Ijen Geopark adalah sebuah kawasan taman bumi yang berlokasi di 2 wilayah, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jatim. Mengutip definisi versi UNESCO, Ijen Geopark memenuhi syarat sebagai kawasan yang memiliki unsur geologi terkemuka (outstanding). Di mana masyarakat setempat juga berperan serta melindungi warisan alam tersebut. Berdasarkan Perpres Nomor 9 Tahun 2019 geopark adalah sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki situs warisan geologi (geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek warisan geologi (geoheritage). Keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity). Geopark ini nantinya akan dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah.
Definisi Geopark adalah suatu kawasan yang memiliki arti sebagai sebuah warisan alam (geologi), dan menjadi tempat implementasi strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan yang dilakukan melalui struktur manajemen yang baik dan realistis. Chris Woodley Stewart, manajer geopark di North Pennines AONB, Inggris mendefinisikan geopark tidak hanya berbicara mengenai batuan saja, tetapi juga manusia. Mereka menyatu, dan manusia dapat menikmati tatanan geologi di suatu daerah. Tujuannya adalah memaksimalkan geowisata yang mendatangkan keuntungan bagi ekonomi lokal, selain membantu orang untuk memahami perkembangan bentang alam di daerahnya.
Geopark yang merupakan warisan geologi yang mempunyai nilai ilmiah (pengetahuan), jarang memiliki pembanding ditempat lain (langka), serta mempunyai nilai estetika dalam berbagai skala. Nilai-nilai itu menyatu membentuk kawasan yang unik. Selain menjadi tempat kunjungan dan objek rekreasi alam budaya, geopark juga berfungsi sebagai kawasan lindung dan sebagai situs pengembangan ilmu pengetahuan kebumian. Sebagai warisan alam, kawasan sumberdaya geologi di banyak tempat teridentifikasi merupakan daerah padat penduduk dan di dalamnya telah terjadi kegiatan ekonomi. Usaha ekonomi yang banyak dilakukan berupa eksploitasi sumberdaya dari aspek pertambangan (mineral, batu). Meskipun usaha itu terutama yang berskala besar sudah disertai dengan dokumen lingkungan tetapi perubahan bentang alam di segmen daerah yang teridentifikasi memiliki makna sebagai warisan bumi yang perlu dilestarikan tidak dapat dihindari. Dengan demikian geopark menjadi peluang bagi terciptanya lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat, yaitu dalam hal memperoleh keuntungan ekonomi secara nyata.
Usaha penggalian, penumbuhan dan pengembangan nilai ekonomi tersebut biasanya dilakukan melalui industri pariwisata yang berkelanjutan. Di dalam konsep geopark, objek warisan geologi dan pengetahuan geologi berbagi dengan masyarakat umum. Unsur geologi dan bentang alam yang terpetakan diketahui memiliki hubungan dengan aspek lingkungan alam dan budaya. Pemanfaatan sumber daya geologi sebagai warisan alam dari aspek konservasi pun menjadi tidak mungkin dilakukan atau direkomendasikan di tempat tersebut. Geopark atau taman Bumi diawali dengan dicetuskannya ide oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Perkembangan geopark diawali dengan terbentuknya suatu organisasi non pemerintahan yang bertujuan melindungi warisan geologi di negara-negara Eropa bernama Europe Geopark Network (EGN) pada tahun 2001. Selanjutnya UNESCO memfasilitasi dan membentuk organisasi yang mampu menampung lebih banyak lagi negara-negara anggota sehingga terbentuklah Global Geopark Network (GGN) pada tahun 2004.
Konsep geowisata dalam geopark, geopark memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi objek dan daya tarik wisata (geowisata), selain menjadi tempat kegiatan perdagangan dan pembuatan barang kerajinan (geoproducts) seperti cetakan fosil dan cenderamata. Keadaan itu tentunya akan menciptakan lapangan kerja dan penumbuhan ekonomi baru. Sejak tahun 2003 geowisata menjadi salah satu pilihan baru di antara jenis-jenis wisata yang sudah dikenal sebelumnya (wisata alam, wisata budaya, wisata belanja, wisata spiritual, ekowisata dan sebagainya). Geowisata diproyeksikan dapat menjadi sarana penggalian, penumbuhan dan pengembangan nilai ekonomi geopark secara berkelanjutan. Sedang geopark-nya sendiri menjadi wadah pengembangan, dengan sifatnya yang konservatif. Di dalam konsep tata ruang, fungsi lindung dari geopark menjadi prioritas. Eksploitasi nilai ekonomi dalam bentuk mengubah bentang alam secara langsung, atau usaha lain yang jika dilakukan secara berlebihan akan mengurangi fungsi lindung sumberdaya, tentunya tidak mungkin dilakukan di kawasan tersebut. Dengan demikian deliniasi batas geopark yang jelas akhirnya menjadi penting. Melalui konsep pariwisata berkelanjutan dan berbasis pada pengembangan sumberdaya masyarakat setempat, usaha pariwisata menjadi satu-satunya pendukung fungsi pengembangan ekonomi lokal geopark.
