TANGGAL 10 Agustus 2023 lalu, di Jakarta ada aksi demo buruh, people power mengepung Istana. Jumlah pendemo yang diklaim oleh Jumhur Hidayat sebagai demo yang terbesar dalam sejarah demonstrasi kaum buruh, konon jumlahnya mencapai satu juta orang (meskipun sebelumnya rumornya akan didukung oleh empat juta hingga sepuluh juta pendemo). Apakah Pakde Jokowi sudah mundur? Sepertinya belum, ya. Artinya, Indonesia masih aman terkendali. Aksi buruh berjalan tertib, tanpa anarkis, Tidak ada polisi menembakkan gas air mata, meriam air, apalagi peluru.
Beranjak malam, masih ada buruh di kawasan Patung Kuda. Silakan saja, asal tertib dan jangan ganggu orang lain. Cuma, jangan salahkan aparat bila mau ngusir. Suara buruh sudah tersampaikan, sudah didengarkan pemerintah, lalu diproses sesuai mekanisme aturan, para pelaku aksi pulang ke rumah. Toh, esok kerja untuk anak istri. Selanjutnya, jangan lupa untuk mengawal segala tuntutan. Jika masih diabaikan atau hanya dijadikan penghias demokrasi, jangan takut, demo lagi. Ingat, demo (lagi) asal tidak anarkis. Jika tidak juga diindahkan, turunkan secara konstitusi. Jangan dipilih lagi bersama seluruh antek-anteknya. Biar tahu rasanya kembali jadi orang biasa, tanpa power. Gitu aja koq repot.
Namun demikian, untuk menurunkan seorang Jokowi paling afdol, tunggu masanya berakhir di 2024. Di mana tanpa digelar demo pun Pakde pasti turun sendiri. Sabarlah. Kalau harus dipaksa turun, ditarik-tarik, nanti celananya melotrok, eh, salah nanti pengikutnya ngamuk. Massanya bisa berkali-kali lipat dari itu. Bila yang satu maunya menurunkan, satunya mempertahankan, muncul adu kuat. Ujungnya ribut sesama anak bangsa. Rakyatlah yang bakal menanggung kerugian dari keributan. Bukankah tidak ada jabatan yang harus dipertahankan mati-matian. Hal ini tidak perlu terjadi. Mending adu ngopi saja lah, sama-sama asyik.
Benua Rawan Kudeta
Setidaknya dalam kurun waktu 2020-2023, di belahan dunia lainnya sekitar 40-an negara-negara di Afrika mengalami kudeta, (menurut The Conversation, pada 2012 telah terjadi lebih dari 200 kudeta dan upaya kudeta di Afrika. Pada kurun waktu 1960 hingga 1970-an upaya kudeta bahkan terjadi setiap 55 hari sekali), kudeta kebanyakan digerakkan oleh pemilik bedil (baca: militer). lima negara terakhir yang mengalami kudeta dimulai dari Mali tahun 2020, disusul Chad pada tahun 2021, Guineau tahun 2021, Burkina Paso pada tahun 2022 dan yang paling gress tanggal 26 Juli 2023 terjadi di Niger (bukan Nigeria, lho ya). Khusus yang terakhir ini (Niger) dalam tiga tahun terakhir terjadi sembilan aksi kudeta. Mari kita bayangkan apa jadinya sebuah Negara yang ganti pemimpin setiap tahun. Aduh bing mak kaso. Gik buruh jegeh tedung, la e kudeta pole, bileh se bisa’ah tenang kanak, kata Bik Fia saat nonton TV sambil ngulek sambel.
