam upaya untuk mengatasi perubahan iklim.
Badai ekologi melanda bumi, mengancam ekosistem alamiah yang telah bertahan selama berabad-abad dan menghantui ekonomi dunia. Namun, sebaliknya, kita juga memiliki peluang untuk mengubah nasib kita. Inilah saatnya untuk meniti rantai karbon dan koin, untuk menyelamatkan ekonomi kita dalam badai ekologi. Perubahan iklim telah membawa tantangan serius bagi masyarakat global. Gelombang panas yang mematikan, kebakaran hutan yang meluas, banjir dahsyat, dan cuaca ekstrem lainnya semakin sering terjadi. Dampak ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global.
Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi sangat luas. Sektor pertanian dan pangan, misalnya, berisiko menghadapi penurunan produksi dan meningkatnya tekanan pada rantai pasokan pangan. Kenaikan permukaan air laut mengancam kota-kota pesisir dan infrastruktur penting. Bencana alam yang disebabkan oleh iklim dapat merusak properti, menyebabkan kerugian aset, dan membebani anggaran pemerintah. Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada stabilitas keuangan global. Risiko yang terkait dengan perubahan iklim telah memicu ketidakpastian di pasar finansial, yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Namun, dalam badai ekologi ini, kita juga memiliki peluang untuk menyelamatkan ekonomi kita. Ekologi dan ekonomi bukanlah dua dunia yang terpisah; mereka saling terkait dan berdampak satu sama lain. Keseimbangan ekologi adalah fondasi keberlanjutan ekonomi kita. Ekosistem yang sehat menyediakan layanan ekosistem yang penting untuk kehidupan manusia. Hutan, misalnya, berkontribusi pada siklus air, mengurangi risiko banjir, dan memberikan sumber daya kayu yang berharga. Lautan mengatur iklim, menghasilkan makanan, dan mendukung industri pariwisata. Ketika ekosistem merosot akibat perubahan iklim dan eksploitasi manusia, kita kehilangan manfaat berharga ini. Dalam jangka panjang, kerugian ekosistem ini dapat menghancurkan perekonomian kita. Keseimbangan ekologi adalah investasi jangka panjang yang melindungi kekayaan ekonomi kita.
Perubahan iklim tentu bukan masalah ringan. Tindakan perlu dilakukan sedini mungkin untuk menurunkan dampak negatif dari perubahan iklim. Perusahaan memiliki kekuatan untuk menekan sejumlah dampak negatif perubahan iklim melalui kegiatan ekonomi, sosial dan teknologi. Dari aspek ekonomi, perusahaan dapat beralih pada penggunaan bahan baku yang ramah lingkungan. Dalam aspek sosial misalnya melakukan kegiatan reboisasi, penanaman kembali hutan yang gundul, dan juga pengurangan deforestasi dalam penggunaan lahan. Pada aspek teknologi, banyak perusahaan yang beralih ke tenaga surya dan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak dan batu bara. Bukti empiris menyatakan bahwa menambahkan ketika adaptasi dilakukan sedari awal akan berdampak pada biaya yang lebih rendah (Ou-Yang et al., 2013).
Bukti empiris lain mengungkapkan berdasarkan Teori Ketergantungan Sumber Daya Alam (Natural Resource Dependence Theory), ketergantungan organisasi pada jumlah kejadian cuaca ekstrem yang memengaruhi potensi menghasilkan kinerja keuangan yang positif (Bergmann et al., (2016). Oleh karena itu, organisasi yang bisnisnya mengalami dampak serius dari elemen iklim ekstrem tidak dapat menghasilkan pertumbuhan penjualan yang positif. Hal ini disebabkan perubahan iklim dapat merusak lebih cepat persediaan barang di gudang akibat ruang penyimpanan yang belum dikondisikan dengan perubahan iklim. Karyawan menjadi kurang produktif karena faktor cuaca yang memengaruhi kondisi kesehatan, penyusutan dapat meningkat lebih cepat jika kondisi iklim berubah, atau biaya pemeliharaan dapat meningkat untuk menghindari penyusutan yang lebih cepat. Selain dampak pada kinerja keuangan, mungkin terjadi misalnya, tanah mungkin kehilangan nilai, bangunan mungkin membutuhkan investasi tambahan untuk memungkinkan produksi berlanjut. Di sisi lain, kemudahan kredit dan asuransi dapat berubah karena kondisi iklim yang ekstrem akan meningkatkan risiko.
