VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity) adalah fakta data yang memberi gambaran tentang situasi dunia saat ini. Dunia sedang mengalami perubahan dengan cepat serta susah ditebak. Salah satu perubahan yang terjadi di masyarakat saat ini adalah kegiatan yang berbasis digital. Hal ini terjadi karena pandemi Covid-19 yang tidak berujung. Sehingga masyarakat dihadapkan pada fenomena baru seperti belajar, kerja, dan belanja dari rumah. Perubahan ini tentu saja memunculkan pola baru dalam kehidupan masyarakat. Dunia pendidikan pun mengalami perubahan di era VUCA.
Dunia pendidikan pun menjadi tulang punggung sebab dunia pendidikan mampu mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan dalam menghadapi VUCA. Yaitu volatility, perubahan yang cepat, tak terduga, dan tidak terprediksi. Volatility dapat kita atasi dengan cara didik yang tegas. Guru perlu menerapkan visi yang jelas. Artinya, jadwalkan semua hal dengan terprogram. Guru juga perlu menetapkan materi secara kontekstual serta memastikan semua materi telah mengikuti perkembangan zaman.
Uncertainty adalah masa kini yang tidak jelas dan masa depan yang tidak pasti. Semua hal menjadi sulit diprediksi. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, dunia pendidikan memerlukan pengajar yang mampu menjadi fasilitator yang mampu menjadi pendengar yang baik. Guru juga diharapkan mampu melihat perspektif yang berbeda dari para siswa-siswi. Melakukan pembelajaran berdiferensiasi adalah keharusan. Complexity adalah lingkungan yang dinamis dengan banyak ketergantungan antara satu sama lain menyebabkan kekacauan dan kebingungan. Guru sebaiknya lebih banyak memberikan respon, tidak reaktif, dan siap klarifikasi terhadap setiap permasalahan yang ada. Hal ini bertujuan agar tercipta kejelasan dalam mengambil keputusan.
Ambiguity adalah kurangnya kejelasan sudut pandang yang banyak sehingga menimbulkan kebingungan. Guru perlu lebih selektif saat memberikan jalan keluar atau solusi masalah yang sedang dialami siswa. Motivasi guru untuk terus belajar baik secara individu maupun kolaborasi dengan siapa dan di mana, dan kapan saja menjadi salah satu penentu keberhasilan guru untuk mengarahkan siswa.
Pendidikan menjadi salah satu bidang yang dapat menentukan kualitas manusia. Kreatif, cerdas, inovatif, dinamis, dan fleksibel adalah beberapa karakteristik baik yang diharapkan dapat diciptakan oleh dunia pendidikan. Kompetensi tersebut dapat kita pelajari dari dunia akademisi. Sehingga boleh dikatakan bahwa pendidikan adalah ujung tombak penentu kualitas manusia. Karakter peserta didik yang diperlukan dalam menghadapi VUCA adalah berjiwa pembelajar, kreatif dan inovatif, adaptif, resilient, mindset yang dinamis, percaya diri, dan pantang menyerah.
Kehadiran VUCA adalah tantangan bagi dunia pendidikan. Tantangan bagi para guru. Guru yang dimaksud dalam hal ini tak hanya guru di sekolah tetapi juga para orang tua. Tanpa kita sadari VUCA menghadirkan disrupsi. Kekacauan yang secara teknis memengaruhi cara berpikir dan pola hidup manusia. Semua komponen kehidupan tak lagi bisa terus berada di zona nyaman. Anak-anak harus diajarkan untuk lebih fleksibel menghadapi semua perubahan.
VUCA telah menunjukkan taringnya. Hal ini bisa kita lihat dari munculnya berbagai jenis lapangan kerja baru. Muncul jenis pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan, seperti social media manager, UI/UX designer, content creator, SEO specialist, dan data scientist. Munculnya bisnis rintisan berbasis digital juga menjadi penanda bahwa VUCA telah mendominasi kehidupan.
Fenomena VUCA telah memasuki ranah pendidikan. Dunia pendidikan sedang menghadapi jurang teknologi informasi. Hal ini terjadi karena guru berada dalam posisi pembelajar teknologi sedang siswa berada dalam posisi pemakai teknologi secara aktif. Keadaan menjadi kurang menguntungkan karena beberapa guru cenderung mengalami gagap teknologi. Beberapa guru berada dalam zona nyaman. Sulit menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Sudah tua dan menjelang pensiun seringkali menjadi senjata. Dan ini tak hanya terjadi pada guru. Orang tua juga mengalami hal yang sama.
Namun pola pikir semacam ini harus segera diubah. Sebab perubahan itu pasti terjadi. Mendidik di era VUCA harus diikuti dengan pola pikir yang terbuka. Guru harus mampu menjadi agent of change. Guru harus mampu memberi contoh jiwa pembelajar sejati. Begitupun orang tua. Sebab anak tak hanya belajar di sekolah. Anak-anak juga belajar di rumah. Bersama para orang tua. Perubahan yang terjadi karena datangnya VUCA tak perlu ditakuti. Kesulitan yang ditimbulkan, sejatinya akan dapat diselesaikan dengan belajar bersama. Kerja sama banyak pihak.
Intinya semua pihak adalah guru. Semua harus mengikuti perkembangan. Semua harus dalam kondisi siap. Termasuk bersiap menghadapi perkembangan terbaru dunia. VUCA adalah salah satu fenomena yang sedang kita hadapi. Bukan tak mungkin, ke depan kita akan menghadapi tantangan lainnya. Oleh sebab itu, tugas kita adalah bersiap dan memfokuskan diri dengan belajar sepanjang hayat.
*) Penulis adalah guru bahasa Indonesia
SMA Negeri 1 Lumajang Editor : Safitri