Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Culture Shock Mal Pertama di Kota Tape

Safitri • Jumat, 11 November 2022 | 18:05 WIB
Oleh: Mustain Ibad
Oleh: Mustain Ibad
Pada Jumat, 28 Oktober 2022, Bondowoso telah resmi memiliki mal dengan nama Citiplaza. Mal pertama di wilayah Kota Tape. Adanya mal ini seolah menjadi penyegar bagi masyarakat Bondowoso. Karena sebelumnya, untuk menikmati mal biasanya masyarakat akan pergi ke daerah lain yang sudah berdiri mal lebih dulu.

Pemberitaan tentang dibukanya mal di Bondowoso menjadi viral sampai tingkat nasional. Bahkan sekelas G-TV, Detik, Mojok, maupun media-media lain menyoroti tentang mal baru ini. Bukan soal tampilan megahnya, ataupun efek domino secara ekonomi yang akan dirasakan oleh masyarakat. Tapi, narasi yang beredar adalah tentang gambaran sikap yang mencerminkan kondisi sosiokultural masyarakat ketika datang ke mal tersebut.

Seperti berita yang terbit di detik.com pada tanggal 29 Oktober 2022 yang berjudul “Tingkah Warga Bondowoso Sambut Mal Baru: Lesehan Bawa Bekal ala Piknik”. Atau berita yang terbit di travel.detik.com pada keesokan harinya, dengan judul “Tak Cuma Piknik di Mal Baru, Warga Bondowoso Heboh Lihat Eskalator”. Berita ini mengulik tentang bagaimana masyarakat Bondowoso bertingkah lucu, menggelitik, dan bagi sebagian orang dikatakan norak atau kampungan. Seperti komentar sindiran di kolom berita tersebut “Gimana mereka kalo disuruh naik MRT di Jakarta ya”, “Ambil wudhu dulu mungkin sebelum naik”, atau komentar sarkas seperti “Malu-maluin Pulau Jawa aja”, dan komentar sarkas nan lugas lain seperti “Ndeso”.

Bondowoso merupakan daerah dengan mayoritas penduduk asli berprofesi sebagai petani dengan kultur keagamaan yang kuat. Di daerah ini, melihat warga menggunakan sarung ketika pergi ke mana-mana merupakan hal lumrah. Karena pendidikan pesantren adalah pendidikan mayoritas yang ditempuh oleh masyarakat. Keterbukaan akan informasi dan budaya luar juga belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat.

Masyarakat Bondowoso tampaknya mengalami culture shock ketika dihadapkan dengan pembangunan mal pertama dengan segenap fasilitasnya. Pelayanan konseling dan psikologi terapi Universitas Kansas, Amerika Serikat, menuliskan, “culture shock is a normal process of adapting to a new culture. It is a time when a person becomes aware of the differences and/or conflicts in values and customs between their home culture and the new culture they are in”. Kita akan mengalami culture shock ketika dihadapkan dengan hal-hal yang baru. Tampaknya, inilah kondisi yang terjadi dengan sikap pengunjung mal yang di tangkap oleh beberapa media kemudian menjadi narasi yang unik.

Culture shock kadang mencirikan sedikit norak atau kampungan. Namun hal ini merupakan prilaku yang biasa dialami oleh siapa saja dengan latar belakang apa saja. Akan ada subjek yang akan mengatakan norak, dan objek yang dikatakan norak. Subjeknya adalah orang yang telah lebih dahulu mengetahui tentang hal yang baru dan telah menyesuaikan diri. Dan objeknya adalah dia yang mengetahui belakangan dan gagap saat menggunakan. Contohnya ketika kita dihadapkan pertama kali oleh teknologi komputer, ataupun smartphone. Bayangkan, betapa gagapnya kita saat pertama kali menggenggam smartphone, dan menjadi lazim ketika dinilai kampungan oleh pihak yang lebih dulu piawai mengoperasikannya.

Contoh lain juga seperti ketika kita pertama kali menggunakan toilet duduk. Kita akan merasakan culture shock hanya karena belum terbiasa duduk ketika sedang buang air besar. Beberapa orang mungkin akan lebih memilih kloset jongkok ketika ada pilihan, begitu juga sebaliknya. Sama seperti gagapnya sebagian pengunjung mal ketika bertemu dengan fasilitas seperti eskalator atau tangga berjalan. Bedanya hanya jika di toilet tidak ada yang bisa merekam bebas seperti ketika di mal. Sehingga keluguan dan kebingungan orang menghadapi kloset duduk pertama kali tak pernah viral.

Pun ketika ada orang kota berkunjung ke desa lalu menikmati suasana dengan berjalan menyusuri sawah. Terasa aneh karena mereka membuka sandal. Kampungan sekali itu. Bukannya jalan di sawah itu kotor ya? Atau karena licin dan takut tali sandalnya putus? Mungkin saja iya, karena seperti itulah kurang lebih kulturnya mereka. Wajarlah ketika takut jatuh, kemudian tali sandalnya putus karena memikirkan properti pribadi. Beda halnya dengan yang membuka sandal ketika hendak naik eskalator. Datang dengan kultur budaya mengedepankan sopan santun dan mengutamakan kepentingan bersama, membuka sandal karena takut sandalnya mengotori fasilitas tangga berjalan yang merupakan fasilitas umum sebenarnya serasa lebih beradab dan berbudaya.

Namun, dalam konteks ini, pola penyesuaian tidak akan berlangsung lama. Akan ada masanya si manusia kota berlari-lari mengitari sawah ketika masa pensiunnya harus dihabiskan untuk bertani lalu segera menyesuaikan diri dengan keadaan. Akan ada pula masanya si gugup menaiki eskalator dengan sikap yang wajar memilih berbelanja di mal karena tak perlu repot-repot lagi untuk naik tangga.

Pada akhirnya kita adalah manusia norak dan kampungan pada tempatnya. Beberapa orang akan gagap ketika melihat tangga berjalan, beberapa orang yang lain juga tercengang ketika melihat dan berinteraksi dengan hal baru. Tapi kenorakan itu tidak akan berlangsung lama. Akan ada masanya, sampai terjadi adaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada. Selama dunia masih berputar dan terus bergerak maju, kita akan terus melakukan kenorakan-kenorakan lain sekaligus melihat kenorakan yang orang lain lakukan.

*) Penulis adalah Analis Tata Praja di BKPSDM Bondowoso

  Editor : Safitri
#opini