Mengatasi perubahan iklim dan menyelamatkan ekonomi kita memerlukan langkah-langkah yang seimbang. Pertama, kita harus mengurangi emisi karbon dan memitigasi perubahan iklim. Ini melibatkan investasi dalam energi terbarukan, efisiensi energi, dan kebijakan berkelanjutan. Kedua, kita perlu berinvestasi dalam restorasi ekosistem dan konservasi sumber daya alam. Mempertahankan keanekaragaman hayati, mengembalikan lahan yang rusak, dan menjaga ekosistem yang berfungsi adalah bagian penting dari menjaga keseimbangan ekologi. Ketiga, kita perlu mengubah cara kita berpikir tentang ekonomi. Membangun ekonomi yang berkelanjutan berarti memasukkan nilai ekologi ke dalam pengambilan keputusan ekonomi. Ini melibatkan memperhitungkan biaya lingkungan dalam keputusan investasi dan bisnis.
Bukti empiris menyatakan bahwa perilaku pro-lingkungan sudah mulai terlihat pada berbagai tindakan dan perilaku (gaya traveling, green consumption yang diintegrasikan dengan green credibility seeking, green procurement and prosumption, and green whispers yang pada gilirannya memengaruhi emisi perubahan iklim, meskipun cenderung bersifat lokal dan berskala kecil (Howarth & Ryley, 2012; Perera & Klein, 2018). Selain itu, ketika kesadaran dikombinasikan dengan kesediaan membayar untuk mitigasi perubahan iklim merupakan pendorong perilaku pro-lingkungan. Tanggung jawab pribadi dan keyakinan pada kemampuan mitigasi perubahan iklim juga memicu niat terhadap keramahan iklim. Akhirnya, ditemukan bahwa keterlibatan masyarakat dan kemauan untuk mengambil tindakan meningkatkan kecenderungan untuk menunjukkan perilaku pro-lingkungan. Perubahan perilaku pro-lingkungan misalnya dengan mengurangi penggunaan sampah plastik, bijaksana dalam menggunakan energi listrik dan air, mendaur ulang sampah, mengurangi penggunaan kertas (paperless) merupakan tindakan adaptif yang dapat bermanfaat bagi lingkungan. Namun, perilaku pro-environment tidak bisa hanya berupa tindakan individual dan sporadic, akan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan yang dihadapi oleh perubahan iklim adalah masalah global yang memerlukan tindakan kolektif. Dengan berinvestasi dalam keberlanjutan, menjaga keseimbangan ekologi, dan mengubah paradigma ekonomi kita, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi planet kita dan generasi mendatang. Itu adalah tugas yang mendesak dan juga peluang besar yang tidak boleh dilewatkan.
Strategi menyelamatkan ekonomi dalam badai ekologi dapat dilakukan dengan melakukan tindakan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dengan lebih tepat dan efektif. Di sektor industri, pembuat kebijakan mengambil peran utama, diikuti oleh perencana tata ruang dan inovator. Untuk bangunan, perencana tata ruang memainkan peran penting, dengan pembuat kebijakan mengikuti dengan cermat kebijakan dan regulasi yang ada. Selain itu, pentingnya berbagi informasi strategis untuk meningkatkan kesadaran pengguna dan pendidikan dalam memengaruhi perilaku. Tidak hanya itu digitalisasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi interaktif akan memiliki peran yang signifikan dalam memahami dan membentuk pilihan masyarakat, tetapi sangat diperlukan regulasi untuk mengatur teknologi-teknologi ini untuk dapat berjalan dengan efektif.
*) Penulis adalah dosen dan peneliti di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan anggota Kelompok Riset Financial Accounting Research and Society Services (Fairness), Universitas Jember.
Editor : Radar Digital