Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kesehatan Tanah untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Maulana Ijal • Kamis, 8 Desember 2022 | 17:30 WIB
Penulis: Syahrul Efendi
Penulis: Syahrul Efendi
JEMBER, RADARJEMBER.ID - ALAM ini sebuah warisan dari para leluhur ataukah titipan dari anak cucu kita? Terlepas dari titipan atau warisan, alam harus dilestarikan dalam mempertahankan alam itu sendiri maupun kehidupan makhluk di dalamnya dengan tetap tersedianya pangan. Ketersediaan pangan bermula dari tanah sebagai media tumbuh. Pada hari tanah sedunia 5 Desember 2022 dengan tema Soils: where food begins seharusnya menjadi pengingat kita sebagai manusia untuk menciptakan tanah yang sehat yang dapat menyediakan pangan dengan sehat serta berkelanjutan.

https://radarjember.jawapos.com/opini/07/12/2022/berharap-kembali-pada-pariwisata/

Pangan menjadi hal yang penting untuk setiap orang. Oleh karena itu, diperlukan produksi pangan yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat khususnya di Indonesia. Pemenuhan pangan dimulai dengan menjaga tanah agar tetap sehat sehingga selalu dapat memproduksi hasil pertanian dengan maksimal. Menurut Adawiyah dan Rusdiana (2012), bahwa akhir-akhir ini isu ketahanan pangan kembali menyeruak ketika dilanda bencana alam yang berkepanjangan, sehingga akan terjadi kerawanan pangan apalagi ditambah dengan masalah populasi di dunia yang mencapai 9,5 miliar pada tahun 2050, persaingan sumber daya tanah dan air, perubahan iklim maka untuk mewujudkan ketahanan pangan dilakukan pengembangan sumber daya manusia yang meliputi pendidikan, pelatihan di bidang pangan, penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan dan penyuluhan pangan (Fagi, dkk., 2002). Menurut Swastika (2004), bahwa ketahanan pangan adalah inti pembangunan pertanian yang akan menyelamatkan dari krisis pangan di masa mendatang.

Tanah sebagai Media Alam. Tanah sebagai media tempat menumbuhkan tanaman merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Tanaman dapat tumbuh jika tanah memiliki tiga fungsi, yaitu (1) memberikan unsur-unsur mineral, baik sebagai media pertukaran maupun sebagai tempat persediaan unsur hara; (2) memberikan air dan sebagai penyimpan air; (3) melayani tanaman sebagai tempat berpegang dan bertumpu untuk tegak. Ini berarti tanah mencukupkan unsur hara khususnya NPK dan udara di dalam tanah serta air tanah untuk kehidupan tanaman. Tanaman membutuhkan makanan utama berupa unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium dan unsur hara lainnya, selain cahaya dan air yang dimanfaatkan pada proses fotosintesis. Unsur hara pada umumnya disediakan oleh tanah. Unsur hara tersebut ada yang berasal dari tanah, namun ada juga yang dapat diperoleh dari atmosfer. Seperti, Nitrogen bisa diperoleh tanaman dari atmosfer namun demikian tidak semua jenis tanaman dapat menggunakan N2 dari atmosfer langsung, sehingga perlu dilakukan pemupukan. Tanaman yang dapat memanfaatkan N2 langsung dari atmosfer terutama adalah dari jenis kacang kacangan (leguminosae) sedangkan tanaman padi dan tanaman lainnya tidak dapat menggunakan N2 secara langsung, sehingga perlu mendapatkan sumber N dari pupuk baik organik maupun anorganik.

Untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tanaman maka perlu dilakukan upaya penambahan unsur hara ke dalam tanah, namun, para petani lebih suka jika tanaman lebih responsif terhadap pemupukan. Maka dengan itu petani lebih banyak menggunakan pupuk kimia atau pupuk anorganik.

Menurut Suriadikarta dan Simanungkalit (2006) dampak dari penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus akan berakibat pada penurunan bahan organik di dalam tanah. Sugiyanta et al (2008) menyatakan bahwa aplikasi pupuk anorganik berdosis tinggi dan tidak menambahkan bahan organik menyebabkan kadar bahan organik tanah menjadi sangat rendah dan menjadi pembatas untuk mencapai hasil padi sawah yang tinggi. Sehingga penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dan terus-menerus akan mengakibatkan tanah menjadi kritis.

Berdasarkan data kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tanah kritis yang rusak dan kekurangan unsur hara di indonesia pada tahun 2018 adalah sekitar 14,01 juta hektare. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa kita sebagai manusia yang membutuhkan pangan harus dengan cepat mengatasi permasalahan tersebut. Dengan meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah maka kita sudah ikut menjaga pangan. Karena dari tanah adanya pangan bermula. Para ahli lingkungan khawatir terhadap pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik karena akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh terhadap kecukupan pangan dan kesehatan manusia.

Satu cara penting untuk mewujudkan ketersediaan unsur hara NPK tanah yang sehat adalah dengan memberikan pupuk organik dan pupuk hayati sebagai bahan penyedia hara. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan, limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral, mikroba yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Hartatik dan Setyorini 2012) dan meningkatkan efisiensi pemupukan (Widowati, 2009).

