KITA tahu, zaman sekarang ada banyak sekali bentuk-bentuk berita yang mengandung kebohongan, kedustaan, merendahkan orang lain, dan bahkan menjelek-jelekkan orang lain tanpa kesesuaian fakta. Tentu saja, keadaan seperti ini akan bermuara pada kehebohan bahkan kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Lagi-lagi setiap individu dituntut untuk lebih dewasa dalam memberikan informasi, harus sesuai fakta, jangan menimbulkan kalimat-kalimat provokatif.
Sayangnya, terkadang masyarakat mengambil bagian menjadi distributor berita-berita hoax tersebut. Akibatnya, berita menyebar secara masif tanpa ada yang tahu sumber asli berita tersebut (tidak meneliti secara baik). Dan, jika diukur dari segi dampak, maka berita hoax memiliki dampak yang sangat besar. Pertama, dampak pada individu atau orang yang menyebarkan hoax, kredibilitasnya turun dan tidak bisa dipercayai orang lagi. Bahkan, lebih dari itu, pelaku juga bisa terjerat Pasal 28 ayat 1 UU ITE, karena telah sengaja menyebarkan berita hoax dan menyesatkan, hukumannya sampai 6 tahun penjara dan denda 1 miliar rupiah.
Kedua, dampak bagi masyarakat yakni bisa memicu perselisihan, keributan, serta ketidaktenangan di masyarakat. Bahkan lebih parah lagi, jika menyangkut politik dan SARA, bisa memecah belah persatuan bangsa. Sekalipun smartphone telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang cepat. Akan tetapi, dibalik kecanggihan smartphone kalau tidak didukung dengan kedewasaan pemakainya, justru malah memberikan efek negatif. Banyaknya orang yang mampu membeli peralatan IT mahal, tetapi tidak mampu mempergunakan untuk perihal sesuatu yang mendatangkan kebermanfaatan.
Lalu, bagaimana sebenarnya hoax dalam literatur sejarah?
Pada satu kesempatan di ILC, Rocky Gerung pernah menguraikan bahwa asal usul kata hoax muncul dalam sejarah ilmu pengetahuan ketika seorang profesor Fisika, Alan Sokal (seorang pemikir dan profesor di Fisika Universitas New York), menulis sebuah artikel di Majalah Sosial Teks dengan nama samaran, lalu dipuji-puji oleh redakturnya tanpa tahu bahwa hal itu adalah bohong.
Tak hanya itu, lanjut Rocky Gerung, fungsi dari hoax dari Alan Sokal itu adalah untuk menguji apakah redaktur dari majalah yang bergengsi itu mempunyai otak apa tidak, tetapi ternyata tidak mempunyai otak. Bahwa, sebenarnya, asal usul dari istilah hoax terjadi ketika Alan Sokal menguji kedunguan redaktur dari Majalah Sosial Teks.
Masih tentang hoax. Di dalam Alquran sudah diterangkan bahwa berita bohong atau hoax adalah modal orang-orang munafik untuk merealisasikan niat kotor mereka. Ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam Alquran surat Al-Ahzab. Allah SWT berfirman: “Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali sebentar. Dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun.” (QS. Al-Ahzab [33]:60-61).
Dari sini sudah jelas bahwa, gambaran yang diberikan oleh Alquran mengenai orang-orang munafik yang menjadikan hoax sebagai alat untuk menghancurkan, menipu atau membohongi orang-orang mukmin. Memang benar, pada dasarnya, dampak yang diterima oleh orang-orang munafik pada masa Rasulullah Saw. yang menjadikan hoax sebagai alat untuk memprovokasi umat, tidak jauh berbeda dengan dampak yang diterima oleh pembuat dan penyebar hoax pada masa sekarang. Hanya saja, bedanya, saat ini ditambah undang-undang sebagai pemberat hukuman di dunia, yakni nama baik mereka akan tercoreng dan terkena hukuman sesuai undang-undang.
Kabar hoax berupa cerita-cerita Israiliyat, yang mengaburkan sejarah, baik dalam kitab tafsir, syarah hadis, maupun kitab Fiqih dan Ahlak Tasawuf. Sejarah hoax meski baru mengambil peran utama dalam panggung diskusi-diskusi publik Indonesia beberapa dekade terakhir ini, namun hoax sebetulnya punya akar sejarah yang panjang. Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya juga pernah menjadi korban hoax. Ketika isteri beliau, Aisyah Ra, dituduh selingkuh, dan beritanya menjadi tersebar (viral) di Madinah. Peristiwa itu dalam sejarah dinamakan hadis al-Ifki.
Berita bohong ini setelah perang dengan Bani Mushtaliq pada bulan Syakban 5 H. Dikatakan peperangan ini diikuti kaum munafik. Dalam perjalanan kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. Aisyah kemudian keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba saja, dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa Siti Aisyah masih ada dalam sekedup. Setelah Siti Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya.
Kebetulan, lewat di tempat itu sahabat Nabi yang bernama Shafwan bin Mu’aththal, ditemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!.” Akhirnya Siti Aisyah pun kemudian terbangun dari tidurnya, dan dipersilakan oleh Shafwan mengendarai untanya.S ahabat Syafwan pun berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Akhirnya, mulailah timbul desas-desus dan kehebohan-kehebohan. Kemudian kaum munafik membesarkannya, maka fitnahan atas Siti Aisyah tak terbendung dan menyebar luas. Akhirnya Allah SWT mengklarifikasi dengan firman-Nya dalam Surat An-Nur. Allah SWT berfirman yang artinya: “Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.” (QS. An-Nur [24]:12).
Mirisnya dan parahnya lagi, saat ini hoax menjadi senjata utama dalam aktivitas-aktivitas apa pun. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita berharap umat Islam menjadi pemenang dalam percaturan dunia, jika para pengikutnya terlibat perang dan saling fitnah? Jawabannya tentu tidak. Karena itu, kita harus mengakhiri era hoax ini. Dalam hal ini, kita harus menjadi pribadi yang bijak yang saling menguatkan sesama saudara seiman.
Oleh: Salman Akif Faylasuf *
*) Penulis adalah Alumnus PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Editor : Radar Digital