Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perpanjangan PPKM dan Kegelisahan Masyarakat

Radar Digital • Sabtu, 24 Juli 2021 | 16:50 WIB
Photo
Photo
Kebijakan pemerintah mengenai penanganan pandemi kiat carut-marut. Hingga hari ini, pemerintah sudah mencoba berbagai formulasi agar angka positif bisa ditekan. Kebijakan yang seolah-olah berat sebelah membuat masyarakat lapis bawah menjerit karena merasa menjadi pihak yang paling dirugikan. Bagaimana tidak, masyarakat yang menggeluti sektor perdagangan diharuskan tutup paksa. Keberingasan satpol PP menjadi bukti ketidakadilan aparat dalam menjalankan aturan.

Sektor yang saat ini paling terpukul adalah sektor perniagaan. Sektor ini kerap menjadi sasaran para aparat untuk bertindak semena-mena, terlebih para pedagang kaki lima (PKL) yang biasa menjajakan dagangannya mulai dari sore hingga malam. Namun, sejak penegakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), para pedagang rela meninggalkan lapak dagangan karena jam kerja mereka tersita oleh aturan PPKM yang ngeri-ngeri sedap itu.

Lantas, kenapa hanya sektor perdagangan yang selalu menjadi target operasi para aparat? Apakah mereka menjadi penyebab utama wabah? Faktanya, sampai saat ini belum ada penelitian yang menyatakan bahwa para PKL menjadi klaster penyebaran Covid-19. Maka yang perlu digarisbawahi adalah sikap pemerintah dalam menjalankan aturan yang dibuatnya. Ketidaksesuaian ini kerap dibandingkan dengan para pekerja atau karyawan yang tiap harinya akan menerima gaji, karena kebutuhan mereka tetap terjamin meski dalam kondisi pandemi.

Sedangkan para PKL meski tidak sedang dalam masa pandemi harus berjuang dengan usahanya dan penghasilan yang tidak menentu. Ditambah semakin banyaknya para pesaing usaha setiap waktu membuat mereka harus berhadapan dengan para kapitalis atau pemodal besar yang setiap saat bisa menjadi momok yang menakutkan bagi keberlangsungan usaha mereka. Para pemodal ini tak segan-segan melumat pengusaha kecil atau bisnis rintisan. Jika secara modal dan kekuatan saja sudah kalah, lalu bagaimana mereka bisa bersaing? Terlebih, saat ini harus berhadapan dengan pandemi.

Sebenarnya, apakah kebijakan yang dikeluarkan saat ini tepat? Begitu juga dengan realisasinya di lapangan. Sejak 3 Juli lalu, pemerintah bersepakat untuk menerapkan PPKM Jawa-Bali hingga 20 Juli. Terhitung 17 hari masyarakat harus rela kehilangan penghasilan, dan kini pemerintah kembali memperpanjang aturan PPKM hingga 25 Juli. Itu artinya kesengsaraan warga kelas menengah ke bawah akan semakin bertambah.

Seperti yang diungkapkan filsuf asal Firenze, Italia, Nicollo Machiavelli, bahwa tabiat manusia adalah segera ingin melepaskan diri dari bahaya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang dialami masyarakat dengan banyaknya sambatan (mengeluh) yang dilontarkan di media sosial. Masyarakat merasa tertekan dengan keadaan, kondisi semacam ini membuktikan apa yang disampaikan oleh Machiavelli, dan kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah dengan memperpanjang PPKM yang membuat masyarakat semakin gelisah dan ingin keluar dari keadaan yang menekan mereka.

Kegelisahan masyarakat saat ini tidak jauh beda dengan cerita masyhur dari filsuf Turki yang terkenal dengan anekdotnya, yakni Nasruddin Hoja. Dalam cerita tersebut ada seorang tetangganya yang setiap harinya mengeluh karena tekanan ekonomi dan berbagai problem yang menimpanya, lantas orang tersebut meminta saran kepada Nasruddin agar memberikan solusi terhadap problem yang dihadapinya.

