Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menunda Juara Adalah Takdir yang Tepat

Safitri • Rabu, 11 Januari 2023 | 18:25 WIB
Muchammad Ainul Budi
Muchammad Ainul Budi
Bayangkan kalau Timnas Indonesia kemarin bisa mengalahkan Vietnam dan melenggang ke Final. Lalu, juara Piala AFF 2022. Heboh dan prestise bukan? Tapi bagi saya belum. Bisa saja kalau juara, kita sudah melupakan kejadian dan banyak PR yang belum terselesaikan. Apa itu? Kompetisi yang masih amburadul, pembinaan usia dini tak berjalan sesuai koridor, tingkah laku suporter yang masih saja kampungan, hingga infrastruktur yang belum memadai.

Pekerjaan rumah itu bisa saja dilupakan dengan satu piala AFF begitu saja. Tapi alam berkata lain. Sepak bola Indonesia masih disuruh banyak-banyak bercermin. Introspeksi lagi. Tak boleh jemawa ketika hanya menang lawan Kamboja atau Laos. Realistis saja, meski Shin Tae-Yong menyebut kualitas Timnas sudah setara Thailand, Vietnam, atau Malaysia, tapi buktinya di lapangan kita masih kesulitan.

Sepak bola itu juga bicara data, tak hanya sekadar psywar media. Buktinya kemarin. Statistik shoot on target Timnas di Hanoi 0. Bagaimana mau menang, kalau tak ada tendangan tepat ke gawang! Caranya menang adalah ada tembakan mengarah gawang lawan. Buat gol.

Statistik laga kemarin, penguasaan bola Indonesia 53 persen sedangkan Vietnam 47 persen. Tapi mereka bisa melesakkan 5 shoots on target dan Indonesia 0. Dengan keseluruhan tendangan Vietnam 14, Indonesia 9. Vietnam lebih cerdas memanfaatkan segala hal. Peluang, mental, memainkan emosi, dan memancing provokasi. Seakan mereka lebih pengalaman daripada kita.

Kita selalu dicekoki percaya proses. Tapi progres di lapangan malah menurun. Apa itu? Ya, di AFF. Tahun 2020 lalu kita tembus laga final. Meski lawannya Thailand dan harus kalah kita. Tahun ini malah lebih buruk. Sudah KO di partai semifinal. Faktanya, pelatih kelas dunia macam STY yang pernah melatih Korsel di World Cup mengalahkan Jerman pun dibuat minta maaf, karena tak bisa berbuat banyak di gelaran AFF.

Kritiknya, STY fokus saja dengan program kepelatihan. Tak perlu banyak berkomentar terkait PSSI atau membela si ini itu. Sampai ancam mundur beberapa waktu lalu. Mengarahkan timnya untuk shoots on target saja masih susah. Pemain masuk timnas itu dipilih pelatih. Pemain jadi starter atau cadangan ya kewenangan pelatih. Siapa yang jadi kiper dan striker itu, ya, keputusan pelatih. Selayaknya STY bersama jajaran pelatih bertanggung jawab penuh.

STY mulai handle Timnas sejak akhir 2019. Dihantam pandemi, STY memiliki dalih tersendat untuk menjalankan program. Dirinya pun meng-handle banyak skuad Timnas. Mulai dari junior hingga senior. Faktanya? Belum ada piala. Memang sih, piala bukan patokan prestasi. Tapi secara fakta data di AFF kita menurun loh.

Saya sempat memiliki prestise tinggi akan CV dari STY. Namun, perlahan hal itu seakan pudar. Ini bagi saya, lo. Sepak bola Indonesia tak hanya mendatangkan pelatih TOP dunia saja untuk mengubah permainan di atas lapangan. Namun, sebenarnya lebih dari itu. Pekerjaan rumah yang di atas menjadi hal basic untuk diperbaiki. Tak melulu gonta-ganti pelatih.

Pemain naturalisasi sudah dituruti. Sudah dimainkan. Memang ada beberapa pemain naturalisasi yang tidak bisa gabung karena memang AFF tak masuk agenda FIFA. Tapi, sebenarnya itu bukan jadi alasan. Jadwal kompetisi Liga juga berdampak pada kebugaran pemain. Vakumnya Liga selama kurang lebih 2 bulan memengaruhi pemain timnas. Ya, memang sih ada efeknya. Jadwal kompetisi saja tak bisa dipastikan. Hal-hal itulah yang menjadi PR kita. Kompetisi yang berdampak pada program timnas.

Di kolom media sosial pun ramai. Di twitter tagar #STYout mulai jadi trending. Ya, sah-sah saja. Siklusnya begitu. Euforia ketika menang besar lawan Kamboja atau tim selevelnya, kalah di laga penting lawan 3 negara setara tadi, menuntut pelatih out, perbaikan di semua lini sepak bola Nusantara. Lalu, semua itu dilupakan lagi hendak turnamen besar macam AFF, SEA Games atau Piala Asia. Berulang-ulang ketika gagal lagi.

Sepak bola Indonesia seakan ditakdirkan untuk menunda juara dahulu sepertinya. Sebelum PR-PR itu semua dijalankan dengan baik sesuai koridor. Sekelas AFF saja kita masih terlalu sering nangis. Berpartisipasi sebanyak 13 kali sejak AFF pertama digelar 1996 silam, kita belum pernah naik podium. Mentok, ya, runner-up, sebanyak enam kali, yakni di tahun 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Bahkan sisanya, kita gagal melewati fase grup. Dimulai di Piala AFF tahun 2007, 2012, 2014, dan 2018.

Terakhir juara SEA Games 1991, setelah itu, Timnas ya hanya bisa meratapi kekalahan di laga final. Kita juara hanya di level usia muda, AFF U-16, U-19, dan U-22 tahun 2019 kemarin. Masuk senior ya ampas. Masih perlu belajar lagi di level ASEAN sebelum ke Asia.

Agenda Timnas ke depan masih banyak. Piala Asia U-20 bulan Maret, SEA Games 2023 di Kamboja bulan Mei, jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 bulan Mei, dan Piala Asia senior bulan Juni di Qatar. Saran saya, jangan terlalu berekspektasi tinggi. Nikmati saja, bila menang ya alhamdulillah, kalah ya belajar lagi. Apalagi ketika main Piala Dunia di rumah sendiri. Ini kelas dunia ya jangan disamakan dengan Kamboja atau Laos. Pembenahan sepak bola tak hanya PSSI saja sebenarnya. Tapi ya seluruh pihak. Karena olahraga ini melibatkan banyak orang. Olahraga paling populer di negeri ini. Akhirnya, Menunda juara adalah takdir yang realistis untuk introspeksi.

 

Muchammad Ainul Budi

*) Penulis adalah redaktur Jawa Pos Radar Jember

  Editor : Safitri
#opini