Meskipun konten Gucci Model Challenge ini hanya untuk kesenangan semata, tapi dari challenge ini kita secara tidak sengaja bisa melihat seberapa banyak koleksi pakaian maupun aksesori yang dimiliki oleh setiap orang, baik dari kalangan artis maupun masyarakat biasa. Bahkan satu orang bisa memiliki koleksi baju, tas, hijab, sepatu dan aksesori lebih dari 5 lemari. Dari banyaknya video yang berseliweran di media sosial terlihat baju-baju tersebut masih terbungkus rapi dalam plastik yang menandakan bahwa baju tersebut hanya di pakai sesekali dalam acara tertentu saja.
Di dalam lemari setiap orang terlihat rata-rata penuh sesak dengan koleksi fashion yang di miliki. Pertanyaannya apakah koleksi fashion tersebut digunakan setiap hari? Apakah pakaian dan aksesori tersebut sudah di manfaatkan dengan baik atau hanya jadi barang koleksi saja, yang dalam setahun hanya digunakan sebanyak 2-3 kali. Apa pentingnya pertanyaan ini? Sebenarnya hal ini sangat penting, karena berkaitan erat dengan isu kelestarian lingkungan.
Berkembangnya industri fashion di satu sisi berpengaruh baik, karena dapat menyerap tenaga kerja, namun kebiasaan kita menggunakan dan mengonsumsi pakaian secara berlebihan juga akan memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan termasuk penurunan kualitas udara dan air. Industri fast fashion di produksi dengan biaya murah, kualitas rendah dan kemudian dijual dengan harga murah. Para pebisnis fast fashion ini mengandalkan keinginan konsumen untuk selalu up to date pada tren terkini, sehingga terjadilah pembelian konstan dan impulsif. Perserikatan bangsa-bangsa menyebutkan bahwa industri fashion sebagai industri nomor dua yang paling banyak menghasilkan polutan, yakni menghasilkan 8 persen dari total emisi karbon dan 20 persen dari total limbah global, angka emisi dan total limbah ini diperkirakan akan terus meningkat sekitar 50 persen hingga tahun 2030. Dari mulai awal produksinya industri fashion juga bertanggung jawab terhadap pencemaran air, karena dalam produksi tekstil digunakan air sekitar 79 triliun liter air per tahun dan menyumbang sekitar 20 persen limbah cair industri. Limbah industri tekstil yang mengandung pewarna Azo dan senyawa antara bersifat sangat karsinogenik dan mencemari beberapa sungai dan badan air, terutama di banyak negara Asia.
Lalu bagaimana cara menanggulangi limbah yang dihasilkan oleh industri fashion? Banyak cara yang telah dilakukan untuk mengurangi efek air limbah yang disebabkan oleh industri fashion ini di antaranya adalah dengan melakukan donasi pakaian kepada korban bencana alam dengan harapan pakaian tersebut dapat berguna bagi orang lain, namun faktanya tidak semua pakaian tersebut bisa tersalurkan karena mengalami kerusakan mayor sehingga tidak layak pakai dan berakhir menjadi sampah.
Usaha lainnya adalah dengan kerja sama yang baru-baru ini dilakukan oleh Kementerian PPN/ BAPPENAS dan kerajaan Denmark dalam usaha mengomunikasikan ekonomi sirkular kepada masyarakat Indonesia. Dengan konsep ekonomi sirkular ini diharapkan konsumen semakin jeli meneliti produk yang dibelinya dan memahami kandungan bahan baku tekstil yang tidak berbahaya untuk menghindari pencemaran oleh limbah tekstil. Namun, butuh waktu agar informasi dan sosialisasi ini sampai ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Konsep ekonomi sirkular ini juga akan semakin teraplikasi dengan baik, jika masyarakat mulai menerapkan gaya hidup minimalis. Melalui gaya hidup minimalis ini kita bisa melatih kesadaran untuk mengurangi pembelian yang impulsif. Artinya kita hanya akan membeli barang yang memang benar kita butuhkan, bukan yang kita inginkan sesaat, jadi kita harus memanfaatkan barang yang kita miliki dengan semaksimal mungkin. Selain itu kita belajar tentang arti bersyukur dan merasa cukup (tidak berlebihan) sehingga bisa membantu upaya kelestarian lingkungan.
Dalam hal air limbah dari industri tekstil, green teknologi adalah kunci untuk mengurangi polusi lingkungan dan jejak karbon, guna mempertahankan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan. Untuk mengembangkan lingkungan yang ramah seperti itu, mikroalga dapat dijadikan sebagai pilihan pertama yang layak karena kemampuannya memfiksasi karbondioksida menjadi produk biomassa yang bernilai. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di India oleh Behl et al., 2019 dalam jurnal ”Performance evaluation of isolated electrogenic microalga coupled with graphene oxide for decolorization of textile dye wastewater and subsequent lipid production”, mikroalga Desmodesmus sp. yang memiliki kemampuan EET (Extracelullar Electron Transfer) tinggi digabungkan dengan nanosheet graphine oxide untuk merangsang degradasi ikatan kimia dalam pewarna Azo menjadi amina primer. Amina primer inilah yang selanjutnya diasimilasi oleh mikroalga sebagai sumber nitrogen untuk produksi lipid. Lipid ini kemudian digunakan untuk pembuatan biodiesel yang bermanfaat di sektor transportasi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan spesies mikroalga lainnya yang potensial serta teknologi terbaru yang dapat mengurangi efek air limbah yang dihasilkan oleh industri tekstil.
*) Penulis adalah mahasiswa S-3 Program Doktor Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
Editor : Safitri