JEMBER, RADARJEMBER.ID- Prestasi Putri Ariani di salah satu ajang pencarian bakat di Negeri Paman Sam mendulang popularitas bagi dirinya dengan menjadi trending topic di 30 negara. Fenomena keberhasilan Putri mengguncang panggung internasional sukses menarik perhatian publik. Khalayak ramai kagum dan terharu atas bakat luar biasa yang ia miliki di usianya yang masih belia dan di tengah keterbatasan yang melekat padanya. Tidak ingin ketinggalan isu hangat, sejumlah public figure bahkan politisi di tanah air juga turut bersimpati pada Putri. Sebagian mengundang Putri untuk bercerita di kanal Youtube masing-masing, sebagian lagi berkomentar di media sosial memberikan selamat dan motivasi pada Putri sebagai bentuk “apresiasi”.
Hubungan para trend setter dengan Putri yang notabene tidak saling mengenal (mayoritas) atas dasar apresiasi menarik untuk dikupas lebih jauh. Istilah apresiasi yang dalam KBBI berarti memberikan penghargaan, dewasa ini cenderung diartikan sempit dengan hanya memberi penghargaan terhadap mereka yang telah berhasil. Tolok ukur seseorang perlu “diapresiasi” yang berlaku saat ini adalah ketika mereka mencapai suatu titik pencapaian yang mana tidak semua orang dapat meraihnya. Benar adanya bahwa seseorang yang berhasil tentunya telah melewati serangkaian proses tertentu sehingga sampai pada parameter keberhasilan, namun apakah seorang anak yang belum memperoleh apa-apa dalam hidupnya tidak berhak untuk diapresiasi? Apakah seorang anak nakal dengan nilai merah di rapornya juga tidak berhak untuk diapresiasi?
Alih-alih menjadikan apresiasi sebagai urusan komersial atau kepentingan perbaikan citra diri semata, apresiasi atau memberikan penghargaan senyatanya harus dimulai dengan memberikan harga terhadap seseorang terutama seorang anak. Putri adalah bukti keberhasilan penjaringan dan pengembangan potensi diri tersebut. Sinergi orang tua dan sekolahnya sukses menciptakan pribadi dengan SDM unggul sesuai dengan minat dan bakat anak. Peran orang tua dan sekolah menjadi kontribusi positif sebagai lingkungan terdekat yang membersamai Putri dalam proses tumbuh kembangnya.
Pendidikan anak, keluarga, khususnya orang tua, memegang peranan sentral dalam menciptakan anak menjadi pribadi-pribadi yang andal. Orang tua sebagai sekolah pertama bagi anak memiliki tanggung jawab penuh untuk membangun dan memahami anak dalam aspek karakter, potensi, dan mental. Peranan tersebut selanjutnya dapat menjembatani seorang anak untuk mengenal diri sendiri sehingga memperbaiki kapabilitas dalam dirinya.
Demikian, peran orang tua tidak terbatas pada antar-jemput anak ke sekolah setiap hari. Pola pikir dan mentalitas anak yang belum terbentuk cenderung mengantar mereka pada potensi-potensi keburukan dalam hidup seperti kenakalan remaja. Dilansir dari kompas.com, salah satu faktor penyebab kenakalan remaja adalah sebab krisis identitas yang dialami seorang anak. Anak yang belum matang secara kognitif dan mental akan terjerembab dalam zona nyaman yang membuat mereka terlena dengan apa yang seharusnya mereka persiapkan untuk masa depan. Alhasil, banyak sekali anak yang saat ini lebih akrab dengan gawai daripada berdiskusi secara intelektual atau sekedar bicara dari hati ke hati dengan orang tua mereka.
Penting bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang efektif dan tepat sasaran. Paradigma yang harus terbangun adalah setiap peserta didik memiliki kondisi dan potensi yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, pengadaan pembelajaran selanjutnya wajib menyesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing peserta didik tersebut. Sekolah tidak serta merta dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menyamaratakan porsi pembelajaran bagi setiap peserta didik sementara secara fundamental peserta didik memiliki perbedaan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal dari lahirnya kapitalisme pendidikan di mana terdapat sistem kelas yang bahkan telah dimulai dari bangku sekolah dasar.
Mengutip pernyataan Albert Einstein terkait pendidikan, “everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will leave its whole life believing that it is stupid.” Pernyataan di atas secara gamblang menyatakan bahwa setiap orang yang dilahirkan ke dunia memiliki potensi dan kemampuannya masing-masing dan tidak dapat dipaksa untuk memahami potensi dan kemampuan orang lain. Memaksakan kehendak untuk mencapai hal tersebut adalah sebuah contoh kebodohan. Sebuah kurikulum yang didesain untuk berjuta peserta didik seakan hanya bahan mentah yang dipaksakan untuk dicekoki pada generasi bangsa, apabila tidak disikapi dengan bijak oleh lembaga pendidikan.
Sekolah dapat melakukan langkah assessment diagnostic yang berarti penjaringan potensi anak berdasarkan kemampuan masing-masing. Assessment diagnostic terbagi menjadi dua yakni assessment diagnostic untuk kognitif dan assessment diagnostic untuk nonkognitif. Penjaringan potensi ini tidak dilakukan setelah pendidikan dan proses pembelajaran diselesaikan melainkan dilaksanakan sebelum pendidikan tersebut dimulai. Tujuannya tidak lain adalah demi menyiapkan pembelajaran yang cocok untuk diterapkan terhadap peserta didik sesuai dengan bakat dan minat dari potensi masing-masing anak.
Belajar dari keberhasilan Putri, peran orang tua dan sekolah menjadi determinasi kemantapan bakat yang Putri miliki. Perlu ada sinergi yang terbangun antara orang tua dengan sekolah sebagai pendidikan pertama dan kedua bagi anak. Orang tua menyampaikan potensi yang telah ia temukan terhadap sekolah sedangkan sekolah berupaya untuk menyediakan lingkungan yang sehat dalam pola kembang potensi seorang anak. Lingkungan yang sehat dapat diartikan sebagai memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seorang anak untuk belajar lebih dalam dan kesempatan aktualisasi potensi tersebut seefektif mungkin. Apabila konsep ini dapat terealisasi dengan baik, maka tercapailah sudah istilah apresiasi untuk anak tersebut di atas.
Pola apresiasi sederhana yang diberikan terhadap seorang anak di atas dapat menyiapkan seorang anak untuk menjadi seseorang yang hebat kelak di masa depan. Hebat dalam arti matang secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Alhasil, anak tidak akan kebingungan saat diuji dengan kedewasaan sebab telah siap secara pemikiran dan skill yang mumpuni. Adapun yang menjadi target utama adalah berlomba-lomba untuk menjadi hebat luar dalam bukannya berlomba-lomba untuk mencapai keviralan yang hanya sekejap mata.
*) Penulis adalah Kepala SMK Raudlatul Akbar, Jember.
Editor : Alvioniza