Degradasi etika dan moral mahasiswa. Etika menurut Prof Dr Franz Magnis Suseno merupakan ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang memberikan arah dan pijakan dalam tindakan manusia’ kemudian diperkuat oleh Drs Sidi Gajabla bahwa etika adalah teori tentang perilaku maupun perbuatan manusia yang di pandang dari segi baik dan buruknya sejauh mana ditentukan oleh akal manusia. Modernisasi membentuk mahasiswa yang individualistis sehingga apatis terhadap proses kehidupan sosial. Tanggung jawab sebagai mahasiswa kian dilupakan karena banyak dari kalangan mahasiswa yang tidak mengetahui etika sebagai mahasiswa yang kritis. Seperti membaca buku, menulis, berdiskusi, melakukan penelitian, pergerakan dan perubahan.
Degradasi nalar etika ini kian menakutkan apabila terus dibiarkan, sebagai siswa tertinggi dari proses pendidikan tidak seharusnya menyamakan proses belajar di perguruan tinggi dan di bangku Sekolah menengah atas (SMA), cara berpikir pendidikan akan terus tergerus sebab paham etika berproses di perguruan tinggi gagal di pahami, beberapa mahasiswa hari ini sering terdengar memprotes sistem yang ada di perguruan tinggi padahal di sisi lain mahasiswa itu sendiri sebaiknya tidak hanya melihat dari sisi itu saja mahasiswa juga harus mampu berkaca mengoreksi sistem berpikir dewasa ini, kemudian etika yang mengalami degradasi bahkan mulai hilang sebab tensi pemikiran yang turun satu langkah’ seperti cara berpikir mahasiswa dewasa ini layaknya anak SMA, anak SMA seperti cara berpikir SMP dan seterusnya.
Hal ini penting di pahami melalui etika mahasiswa di perguruan tinggi, sehingga mahasiswa dewasa ini bisa menumbuhkan Moral sebagai agen perubahan, sebagai mana moral menurut Elizabenh B. Hurlock merupakan suatu kebiasaan, tata cara, dan adat dari suatu ketentuan perilaku yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat hal ini juga merujuk dari pemaknaan Immanuel Khan bahwa moral merupakan sikap batin dan penyesuaian sejumlah aturan yang terdapat di masyarakat baik itu berupa hukum agama, hukum negara maupun hukum adat istiadat’ demikian artinya bahwa secara fundamental etika mahasiswa harus mencari tahu keharusannya jika ingin menjadi mahasiswa dan memahami makna mahasiswa itu sendiri’ agar tidak hanya lantang menggunakan almamater kemudian angkuh dan mengatakan kau Mahasiswa, saat etika dalam perguruan tinggi sudah dipahami’ tugas selanjutnya menyelaraskan moral yang harus dirawat di dalamnya, bahkan dewasa ini tidak begitu, mahasiswa bertambah jumlahnya hanya saja nyaman dengan keadaan masuk kelas full mendengarkan dosen kemudian pulang ke kosan.
Kebebasan Akses Teknologi Cendrung lebih Berdampak Negatif
Teknologi menurut Gary J. Angelin adalah ilmu perilaku serta alam dan pengetahuan lain dengan cara men-sistem untuk memecahkan masalah manusia demikian jika disimpulkan teknologi merupakan alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, tentu saja secara pragmatis sangat dibutuhkan karena hasilnya bermanfaat seperti halnya media sosial, masyarakat akan lebih mudah bertukar informasi manakala walau dengan jarak yang berjauhan.
Perkembangan teknologi dewasa ini kian tidak terbendung kecepatannya, awalnya jaringan 3G sampai saat ini sudah memasuki 5G, lantas siapa sangka dibalik kencangnya perkembangan itu tidak semerta-merta juga menimbulkan dampak negatif, khususnya bagi mahasiswa, mengutip dari buku 21 lesson 21 adab untuk abad ke-21 Karya Yuval Noah Harari bahwa persoalan baru teknologi bagi manusia dewasa ini adalah tidak mampu beradaptasi, karena kencangnya perkembangan teknologi yang menjadikan mahasiswa tidak lagi memiliki waktu untuk menganalisis tentang dampak dan pengaruh di dalamnya
Melihat langsung dampak negatif yang disebabkan oleh teknologi dewasa ini adalah data pengguna internet di indonesia menurut data gootstats.id sebanyak 167 juta orang artinya setara 78 persen dari jumlah pengguna internet yang mencapai 212,9 juta orang di sisi lain jika di hitung penggunaannya berkisar 7 jam 42 menit setiap harinya. Mahasiswa dewasa ini penting membaca data-data sebagai berikut karena dalam pengimplementasiannya bisa di jadikan motivasi untuk meng-improve diri supaya lebih fokus pada persoalan yang substansial daripada mengkritik sistem yang ada di perguruan tinggi yang begitu kompleksnya, bukan mendukung sistem yang ada di perguruan tinggi.
Mahasiswa Menjadi Role Model dan Menciptakan Role Model Baru
Sebagai mahasiswa yang tetap peduli terhadap pendidikan dan regenerasi bangsa indonesia, sepatutnya mahasiswa sebagai individu menjadikan diri sebagai rule model terhadap mahasiswa lainnya. Banyak cara mendorong arah pendidikan yang lebih baik tidak hanya dengan demonstrasi semata, bahwa dengan menjadikan diri sebagai magnet perubahan sebagaimana mendorong setidaknya 1 atau 2 orang yang bisa dipahamkan dan diajak untuk melihat lebih kritis pada pendidikan yang sedang terlaksana di Indonesia.
Teknologi dan media sosial juga harus dikembalikan kepada asas pemanfaatannya. Sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia tetapi otak manusia dengan jumlah penyimpanan yang melampaui teknologi tersebut juga harus dipupuk dengan ilmu pengetahuan seperti membaca dan lainnya. Tidak kalah penting juga adalah bahwa membatasi penggunaan media sosial apabila mengganggu produktivitas dan tidak menghasilkan manfaat malah membuat lalai demikian.
Artificial inteligen dewasa ini mampu membaca kecenderungan si pemilik teknologi mungkin berupa smartphone yang menjadikannya kecanduan. Tentu kecerdasan penggunaan harus diikhtiarkan. Sebab, sepenuhnya embrio perubahan dari role model dewasa ini penting dan harus diupayakan. Indonesia akan menyambut bonus demografi bersamaan dengan perubahan kecerdasan yang dipromotori oleh para mahasiswa.
*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan Ketua Umum HMI Komisariat Pertanian UMM.
Editor : Safitri