Karena Nasruddin terkenal alim dan sosok yang dihormati di daerahnya, lantas dengan kecerdikannya dia memberikan saran agar memasukkan 10 ayam ke dalam rumahnya. Karena Nasruddin adalah orang yang dihormati di sana, orang tersebut lantas memasukkan 10 ayam ke dalam rumahnya. Setelah sehari berlalu, orang tersebut tidak menemukan ketenangan malah membuatnya sumpek.

Mendengar kegelisahan itu, Nasruddin justru memberikan saran untuk memasukkan 10 bebek ke dalam rumahnya. Tentu dengan ditambahkannya bebek itu membuat rumah orang tersebut semakin berantakan. Lagi-lagi orang itu mengadu ke Nasruddin kalau rumahnya semakin tidak teratur. Lantas, anjuran yang ketiga Nasruddin malah menyuruh memasukkan 10 kucing ke dalam rumah yang sama. Karena ingin cepat-cepat mendapat ketenangan, orang tersebut mengiyakan saja apa yang diperintahkan Nasruddin.

Melihat kondisi rumah yang hancur berantakan karena ulah hewan yang ada di rumahnya, tetangga Nasruddin kemudian mengadukan kegelisahanya yang semakin memuncak itu. Kali ini, Nasruddin memberikan nasihat yang sebenarnya. Dia memerintahkan tetangganya untuk mengeluarkan 10 ayam. Entah dibagikan ke tetangganya atau disembelih buat bancaan. Setelah ayam-ayam tersebut dikeluarkan, si tetangga tersebut merasa sedikit lega karena kericuhan di rumahnya mulai berkurang.

Namun, orang tersebut masih merasa sumpek karena masih ada bebek dan kucing. Lantas, Nasruddin memerintahkan untuk mengeluarkannya juga. Setelah bebek dan kucing itu dikeluarkan, si tetangga merasa lega dan bersyukur karena kondisi rumahnya sekarang sudah pulih tanpa diganggu oleh ayam, bebek, dan kucing.

Kondisi tersebut membuat tetangga Nasruddin bersyukur telah diberikan solusi yang tokcer. Bisa lepas dari kegelisahan dan keruwetan hidup yang dialaminya dan sangat berterima kasih kepada Nasruddin. Padahal yang sebenarnya dilakukan oleh Nasruddin bukan mengurangi beban tetangganya tersebut. Melainkan menambah beban dan kegelisahan, sehingga beban yang sebenarnya dirasakan sebelumnya ditutupi dengan kegelisahan yang lebih banyak.

Cara ini tampaknya sedang dijalankan oleh pemerintahan. Sebelumnya kita hanya berhadapan dengan pandemi. Kini juga dengan kegelisahan karena harus menghadapi perekonomian yang semakin sulit. Dan harus memutar otak agar terbebas dari belenggu tuntutan ekonomi. Terlebih masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan berdagang harus rela membatasi waktu kerjanya. Apa nggak pusing? Sudah pusing dilanda pandemi, ditambah harus mengatur strategi agar bisa menghidupi anak istri. Maka perpanjangan PPKM adalah cara tepat pemerintah agar pandemi tidak lagi dijadikan beban dan masalah serius yang hanya akan membuat masyarakat semakin depresi yang berakibat imun menurun.

Jika pemerintah nantinya memperpanjang lagi PPKM, anggap saja sedang menasehati dengan menambah masalah yang tentunya nanti kita akan tahu solusi yang sebenarnya diberikan pemerintah, yakni dengan cara menambah kita lebih banyak beban kemudian menguranginya sedikit demi sedikit beban yang diberikan pemerintah kepada kita. Itu artinya, beban sesungguhnya yang kita pikul itu adalah beban kita sendiri yang harus kita selesaikan sendiri. Dan pemerintah ke mana? Entahlah! (*)

(* Penulis adalah mahasiswa Ilmu Al Quran dan Tafsir UIN KHAS Jember Editor : Radar Digital
#Jember