Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menumbuhkan Budaya Kerja di SMK

Ivona • Jumat, 3 September 2021 | 19:23 WIB
Photo
Photo

PENGEMBANGAN dan penerapan pendidikan karakter kerja siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan hal yang pokok dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas lulusan SMK. Hal ini tertuang dalam penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sekolah menengah kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja.


Dalam Perpres Nomor 87 tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, kemudian dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan SMK/MAK, khususnya standar kompetensi lulusan terdapat sembilan area kompetensi. Salah satu area kompetensi tersebut adalah karakter pribadi dan sosial lulusan SMK/MAK. Pengembangan karakter kerja bagi siswa SMK merupakan aspek penting dalam menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan berhasil dalam pekerjaannya. Siswa SMK harus dipersiapkan untuk menghadapi persaingan dan tantangan dalam bekerja di dunia usaha dan industri. Bekerja di dunia usaha dan industri berbeda dengan lingkungan sekolah, sehingga diperlukan adanya pengembangan karakter kerja meliputi pembinaan ketahanan mental, disiplin kerja, ketahanan fisik, dan perilaku positif siswa.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara stakeholder, baik pemerintah, masyarakat, maupun orang tua. Tanggung jawab bersama tersebut merupakan tanggung jawab dalam mempersiapkan generasi muda dalam rangka menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa depan serta mempersiapkan pemimpin-pemimpin di masa depan. Keberlangsungan tersebut ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki bangsa dan negara.

Pengembangan penguatan budaya kerja bagi peserta didik SMK merupakan aspek penting dalam menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan berhasil dalam pekerjaannya. Peserta didik SMK harus dipersiapkan untuk menghadapi kondisi dan tantangan industri, dunia usaha dan dunia kerja. Penguatan budaya kerja bagi peserta didik menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu peserta didik. Peserta didik dan guru sebagai sumber daya manusia yang potensial perlu memiliki bekal pemahaman dan penguasaan bidang tertentu baik pemahaman dan penguasaan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, agama, seni, olah raga, keterampilan, kewirausahaan, dan sebagainya.

Karakter kerja yang dibutuhkan dunia kerja meliputi etika kerja, rasa keingintahuan, sifat dapat dipercaya, disiplin diri, kejujuran, komitmen, tanggung jawab, respek terhadap diri sendiri dan orang lain, toleransi, kerja keras, hubungan kerja yang baik, integritas, perilaku yang baik, komunikasi, kegigihan, motivasi kerja tinggi, kerja sama yang baik, inisiatif, keberanian, moral, kerajinan, daya adaptasi, pengendalian diri, pembelajar yang cepat, keinginan untuk belajar hal-hal yang baru, kemampuan cara belajar, keluwesan, dan kewirausahaan (Slamet, 2011).

Pendidikan karakter kerja merupakan proses pendidikan yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan lulusan yang memenuhi persyaratan karakter kerja di dunia kerja, baik sebagai pekerja maupun mandiri. Karakter seseorang tumbuh dan berkembang atas dua kekuatan, yaitu berasal dari dalam yang berupa faktor biologis dan kekuatan dari luar yang berupa faktor lingkungan. Pembentukan karakter dapat dibentuk oleh sebuah proses kebiasaan yang terjadi secara terus menerus yang ditanamkan melalui budaya sekolah. Pendidikan di sekolah dapat membentuk karakter peserta didik sampai peserta didik lulus dari sekolah. Pembentukan karakter merupakan pikiran yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya.

Implementasi karakter kerja melalui proses pembelajaran di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Karakter kerja dapat diintegrasikan melalui mata pelajaran yang lebih banyak menekankan praktik, namun tidak menutup kemungkinan diintegrasikan melalui mata pelajaran yang lebih menekankan teori. Meskipun sebenarnya antara teori dan praktik merupakan satu kesatuan. Karakter kerja lulusan SMK dalam memasuki dunia kerja/industri ataupun usaha mandiri mutlak harus dimiliki agar sesuai yang diinginkan oleh dunia kerja/industri ataupun usaha mandiri.

Bagaimana caranya?

  1. Membangun Tim Kerja Sekolah (Character Building), adalah tahapan dan metode penerapan kerja kolaboratif dalam masyarakat sekolah. Dalam aktivitas ini peserta diorientasikan pada pemahaman terhadap urgensi kerja bersama dengan menampilkan potensi kekuatan dan keunggulan masing-masing untuk dijadikan determinan keberhasilan kerja tim.

