Radar Jember - Harapan kontingen Olimpiade Olahraga dan Seni Nasional (O2SN) jenjang SMP Jember untuk membawa pulang medali kini tinggal bergantung pada cabang pencak silat nomor seni putra.
Hingga kemarin, tujuh dari delapan atlet yang diturunkan telah menyelesaikan pertandingan. Namun, belum ada yang mampu menembus podium.
Koordinator O2SN SMP Jember Hendro Setiyo Utomo mengatakan, peluang terbesar sempat datang dari cabang bulu tangkis.
Baca Juga: NELANGSA! Warung Warga Jember Ini Dibobol Maling, Hasil Jualan Sehari Raib
Atlet putri asal SMP Negeri 1 Puger mampu melaju hingga babak delapan besar sebelum akhirnya dihentikan wakil dari Gresik. Sementara atlet putra harus mengakui keunggulan lawannya dari Kabupaten Kediri.
"Sebenarnya peluang kami ada di bulu tangkis. Sayangnya langkah atlet putri terhenti di delapan besar, sedangkan atlet putra kalah dari Kabupaten Kediri," ujarnya melalui sambungan telepon, kemarin (1/7).
Sementara itu, hasil berbeda diperoleh atlet renang dan atletik. Pada dua cabang tersebut, penentuan peringkat dilakukan berdasarkan catatan waktu terbaik yang dibukukan masing-masing peserta.
Hendro menerangkan, batas waktu atau limit terbaik mereka masih kalah dari peserta lain. Sebab itu ditentukan setelah seluruh peserta menyelesaikan perlombaan.
Di tengah belum berpihaknya hasil pada empat cabor, Jember masih menyimpan asa di pencak silat nomor seni putra. Hingga kemarin petang, masih menjalani pertandingan.
Nomor ini memang sejak awal diproyeksikan menjadi salah satu andalan kontingen Jember untuk bersaing di tingkat provinsi.
“Tahun lalu, kami mewakili Jember dan Jatim di tingkat nasional. Harapannya, hasilnya sesuai dan kami bisa mewakili kembali,” harapnya.
Meski hasil tahun ini belum sesuai harapan, Hendro menilai ajang tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pembinaan atlet.
Menurutnya, persiapan menuju O2SN seharusnya tidak lagi dilakukan dalam waktu singkat menjelang seleksi, tetapi dimulai sejak awal tahun ajaran baru.
Tujuannya agar atlet, pelatih dan ofisial memiliki waktu lebih panjang untuk menyiapkannya. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh