Tren positif ini juga didukung oleh kran ekspor yang sudah dibuka. Meski produk ekspornya belum merata, hal ini bisa mendatangkan peluang nyata bagi masyarakat. Khususnya bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasar data BPS, tiga bulan pertama tahun ini, nilai ekspor sektor migas sebesar 5,97 persen. Sementara sektor nonmigas sebesar 94,03 persen. Pada sektor nonmigas ini meliputi tiga bagian. Yakni, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 1,62 persen, pertambangan 21,30 persen, dan industri pengolahan 71,11 persen,
Terdapat dua bagian sektor yang terpaut jauh, Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan industri pengolahan. Padahal, dari segi luasan, wilayah perairan atau laut menguasai hampir 70 persen. Sementara daratan hanya 30 persen. Meski demikian, perikanan belum mampu menjadi pasar ekspor yang bersaing dan berdaya. Tentu, ini karena nilai ekspor perikanan bisa berubah menjadi industri pengolahan.
Sebagai negara maritim, tentunya Indonesia memiliki kekuatan laut yang menjanjikan. Sehingga produk perikanan harus terus didorong agar mampu menjadi yang utama, bahkan digdaya. Tidak hanya perikanan tangkap di laut maupun perairan darat saja. Melainkan juga perikanan budi daya. Oleh karena itu, keteguhan menuju perikanan budi daya yang digdaya harus jadi spirit Indonesia ke depan. Memang perikanan menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia. Baik itu perikanan tangkap ataupun perikanan budi daya. Sehingga ini membuka perdagangan perikanan menjadi lebih besar.
Dari aspek sistem, perdagangan sebagai pusat pembangunan ekonomi memiliki orientasi lebih ke luar dibandingkan orientasi ke dalam. Melalui perdagangan internasional, masing-masing negara dapat mencapai skala ekonominya. Terlebih jika terjadi kelebihan produksi yang tidak bisa diserap konsumen dalam negeri. Kelebihan produksi ini bisa diekspor. Sebab, ekspor sangat penting bagi perekonomian sebagai sumber devisa utama dan motor pertumbuhan ekonomi.
Peluang
Perikanan Indonesia memiliki peluang ekspor besar. Khususnya perikanan budi daya. Dalam hal produksi, perikanan ini mencakup budi daya pada jaring apung laut, jaring apung tawar, jaring tancap tawar, karamba, kolam air deras, kolam air tenang, laut lainnya, mina padi, rumput laut, tambak intensif, tambak sederhana, dan tambak semi intensif.
Hal ini harus ditangkap sebagai sinyal positif pengembangan perekonomian di bidang perikanan budi daya. Tentunya, harus melibatkan para pelaku UMKM di masing-masing wilayah. Misalnya, di Jawa Timur. Sebab, pada tahun 2021, nilai ekspor Jawa Timur tertinggi dibandingkan provinsi lain. Oleh karena itu, hasil perikanan harus dimaksimalkan.
Dari segi permodalan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema. Salah satunya melalui perbankan. Di mana seluruh lapisan pelaku usaha bisa mengaksesnya dengan amat sangat mudah. Ini melalui permodalan kredit perbankan yang sesuai karakteristik perikanan. Sehingga selain menjadi modal usaha bagi UMKM, kredit ini menjadi sarana peningkatan investasi.
Tak dapat dimungkiri, saat ini, cukup banyak ladang investasi yang bisa digarap. Tak terkecuali dari perikanan budi daya. Ini bisa dengan memaksimalkan potensi usahanya. Maka, perikanan budi daya ini harus terus berinovasi. Tidak hanya soal produk ikan segarnya, melainkan juga memanfaatkan peluang dengan mengolah ikan menjadi sejumlah produk seperti abon ikan, stik tulang ikan, kerupuk, nuget, keripik, hingga sambal dalam kemasan. Oleh karena itu, sangat tepat jika peluang ini diambil melalui permodalan usaha kredit berkelompok. Sebab, modal dan nilai investasinya akan semakin besar.
Produk-produk itu sebenarnya sudah memiliki pasar tersendiri. Umumnya masih berkutat pada pasar lokal. Baik di antarkecamatan atau antarkota dalam satu provinsi. Padahal, pasar perikanan sudah sangat terbuka. Artinya, pasar nasional juga memiliki peran besar dalam menguatkan sektor perikanan budi daya. Terlebih, di sejumlah negara luar, regulasi pasar impornya lebih mudah.
Sebut saja di Malaysia. Menurut Atase Perdagangan RI di Malaysia, Deden Muhamad Fajar Shiddiq dalam talk show, beberapa waktu lalu, regulasi impor Malaysia jauh lebih mudah. Sebab, konsumsi makanan olahannya juga besar. Peluang ekspor terbuka lebar. Ini akan menguatkan posisi perikanan di tingkat atas. Apalagi, jika itu hasil perikanan budi daya yang sudah diolah sedemikian rupa. Sehingga menarik minat sekaligus mendongkrak perekonomian negara.
Tantangan
Selama ini, pemberdayaan SDM tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Terlebih di tingkat UMKM. Ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah kelompok petani perikanan budi daya yang telah dibentuk. Khususnya dibentuk oleh instansi terkait di masing-masing daerah. Namun, pada praktiknya, pendampingan tidak dilakukan secara maksimal. Tentu, ini mencakup masa sebelum pembibitan ikan, saat pembesaran, panen hingga setelah panen.
Seluruh komponen usaha perikanan melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan pengawasan sebenarnya mampu membuat perikanan budi daya berkompetisi secara global. Maka, percepatan pengembangan SDM harus dilakukan secepatnya. Sehingga mampu meningkatkan kualitas SDM.
SDM juga harus dibarengi dengan kesiapan teknologi. Perkembangan teknologi yang cepat bisa jadi tidak terkendali. Padahal, teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia. Namun, jika hal ini tidak disiapkan dengan baik, maka justru teknologi akan menjadi pisau yang mematikan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI telah membuka jalan dan mempersiapkannya. Yakni melalui Sistem Telusur dan Logistik Ikan Nasional (STELINA) yang bisa diakses melalui online. Ini mengkoneksikan semua sistem informasi rantai pasok (supply chain) dan ketertelusuran (traceability) ikan dan produk perikanan sebagai pencatatan ketertelusuran secara elektronik mulai dari penangkapan, budi daya, pemasok, distribusi, pengolahan, sampai pemasaran. Namun, tampaknya ini masih belum tersosialisasikan dengan baik di tingkat pelaku UMKM perikanan budi daya. Padahal ada beragam manfaat. Di antaranya menjadi sarana data pencatatan dan data ketertelusuran transaksi pembelian, pemasaran, proses produksi, pencatatan penjualan ke pasar domestik dan ekspor.
Maka, kedua tantangan ini harus dijawab bersama. Sehingga perikanan budi daya tidak hanya dinikmati secara lokal saja. Bahkan bisa menjadi kekuatan baru perekonomian dan bersaing di pasar global.
*) Penulis adalah mahasiswa Akuakultur Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga. Editor : Safitri