Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menyikapi Program J-Asik Besty: Efektifkah dalam Menanggulangi Stunting?

Safitri • Rabu, 25 Januari 2023 | 19:36 WIB
Oleh: Dewi Rokhmah
Oleh: Dewi Rokhmah
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik yang ditandai dengan penurunan kecepatan pertumbuhan, akibat dampak dari ketidakseimbangan gizi. Menurut WHO, tahun 2016, prevalensi balita stunting di dunia sebesar 22,9 persen dan keadaan gizi balita pendek menjadi penyebab 2,2 juta dari seluruh penyebab kematian balita di seluruh dunia. Prevalensi stunting pada balita di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 yaitu sebesar 30,8 persen. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, angka prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan yaitu dari angka 30,8 persen menjadi 24,4 persen Akan tetapi, jika dibandingkan dengan ambang batas prevalensi stunting yang ditetapkan WHO yaitu 20 persen, angka tersebut masih terbilang tinggi (WHO, 2005). Prevalensi stunting Provinsi Jawa Timur berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 juga melampaui ambang batas prevalensi stunting yang ditetapkan WHO yaitu sebesar 23,5 persen (Kementerian Kesehatan RI, 2021).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2018) menyebutkan bahwa stunting di awal kehidupan seorang anak dapat menyebabkan kerusakan permanen pada perkembangan kognitif, yang diikuti dengan perkembangan motorik dan intelektual yang kurang optimal. Sehingga cenderung dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pendidikan, pendapatan, dan produktivitas pada masa dewasa dan berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi. Anak kurang gizi yang tercermin dalam keadaan stunting memiliki masalah pada pemusatan perhatian, memori, pembelajaran, dan kemampuan visuospasial. Stunting tidak hanya berpengaruh pada perkembangan kognitif pada tahap tertentu, tetapi juga pada tahap yang lebih tinggi sehingga menghasilkan gangguan kognitif jangka panjang. Meskipun terdapat sedikit tindak lanjut penelitian sejak masa anak-anak hingga usia dewasa, bukti substansial menunjukkan adanya hubungan antara stunting dengan kemampuan kognitif yang lambat atau kinerja sekolah pada anak-anak dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Sebuah analisis data longitudinal dari Filipina, Jamaika, Peru, dan Indonesia, bersama dengan data baru dari Brazil dan Afrika Selatan, menunjukkan bahwa anak stunting berusia 12-36 bulan diperkirakan mengalami kinerja kognitif yang lebih rendah dan atau nilai yang dicapai di sekolah menjadi lebih rendah (Grantham, 2007).

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2018) Stunting memiliki dampak buruk yang dapat terjadi baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendeknya yaitu terganggunya perkembangan verbal, motorik, dan kognitif pada anak menjadi tidak optimal, meningkatnya kejadian kesakitan dan kematian serta biaya kesehatan mengalami peningkatan. Sedangkan dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan adalah postur tubuh yang lebih pendek dibandingkan pada umumnya, meningkatnya risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, obesitas, diabetes, stroke, disabilitas pada usia tua, dan kanker, menurunnya kapasitas belajar saat masa sekolah, serta kualitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal yang kemudian akan mengakibatkan produktivitas ekonomi menjadi rendah. Maka dari itu, stunting menjadi prioritas program dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk di beberapa daerah dan kabupaten seperti di Kabupaten Jember.

Beberapa waktu lalu Bupati Hendy me-launching Program J-Asik Besty (Jember Anak Sehat Beriman Berkarakter dan Bebas Stunting) pada Tanggal 12 Januari 2023 di Alun-Alun Jember dengan melibatkan Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) serta Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih, dan 3.000 siswa-siswi TK dan PAUD se-Kabupaten Jember. Bupati melibatkan siswa siswi TK dan PAUD yang notabene mereka berapa pada rentang usia 36-59 bulan atau 3-5 tahun adalah strategi yang sangat tepat. Mengingat hasil SSGI (2021) menunjukkan distribusi balita stunting menurut kelompok umur di indonesia didominasi oleh anak usia 2-5 Tahun (24-59 bulan).

