Jika kita buka lembaran sejarah negara pada tahun 1945, 28 Mei sidang BPUPKI dibuka dan 29 Mei hingga 1 Juni para pendiri bangsa duduk dalam forum membahas dasar – dasar negara. Konon kata John Titaley, tiga kekuatan ideologis dengan sengit bertarung dalam sidang itu adalah Nasionalisme, Islam, dan Sosialisme/Marxisme. 22 Juni BPUPKI membentuk panitia kecil (9 orang) berusaha keras mengintegrasikan gagasan hingga membuahkan hasil Piagam Jakarta.
Pada tanggal 18 Agustus Perdebatan panjang itu akhirnya menemukan titik temu: Pancasila dengan ke-5 sila yang kita kenal hari ini sebagai jalan tengah. Dan dengan lapang, semua agama, kepercayaan, dan etnik menerimanya. Pancasila sebagai dasar negara hasil dari sebuah kompromi agung, dari konsensus para pendiri bangsa dengan melihat fakta sosiologis masyarakat Indonesia yang heterogen sekaligus mempertimbangkan fakta teologis yang menjadi keyakinan masyarakat negeri kepulauan.
Pancasila jadi payung yang menaungi semua keragaman dan memberikan jaminan tentang tekad hidup dalam NKRI. Pancasila inilah sejatinya yang menjadi perekat kukuhnya negara persatuan. Padahal, sebelumnya masih berupa puak yang terserak, kerajaan tersebar dengan bahasa dan budaya yang juga berlainan.
Asas tunggal Orde Baru
Rekaman panjang masa orde baru dalam kaitan dengan Pancasila tidak boleh kita lupakan, kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) khususnya. Orde Baru meski dari pagi ke pagi mendengungkan kembali Pancasila dan UUD 1945, dalam praktiknya, Pancasila telah dikerdilkan menjadi sebuah ”ideologi tertutup”, dikerangkeng dalam penafsiran tunggal. Di luar tafsir penguasa dianggap bidah dan berbahaya. Pancasila lengkap dengan P4-nya dijejalkan kepada publik lewat indoktrinasi, pemaksaan dan jauh dari yang disebut Jurgen Habermas penciptaan ruang deliberatif bagi terjadinya percakapan yang mengedepankan kesetaraan dan kekuatan nalar.
Penerapan apa yang disebut “Asas Tunggal Pancasila” pada tahun 1985 pemerintahan Suharto, dimaksudkan semua organisasi yang ada di Indonesia harus menerapkan Pancasila sebagai asasnya. Hal ini menjadi sebuah hal dilematis tersendiri bagi kader HMI. Hingga akhirnya sesuatu yang tidak diinginkan banyak orang terjadi pada kongres HMI di Padang.
Kongres ke-16 di Padang pada 1986, HMI pecah menjadi dua, yaitu biasa kita kenal dengan nama HMI DIPO dan HMI MPO. Hal ini terjadi lantaran HMI yang notabene adalah organisasi yang berasaskan Islam harus diganti dengan Pancasila. Kader yang menerima HMI berasaskan Pancasila disebut kader HMI DIPO sedangkan sisanya kader yang tetap setia pada HMI yang berasaskan Islam membentuk sebuah Majelis Penyelamat Organisasi atau biasa kita kenal HMI MPO.
Di atas merupakan contoh kecil, bagaimana tafsiran Pancasila menyebabkan perpecahan dalam tubuh HMI. Sebagai organisasi mahasiswa Islam terbesar dan tertua di Indonesia, perselisihan itu merupakan tragedi representasi di mana dalam dimensi kaum intelektual masih memperdebatkan tafsir Pancasila. Hal ini mempertontonkan kepada masyarakat seakan-akan ada tabir antara Pancasila dengan Islam.
Hubungan agama dan negara telah lama dipercakapkan oleh bangsa kita. Hingga hari ini pun masih ramai dibicarakan. Di sidang-sidang konstituante beberapa dasawarsa lalu, salah satu tema yang hangat diperdebatkan adalah posisi agama kaitannya dengan negara. Apakah mau mengambil pilihan negara agama atau negara sekuler. Seharusnya perdebatan ini selesai pada konsensus 18 Agustus 1945.
Solusi Ideal
Indonesia dengan heterogenitasnya merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Untuk itu, harus dikembangkan dan dibina. Sebaliknya apabila tidak dikelola dengan benar akan berkembang menjadi sesuatu yang menakutkan. Dulu keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang paling dibanggakan, dibangun atas dasar tujuan dan kepentingan bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia.
Saat ini, keberagaman sering dipandang sebagai perbedaan. Perbedaan semakin dipertajam dan sering menimbulkan konflik horizontal yang menyebabkan terpuruknya bangsa Indonesia. Beberapa tahun ke belakang kerusuhan terjadi dimana-mana.
Di Kalimantan Barat terjadi konflik etnis yang menyebabkan korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Di Ambon dan Poso terjadi konflik antarpenganut agama yang hampir menyeret bangsa ini ke jurang kehancuran. Di Papua sering terjadi perang antarsuku yang menelan banyak korban jiwa, dan ini dianggap suatu tradisi untuk mempertahankan gengsi dan prestise. Perselisihan terjadi di mana-mana, antarpendukung kesebelasan sepak bola, antarormas, antarmahasiswa, tawuran antarpenonton pergelaran musik, antarpadepokan silat, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan warga masyarakat sudah hilang, yang ada perbedaan ideologi dan kepentingan, apabila berbeda kepentingan dan ideologi dianggap lawan.
Di sinilah menjadi sangat penting Pancasila dengan moderasinya dijadikan sebagai solusi ideal dalam menghadapi problematika bangsa yang kompleks. Pancasila lengkap dengan ke-5 butir hasil musyawarah 18 Agustus 1945. Jangan sampai salah memahami, Pancasila hari ini bukanlah Pancasila 1 atau 22 Juni. Tak semata bernostalgia, tetapi menyempurnakan cara bernegara supaya menemukan adabnya sekaligus memberikan jaminan kepada mereka yang berbeda. Kita butuh Pancasila bukan karena Pancasila sifatnya mutlak, melainkan justru karena komitmen bersama untuk merawat bangsa ini. Mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat bahwa Pancasila tidak sama sekali bertentangan dengan agama (Buya Hamka), mengingatkan bahwa bangsa ini bukan milik satu kelompok, melainkan milik bersama sebagai “warisan” leluhur bangsa yang telah memperjuangkannya dengan berdarah-darah.
Sebagai bangsa yang besar dengan cita-cita luhur dan jelas, suasana negara yang kita impikan bersama agar tidak menjadi utopis, maka wajib hukumnya menghayati serta mengamalkan Pancasila. Pancasila sebagai “Jalan Tengah” diantara persimpangan agenda keagamaan, agenda kenegaraan dan kebangsaan. Sebagaimana tempo dulu melihat realitas masyarakat majemuk, Muhammad SAW menampilkan “Piagam Madinah” sebagai dasar dan komitmen bermasyarakat.
*) Penulis adalah Ketua Umum HMI Komisariat Supel UIN KHAS Jember
Editor : Safitri