Sejalan dengan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan yang diterapkan di seluruh dunia, program geo-education, geoconservation, dan pertumbuhan nilai ekonomi lokal melalui pariwisata harus terus ditingkatkan dan direalisasikan sesuai dengan tujuan dan sasaran membangun sebuah geopark. Tujuan dari pendirian geopark diutamakan untuk pembangunan perekonomian, pendidikan dan konservasi alam. UNESCO sendiri memiliki tujuan untuk menstimulasi keberlangsungan ekonomi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. (Nanik Sisharini, 2009)
Konsep Pariwisata Berkelanjutan, “Pariwisata berkelanjutan mempertemukan kebutuhan wisatawan dan daerah tujuan wisata dalam usaha menyelamatkan dan memberi peluang untuk menjadi lebih menarik lagi di waktu yang akan datang” (Yoeti, 2008). Dari perspektif pariwisata, berkelanjutan berarti berkaitan terhadap lingkungan, budaya, ekonomi dan sosial. Masyarakat dan wisatawan turut memiliki tanggung jawab atas wilayah yang menjadi daerah tujuan wisata agar tetap terjaga.
Pariwisata berkelanjutan bertujuan memenuhi kebutuhan wisatawan saat ini, dengan tetap menjaga keberadaan budaya, ekologi dan keanekaragaman hayati untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial di masa mendatang (WTO, 2009). Untuk mencapai pariwisata berkelanjutan, kegiatan pariwisata harus berorientasi pada alam seperti ekowisata dan pariwisata berbasis alam, karena konsep pariwisata berkelanjutan mengarahkan dan memberikan kesadaran bagi wisatawan yang datang adalah untuk melindungi, bukan untuk merusak daerah yang mereka kunjungi (David Weaver, 2006).
Pembangunan pariwisata berkelanjutan diharapkan dapat menjamin keberlangsungan atau keberadaan sumber daya alam, ekonomi, dan kearifan lokal. Pariwisata berkelanjutan ialah pembangunan pariwisata yang dapat memberikan manfaat jangka panjang kepada perekonomian lokal tanpa merusak lingkungan dan tetap memperhatikan aspek sosial budaya. WTO (2009) mengungkapkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus menganut tiga prinsip baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi yang akan datang yaitu; Ecological Sustainability, Keseimbangan ekologi menjadi tantangan bagi pengelolaan desa wisata karena sebuah desa wisata menyajikan keindahan alam sebagai atraksi utama. Keindahan alam akan tetap terjaga apabila kebersihan terus ditingkatkan melalui pengelolaan sampah, Social and Cultural Sustainability, Keberlanjutan sosial budaya ialah aspek yang harus diperhatikan karena berkaitan erat dengan kebudayaan yang mencakup kehidupan atau keseharian masyarakat lokal seperti sistem pertanian tradisional, Economic Sustainability, Aspek ekonomi yaitu berkaitan dengan pendapatan yang diterima secara langsung oleh masyarakat local di wilayah geopark, baik dari usaha di bidang pariwisata maupun profesi sebagai seorang guide lokal. Aspek ekonomi yang berkelanjutan dari geopark menjadi sebuah tantangan mengingat belum 100 persen masyarakat lokal terlibat dalam bidang pariwisata. Sebagai sebuah geopark, Ijen Geopark harus memiliki perbaikan yang signifikan terhadap perekonomian lokal dengan upaya memberdayakan seluruh masyarakat yang berpotensi menjadi guide, karena pendapatan diperoleh langsung dari wisatawan, Mengelola sistem keuangan atau pendapatan dari sektor pariwisata agar merata kepada seluruh masyarakat lokal, Mengatur kerja sama dengan travel terhadap hasil dari paket wisata, Ijen Geopark harus mengembangkan dan memfasilitasi kreativitas para perajin lokal, untuk dapat membuka peluang usaha kerajinan lokal. Dengan demikian cita-cita untuk menjadikan Ijen Geopark dalam meningkatkan perekonomian bisa berjalan beiringan dengan pelestarian alam dan budaya setempat.
*) Penulis adalah masyarakat Jurangsapi, Kecamatan Tapen, Bondwooso. Juga Pengajar Vokasi di SMKN 1 Banyuwangi dan Pemerhati Pariwisata. Editor : Safitri