Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sumpah Pemuda Generasi Digitalisasi

Safitri • Rabu, 2 November 2022 | 19:36 WIB
Oleh: Yuliatin Azizah
Oleh: Yuliatin Azizah
Sumpah pemuda sebagai sumpah termasyhur menjadi tonggak sejarah pergerakan para pemuda-pemudi Indonesia merebut kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengibarkan semangat dengan menyatakan janji satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Bahwa pemuda bersatu tidak ada yang mampu mengalahkan. Bahkan  Bung Karno memberikan keyakinan yang sangat terkenal tentang pemuda yaitu, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Begitu dahsyat kekuatan pemuda, begitu pula yang terjadi di tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari sumpah pemuda.

Isi Sumpah pemuda tentu kita menghapal bersama bahwa "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia" "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia" "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia". Kekuatan bersatu kekuatan terdahsyat untuk dapat memperjuangkan bangsa Indonesia.

Rapat pertama 27 Oktober 1928 Dilansir dari Gramedia.com peristiwa sumpah pemuda terjadi dengan dimulainya rapat tersebut digelar di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Soegondo dalam sambutannya berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Tanggal 28 Oktober 1928 rapat kedua diselenggarakan di Gedung Oost-Java Bioscoop dengan bahasan utama seputar pendidikan. Kedua pembicaranya terdiri atas Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, yang sependapat bahwa setiap anak harus mendapat pendidikan kebangsaan. Selain itu, setiap anak juga harus dididik secara demokratis dan ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dengan di rumah. Rapat yang ketiga diselenggarakan di Gedung Indonesische Clubhuis Keramat yang kini diabadikan sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Pada sesi ini Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.

Jiwa nasionalisme yang dimiliki dengan kemampuan pendidikan yang mumpuni mampu menggerakkan pemuda menjadi penggerak perubahan zaman. Tidak hanya peristiwa sumpah pemuda tentu kita ingat bahwa pemuda lah yang selalu menjadi tombak perjuangan, memaksa bung Karno untuk membacakan teks Proklamasi kala itu agar Indonesia segera merdeka. Para pemuda terus mendesak para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan; “Apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk! Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memproklamasikan kemerdekaannya? Mengapa bukan kita yang menyatakan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?” Desak pemuda saat itu agar Bung Karno segera membacakan Kemerdekaan RI (Setneg RI)

Tentunya masih segar dalam ingatan di tahun 2008 para pemuda yang menjadi pengubah menuju era reformasi dengan melengserkan Presiden Soeharto menjunjung aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara kala itu. Pemuda adalah agent of change pengubah Indonesia dan tentunya itu berlaku sekarang hingga akhir masa.

Indonesia juga memiliki kesempatan emas karena menurut BPS (2022) Sejak tahun 2012 hingga tahun 2035 Indonesia diperkirakan memasuki masa bonus demografi dengan periode puncak antara tahun 2020-2030. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai dua kali lipat jumlah penduduk usia anak dan lanjut usia. Jumlah penduduk usia produktif yang besar menyediakan sumber tenaga kerja, pelaku usaha, dan konsumen potensial yang sangat berperan dalam percepatan pembangunan. Publikasi Analisis Profil Penduduk Indonesia, Mendeskripsikan Peran Penduduk dalam Pembangunan merupakan analisis hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) dan sumber data terkait lainnya yang menyajikan informasi tentang dinamika penduduk dan profil penduduk usia produktif, anak-anak, dan lanjut usia.

Harapan emas kita di tangan pemuda. Mungkin ada sedikit risau “apa yang bisa dilakukan kaum rebahan inieits….mereka rebahan karena berselancar secara teknologi di dunia. Kaum ini akan menjadi kaum perubahan. Menaklukkan ilmu pengetahuan dari teknologi yang sekarang ada di masanya. Kaum kolonial pernah jaya dengan kerja keras tapi sekarang kaum digital sebagai penerus tongkat estafet mengembangkan pengetahuan dengan karya digital yang ditaklukkan tanpa keringat tapi tetap penuh perjuangan.

Semua hal mampu dikerjakan dengan teknologi yang sesuai. Hal berat/susah akan jauh lebih mudah dengan teknologi. Pertanian, perikanan, peternakan, pemasaran dapat dipermudah dengan teknologi. Kesempatan tersebut menjadi tantangan utama generasi pemuda digital teknologi ini yaitu dalam perkembangan digital adalah agar tidak lupa apalagi terhanyut kemudian menjadikan diri secara sukarela menjadi korban dari sisi negatif kemajuan teknologi.

Bersumpahlah pemuda yang kini hidup di zaman digital sebagai putra dan putri Indonesia, mengaku bahwa "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia" "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia" "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia". Dari sumpah tersebut akan selalu menjunjung ilmu pengetahuan untuk memilih sisi positif kemajuan teknologi. Karena pemuda adalah pemegang peran penting subjek pembangunan menjadi agen perubahan untuk lingkungannya, melalui partisipasi aktif pemuda dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Global sedang terpuruk. Perekonomian kita tidak baik-baik saja. Maka perlu kerja keras dari semua generasi. Harus disadari bersama bahwa bersama-sama menciptakan dunia kecil kita masyarakat lingkungan kita menjadi lebih baik. Berkiprah di dunia digital, membantu orang tua melalui dunia digital dan membuka lapangan kerja baru di dunia digital. Gali potensi diri, potensi wilayah dan potensi Indonesia untuk membuka berbagai kesempatan peluang kemudian terhubung dengan dunia luar. Membuka terobosan-terobosan yang mampu menciptakan peluang potensi baru. Bersumpah demi bangsa Ini melangkahkan teknologi ke arah yang lebih baik. Menjadi agen perubahan agar teknologi tidak mengungkung dengan hal negatif membelenggu pemuda dengan keterasingan sosial namun sebaliknya mencipta pemuda teknologi yang penuh karya.

*) Penulis adalah dosen Institut Teknologi dan Sains Mandala (ITSM)

 

 

  Editor : Safitri
#opini