Bagaimanakah upaya Bupati Hendy melalui Program J-Asyik Besty ini bisa lebih optimal dalam penanggulangan stunting di kabupaten? Maka, kita dapat mengacu pada Teori Perilaku (L. Green, 1984) yang menyebutkan ada 3 faktor yang memengaruhi perilaku kesehatan. Faktor pertama adalah predisposing factor yang di dalamnya menyangkut siapa aktor utama dalam keluarga yang bertanggung jawab dalam penyiapan makanan anak yaitu ibu. Setidaknya launching Program J-Asyik Besty ini dilanjutkan pada edukasi ke orang tua siswa PAUD/TK tentang pentingnya pola makan dengan gizi seimbang yang bisa dilakukan memalui sosialisasi panduan makan gizi seimbang "Isi Piringku" dari Kementerian Kesehatan RI. Setidaknya ibu akan mempunyai pengetahuan tentang porsi makan dalam satu piring untuk anak di mana sepertiga berisi lauk sumber protein khususnya protein hewani dan buah, sepertiga berisi sayur-mayur dan sepertiga lainnya berisi sumber karbohidrat seperti nasi.

Faktor yang kedua adalah enabling factor yaitu sarana prasarana yang mendukung anak usia PAUD/TK untuk dapat mengakses makanan yang sehat. Setidaknya anak-anak usia 3-5 tahun sudah memiliki lingkungan baru selain di rumah yaitu di sekolah. Sekolah dapat menyediakan kantin sehat dengan menyediakan jajanan yang sehat dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya. Bu guru TK dan PAUD bisa bekerja sama dengan wali murid untuk mengelola kantin sehat dengan bergiliran dari orang tua menjual jajanan sehat yang disukai anak-anak. Faktor yang ketiga adalah Reinforcing Factor adalah ada peran tokoh kunci yang menjadi figure contoh bagi ibu anak-anak usia TK/PAUD untuk menjadi role model atau tokoh yang menjadi contoh bagi ibu dalam memberikan pola asuh dan penyiapan konsumsi makan dengan gizi seimbang. Pelibatan Ibu Bupati secara langsung dalam launching Program J-Asyik Besty ini menjadi sangat penting. Karena selain beliau dikenal sebagai istri Bupati Hendy, beliau juga sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan menjadi bunda literasi Jember yang memiliki peran aktif dalam meningkatkan minat membaca dan mengakses informasi bagi semua warga jember khususnya di kalangan ibu-ibu. Dengan demikian ibu Hendy bisa mengajak ibu-ibu yang memiliki anak usia TK/PAUD untuk selalu aktif mencari informasi tentang bagaimana memberikan pola asuh yang tepat serta menyediakan makanan dengan gizi seimbang untuk keluarga.

Semoga gebrakan Bupati Hendy melalui Program J-Asyik Besty ini menjadi pilar penting dalam penanggulangan stunting di Kabupaten Jember khususnya dalam menyasar anak-anak usia 24-59 Bulan dan hal ini juga bersinergi dengan tema Hari Gizi Nasional 2023 yaitu “Protein Hewani Cegah Stunting”. Karena Protein hewani, seperti susu, daging-dagingan, aneka ikan, dan telur, telah terbukti mempunyai korelasi positif untuk menurunkan risiko stunting atau kekurangan gizi kronis. Melalui edukasi panduan gizi sehat seimbang bernama Isi Piringku pada orang tua dengan anak usia 12-59 bulan atau 2-5 tahun yang masih sekolah di PAUD/TK menjadi modal utama dalam menyiapkan generasi berkualitas bebas stunting di Kabupaten Jember.

*) Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember

 

Pengurus Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia

(Persakmi) Jember

  Editor : Safitri
#opini