  2. Pembinaan Kedisiplinan, merupakan latihan pembiasaan dalam mematuhi dan mentaati peraturan yang berlaku serta kesepakatan yang telah diputuskan bersama. Seluruh peserta didik berkewajiban untuk mengikutinya tanpa ada penolakan mengingat hal ini akan berdampak pada kebiasaan peserta didik dalam bekerja. Nilai-nilai taat azas serta budaya kerja yang mendasari seperti budaya 5R, 3C, 5M, dan sebagainya dapat mengarahkan semuanya, baik peserta didik maupun para guru dan tenaga kependidikan, untuk lebih mudah memahami dan melaksanakannya.

  3. Pembinaan Ketarunaan, merupakan latihan aplikasi konkrit dalam perilaku sehari-hari sebagai seorang peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. Seorang peserta didik akan terikat oleh komitmen ketarunaan yang merupakan tanggung jawab dan perilaku jati diri peserta didik.

  4. Pembiasaan Kerohanian, merupakan latihan berkelanjutan untuk mempersiapkan rohani diri seorang peserta didik yang mengakui Tuhan Yang Maha Esa dan menerapkan nilai-nilai religius dalam kehidupan di lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.

  5. Pengarahan Minat dan Bakat, merupakan layanan yang tersedia di sekolah di dalam mendampingi taruna selama mengikuti proses kegiatan belajar dari masuk hingga lulus sekolah.

  6. Pembentukan dan Pembudayaan Karakter Kerja, merupakan penguatan karakter peserta didik dalam melakukan kegiatan profesionalisme sesuai bidangnya melalui harmonisasi olah fisik, olah rasa, olah pikir, dan olah raga atas dasar latihan dan pembiasaan sikap perilaku dan tanggung jawab ketarunaan. Semua dicapai dengan cara melibatkan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat/DU-DI. Di dalamnya terdapat kontrak belajar yang merupakan janji yang disepakati baik oleh peserta didik, orang tua, maupun sekolah dalam kaitannya seorang lulusan memiliki komitmen bekerja tanpa memilah pekerjaan.

  7. Penerapan budaya kerja di industri, ciri budaya kerja di industri adalah budaya kerja yang produktif, disiplin, peduli, tanggung jawab, dan jujur dengan sikap kerja yang benar agar selamat dan sehat dalam bekerja. pendidikan vokasi, dengan berbagai kondisi dan situasi yang ada, membuat siswa menjadi kurang dapat beradaptasi dengan tempat kerjanya kelak.


Budaya kerja pendidikan vokasi masih belum terdapat keselarasan, kesesuaian dan kecocokan antara budaya kerja yang dibutuhkan di dunia industri dengan ketersediaan lulusan pendidikan vokasi. Salah satu sebabnya adalah karena proses belajar mengajar belum mengarah kepada pemenuhan kebutuhan pasar kerja, dan hal ini membuat serapan lulusan menjadi agak rendah.

Budaya kerja ini memiliki hubungan yang erat dengan produktivitas kerja dan sangat diperlukan peserta didik SMK untuk menyiapkan diri masuk ke industri dunia usaha dan dunia kerja. Karakter kerja siswa SMK dalam memasuki dunia pasca sekolah mutlak harus dimiliki agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh dunia kerja/industri ataupun usaha mandiri. Oleh karena itu, sekolah sebagai tempat pembelajaran dituntut untuk mendukung keberhasilan pendidikan karakter kerja dengan menginternalisasi nilai-nilai karakter kerja dalam program dan budaya sekolah.

Kerja sama pihak SMK dengan DU/DI sangat penting sekali karena sebagai tolak ukur keberhasilan kompetensi siswa, persiapan memasuki dunia kerja, peningkatan potensi siswa di SMK. Pendidikan SMK sebagai lembaga yang menyiapkan tenaga kerja sehingga agar tamatan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan DU/DI. Perlu adanya kerja sama antara sekolah dengan DU/DI untuk peningkatan kurikulum (sinkronisasi kebutuhan) dan peningkatan kualitas mutu dari siswa selain sebagai tempat penyaluran tenaga siap kerja tingkat menengah.

Pendidikan vokasi juga dapat menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri, tenaga pengajar juga akan meningkatkan kualitas keilmuan sesuai kebutuhan industri, tenaga kerja yang profesional (mampu kerja). Maka dengan prakerin di DU/DI, siswa mendapatkan kesempatan untuk menerapkan berbagai keterampilan di dunia kerja yang sebenarnya. Siswa SMK mendapatkan pengalaman, menumbuhkan rasa percaya diri atas kerja. keberhasilan SMK bukan berapa besar persentase kelulusan, tetapi seberapa besar kelulusan terserap oleh dunia industri.

 

*) Penulis adalah pengajar SMK. Editor : Ivona
#opini