Dilansir dari akun Kemenkes, dalam unggahan 27 Juni 2021 itu, Kemenkes memberikan informasi bahwa vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat umum berusia di atas 18 tahun sudah bisa diakses. Unggahan itu dikemas sedemikian rupa sehingga mudah diterima dan menarik di kalangan anak muda, terutama penggemar anime. Kemenkes menampilkan sosok Ogiwara Sayu, karakter remaja perempuan dari anime Higehiro, yang mengajak Yudha, seorang remaja laki-laki, untuk ikut divaksin Covid-19.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fajar Junaedi mengatakan, unggahan TikTok kampanye vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes itu dapat ditinjau menggunakan model komunikasi yang dikembangkan Harold Laswell. Fajar menjelaskan, Laswell mengembangkan sebuah model komunikasi yaitu, "who says what to whom in what channel in what effect." Menurut Fajar, efek dari komunikasi dalam komunikasi kesehatan adalah mengubah perilaku masyarakat ke arah hidup yang sehat. Dalam hal ini adalah agar masyarakat ikut vaksinasi Covid-19.
Beberapa sudut pandang menarik premis bahwa ini adalah bagian dari edukasi kepada masyarakat agar melaksanakan program vaksinasi yang disediakan pemerintah dalam memerangi Covid-19. Mengingat banyaknya kekhawatiran dalam masyarakat mengenai program vaksinasi yang difasilitasi oleh pemerintah. Spekulasi yang berkembang dalam masyarakat adalah bahwa vaksin bisa saja bertolak belakang dengan kesembuhan dan kesehatan. Paranoia yang berkembang itu semata-mata bukan sebatas spekulasi masyarakat saja, namun upaya dari pemerintah terhadap edukasi dan sosialisasi mengenai vaksinasi yang belum maksimal.
Kemudian, dengan disusulnya kenaikan yang cukup tajam dalam tren positif klaster Covid-19 di Indonesia. Lagi-lagi masyarakat Indonesia dihebohkan dengan salah satu brand susu kaleng. Susu ini dipercaya oleh masyarakat Indonesia mampu menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk Covid-19. Seketika susu dari perusahaan terkemuka bergambar beruang ini viral. Masyarakat berbondong-bondong memburu susu tersebut. Mulai dari toko ritel hingga super market yang tersedia sampai mengalami kelangkaan stok dan harganya melonjak.
Sedang viralnya susu kaleng bergambar beruang saat ini, tak lepas dari kondisi tren positif Covid-19 di Indonesia yang cukup tinggi. Masyarakat saling berebut untuk mendapatkan susu kaleng yang sedang viral ini. Bahkan sampai-sampai, brand susu ini dijual di pasar daring. Karena saking langkanya stok yang tersedia di gerai mini market, bahkan super market. Dan yang paling mencengangkan harga susu kaleng ini mengalami kenaikan harga yang berkali lipat akibat kelangkaan stok yang tersedia. Masyarakat begitu percaya dengan klaim bahwa susu beruang mampu menangkal virus korona
Bila dilihat kandungan gizi yang ada dalam produk susu kemasan di pasaran, sama antara satu produk dengan produk yang lainnya. Kandungan gizi yang ada di dalam susu kaleng itu seperti protein, karbohidrat, kalium, bahkan garam. Padahal sudah ditegaskan oleh ahli dalam pemberitaan, susu kaleng untuk mengobati Covid-19, tentu saja tidak bisa, karena memang tidak bisa mematikan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Dan yang dibutuhkan masyarakat saat ini untuk terlindung dari pandemi tidak hanya konsumsi susu, tapi juga mengonsumsi sayuran, buah, karbohidrat, vitamin, serta mineral yang didapatkan dari makan-makanan beragam.
Sebenarnya, fenomena seperti ini bukan hal baru di Indonesia. Sesuatu yang sengaja di-up di kalangan masyarakat akan menjadi pusat perhatian bagi masyarakat itu sendiri. Atensi masyarakat benar-benar tertuju kepada sesuatu yang sedang viral saat ini. Apalagi menyangkut masalah kesehatan. Bahkan masyarakat rela berbondong-bondong menyerbu susu kaleng sekalipun dengan harga yang relatif mahal. Ini menunjukan ada beberapa variabel yang sedang terjadi di kalangan masyarakat. Mengenai sebab-akibat susu viral yang begitu digandrungi sekarang ini.
Pertama, masyarakat kita yang begitu konsumtif terhadap hal yang sedang tren. Sekalipun tidak memahami efektivitas dan manfaat pemakaian barang tersebut. Sama kasusnya dengan susu kaleng viral saat ini. Masyarakat tidak begitu memahami efektivitas dan kandungannya dalam menangkal virus.
Kedua, masyarakat terbawa dalam second opinion yang sengaja digulirkan. Sehingga masyarakat memiliki asumsi sendiri terhadap susu kaleng yang sedang viral ini mampu menjadi obat alternatif meskipun kenyataannya belum diketahui. Masyarakat hanya terlarut dalam euforia trending didukung dengan sikap konsumtif yang cukup tinggi.
Dari variabel yang disebutkan tersebut, antara sikap konsumtif yang tinggi dan asumsi masyarakat luas, perlu kita cermati, terutama bagi pemangku kebijakan. Masyarakat bersifat konsumtif karena banyak hal. Terutama dalam konteks ini adalah kesehatan. Sudah barang tentu semua orang akan melakukan hal apa pun demi kesehatannya. Asumsi yang berkembang ini perlu ditarik benang merah. Bisa jadi mereka berasumsi karena sudah tidak memiliki rasa keyakinan terhadap langkah yang disajikan pemerintah, yaitu vaksin. Mereka lebih percaya terhadap spekulasi dan logika kesaktian susu viral dibanding vaksin yang sudah disediakan oleh pemerintah.
Dari dua objek yang digambarkan, penulis menarik beberapa change. Yaitu integrasi antara pemerintah dan masyarakat yang perlu dieratkan dalam menghadapi Covid-19. Perang melawan virus bukan hanya tugas pemerintah. Namun seluruh elemen dan unsur perlu berupaya bersama dalam mengentaskannya. Pemerintah wajib melindungi segenap tumpah darah rakyat Indonesia. Dan rakyat wajib bergandengan tangan dalam membangun kekuatan bersama hingga tercipta suasana anti Covid-19, anti virus, anti hoaks dan segala macamnya akibat upaya masif memerangi pandemi ini. (*)
*Aan Robi Azis, Ketua Karang Taruna Desa Bondoyudo, dan Mahasiswa Study Akuntansi STIE Widya Gama Lumajang.
Editor : Radar Digital