Aplikasi pupuk organik bukan sebagai pengganti pupuk anorganik namun sebagai komplemen, sehingga dalam budi daya konvensional pupuk organik sebaiknya digunakan secara terpadu dengan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan. Oleh karena itu terdapat beberapa cara pemberian bahan organik dalam menyediakan, menghadirkan dan melepaskan unsur hara di dalam tanah.

Azolla sebagai pupuk nitrogen. Azolla merupakan ganggang air yang biasa tumbuh pada lahan sawah. Petani biasanya menggunakan azolla sebagai kompos ataupun ditumbuhkan bersama dengan tanaman padi. Namun belum banyak petani yang menggunakan azolla untuk pupuk. Penggunaan Azolla sebagai pupuk, mampu menurunkan penggunaan pupuk anorganik sebanyak 50 persen. Azolla sebagai pupuk organik dapat menyediakan unsur N bagi tanaman hal tersebut dikarenakan azolla memiliki Cyanobacteria yang mampu bersimbiosis dengan Anabea azollae yang dapat memfiksasi unsur N bebas di udara sehingga dapat digunakan bagi tanaman melalui penyerapan akar tanaman. Unsur hara Nitrogen yang terkandung pada kompos Azolla pinnata digunakan sebagai bahan fotosintesis untuk membentuk fotosintat yang akan berperan pada laju pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman dan jumlah daun. Azolla pinnata melepaskan unsur N secara lambat karena memerlukan proses dekomposisi untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman (Soelaksini, 2022).

Pada umumnya unsur hara P sukar tercuci oleh air hujan maupun air irigasi (Marschner, 1986). hal ini disebabkan oleh P yang bereaksi dengan ion lain yang tingkat kelarutannya berkurang dan menjadi senyawa yang tidak mudah tercuci. Sehingga ketika P bereaksi dengan ion lain maka menjadi unsur hara yang tidak tersedia untuk tanaman dan terfiksasi oleh senyawa lain. Pada umumnya petani menambahkan pupuk P yang diberikan lebih tinggi dari kebutuhan tanaman secara terus-menerus. Sehingga tanah berlebih unsur P namun dalam bentuk yang tidak siap diserap oleh tanaman maka unsur tersebut perlu dilepaskan dari ikatannya dengan tanah sehingga dapat diserap oleh tanaman. Aktor yang dapat melepaskan unsur P dari ikatan tanah adalah mikroba pelarut P seperti Bacillus sp., fungi mikoriza dan lain-lain. Untuk itu upaya meningkatkan efisiensi pemupukan P perlu memanfaatkan peran mikroba tersebut. Secara alami mikroba tersebut tersedia di alam namun kuantitas dan aktivitasnya berbeda antara satu lokasi dengan lokasi yang lain tergantung dengan ketersediaan nutrisi dan kesesuaian faktor lingkungan yang diperlukan untuk hidup mikroba tersebut. Faktor kunci untuk kehidupan mikroba sehingga aktif tumbuh dan berkembang adalah kecukupan bahan organik sebagai sumber energi dan nutrisi. Upaya untuk meningkatkan kuantitas dan aktivitas mikroba fungsional yang mampu melarutkan fosfat dari ikatannya dengan tanah adalah menambahkan pupuk hayati ke dalam tanah. Kemampuan mikroba pelarut fosfat melakukan hidrolisis senyawa itu dengan mengeluarkan enzim sehingga P lepas sebagai P anorganik yang dilepaskan dalam larutan tanah sehingga P dapat tersedia bagi tanaman (Rosmarkam & yuwono, 2002).

Kalium sebagai salah satu hara esensial diperlukan tanaman dalam jumlah banyak dan memegang peranan penting dalam proses metabolisme mulai dari proses fotosintesis, translokasi asimilat hingga pembentukan pati dan protein (Karama et al, 1992). Tanpa pengembalian jerami ke lahan akan terjadi penguraian kalium, sebaliknya pengembalian jerami ke lahan akan terjadi pengayaan kalium pada perlakuan pupuk anorganik (Sukarjo et al, 2017). Namun dengan semakin tingginya biaya pupuk anorganik terutama KCl dan petani kurang dapat menjangkaunya, maka jerami dapat digunakan sebagai alternatif penggantinya. Jerami padi mengandung 1,24 persen K, sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk K anorganik (Sri Rochayati et al., 1990;Odjak, 1992). Jerami berperan meningkatkan efisiensi pemupukan kalium (Wihardjaka, 2015).

Untuk mendukung tanah yang sehat dan untuk menjaga pangan marilah menciptakan pertanian yang berkelanjutan. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan bahan organik di dalam tanah setidaknya dengan mengembalikan bahan sisa panen ke dalam lahan. Dengan menambahkan bahan organik maka tanah akan lebih remah, unsur hara lebih mudah tersedia bagi tanaman, dan mikroorganisme tanah akan lebih beragam sehingga tanaman akan terjamin kehidupannya. Setidaknya dengan penggunaan pupuk organik pada budi daya pertanian kita ikut menjaga pertanian yang berkelanjutan dan ketersediaan pangan. Salah satu indikator negeri yang makmur adalah dimana pangan tetap tersedia.

*) Penulis adalah alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember dan masih menempuh pendidikan Magister Ilmu Tanah Universitas Sebelas Maret, Surakarta Editor : Maulana Ijal
#Tanah #Ketahanan Pangan