Kelima negara tersebut kalau dilihat dari pertumbuhan ekonominya (PDB), hidupnya memang mengenaskan, kemiskinan merajalela seantero negeri, jika ada kemiskinan merajalela, biasanya negara tersebut marak dengan prilaku korupsi. Miskin dan korupsi itu macam sejodoh pula. Temanya ketidakadilan. Di belahan dunia mana pun, jika negara kacau balau, ujungnya pastilah munculnya ketidakadilan. Di mana pun demo digelar pasti yang dituntut keadilan. Kadang di rumah sendiri kakak dan adik suka rebutan, gara-gara merasa ada perbedaan perlakuan yang tidak adil.
Di Afrika, negeri yang dilihat dari kejauhan isinya soal kudeta, miskin, ketertinggalan, kelaparan dan lain-lain. Memang dalam sejarahnya sekitar 90 persen negara-negara Afrika memiliki riwayat kudeta. Sepertinya yang jelek-jelek semuanya menjadi milik Afrika, Padahal, faktanya tidak demikian. Semenjak adanya pengaruh kuat Cina dan Rusia, haluan Afrika mulai berubah. Tak lagi melulu ke Barat (walau belum semuanya, ya), melainkan ke China dan Rusia. Fakta terbaru, para pemimpin negara Afrika ngumpul di Rusia ketemu Vladimir Putin. Bukti kuat Afrika lebih memilih Rusia. Begitu pula China, siap membantu men-support keuangan. Ethiopia yang dulunya miskin, sekarang bergerak menjadi negara kaya. China yang menjadi mentornya.
Pertanyaan besarnya, Apa yang membuat Afrika berpaling dari Barat? Barat hanya mengeruk hasil bumi, tanpa membangun ekonominya. Biasa lah, barat masih membawa mental kolonial. Sementara Rusia dan Cina, tidaklah demikian. Kedua Negara dibawa untuk maju, lewat perjanjian saling menguntungkan.
Menyoal kudeta, khususnya yang terjadi di Niger yang pernah menjadi koloni Prancis selama 50 tahun dan baru merdeka di tahun 1960, kebetulan kudetanya masih fresh from the oven. Hanya butuh waktu kurang dari tiga jam, Presiden Mohamed Bazoum sudah terguling. Semua berawal dari Kepung Istana. Militer ambil alih. Para pemimpin kudeta sepakat mengakhiri kerja sama dengan Perancis dan memilih Rusia sebagai haluan. Bendera Rusia pun berkibar di Niger. Kudeta ini, mengakhiri dominasi Barat di negara tersebut.
Menakar Hubungan Antarlembaga Negara
Apakah aksi Kepung Istana 10 Agustus 2023, terinspirasi dari gerakan kepung istana yang terjadi di Niger? Wallahualam bisshawab. Di Niger, yang mengkudeta itu berawal dari rakyat, lalu didukung militer atau tentara. Sementara di Indonesia digerakkan kelompok buruh dengan tujuan mencabut UU Cipta Kerja. Kalau hanya itu, tidaklah sampai menurunkan Jokowi. Kecuali didukung Militer. hal ini akan beda persoalan. Namun demikian, yang tampak dipermukaan, hubungan Presiden Jokowi dengan semua lembaga negara termasuk TNI dan Polri, harmonis dan baik-baik saja, tidak tahu di dalamnya. Selama ini banyak sudah yang mendemo Jokowi, semua aman-aman saja. Silakan demo, asal jangan anarkis saja. Itu pesan utamanya.
Kalaulah masih ada demo, Jokowi tetap bekerja. Karena, ia selalu kangen didemo. Satu catatan penting, jangan pernah anarkis atau makar. Menurunkan pemimpin negara secara non konstitusi, tidak boleh, tunggulah sampai September 2024 saat mana presiden baru terpilih dilantik, endapkan sahwat untuk menurunkan Presiden di tengah jalan, karena implikasinya akan berbeda, percayalah.
Oleh: Sidi Alkahfi Setiawan*
*) Penulis adalah Kabid Pengembangan Anggota DPC IKADIN DPC Jember, Dosen FH Universitas Islam Jember, dan Wakil Ketua LPBH NU Jember.
Editor : Radar Digital