Kebijakan tersebut diumumkan Ketua Umum PBVSI Imam Sudjarwo sebagai bagian dari upaya menciptakan kompetisi yang lebih sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.
Sistem yang diterapkan disebut mengadopsi konsep yang selama ini digunakan Liga Voli Korea Selatan atau V-League.
Imam menjelaskan, total gaji untuk 12 pemain lokal dalam satu tim dibatasi maksimal Rp 600 juta per bulan.
"Kemudian untuk pemain asing, batas gajinya 40.000 dolar AS per bulan dalam satu tim untuk dua pemain asing, jadi satu pemain asing maksimal bergaji 20.000 dolar AS atau sekitar Rp 357 juta lebih," kata Imam Sudjarwo.
Tak hanya soal gaji, PBVSI juga akan mengatur kuota pemain tim nasional yang bisa dimiliki setiap klub. Langkah ini dilakukan agar distribusi pemain berkualitas lebih merata dan tidak menumpuk pada tim-tim tertentu.
Selain itu, aturan peminjaman pemain juga akan diperketat. Tujuannya untuk menciptakan persaingan yang lebih seimbang sekaligus memberi kesempatan lebih luas bagi atlet di berbagai klub.
Menurut Imam, regulasi tersebut disiapkan untuk menjaga keberlangsungan kompetisi dalam jangka panjang. Selama ini, perbedaan kekuatan finansial klub kerap memengaruhi keseimbangan persaingan di Proliga.
"Ini akan saya sampaikan tentang salary cap. Tentang bagaimana peminjaman atlet dan bagaimana sistem honor atau penggajian bagi atlet, baik itu atlet nasional maupun atlet internasional," ujarnya.
PBVSI menilai sistem serupa telah terbukti berjalan baik di sejumlah liga profesional dunia, termasuk V-League Korea Selatan.
Dengan pembatasan gaji dan distribusi pemain yang lebih merata, kompetisi diharapkan menjadi lebih kompetitif sekaligus mendukung pembinaan atlet nasional.
Jika tidak ada perubahan, regulasi baru tersebut mulai berlaku pada Proliga 2027. Artinya, klub-klub sudah harus menyesuaikan strategi perekrutan pemain sejak musim depan.
Langkah ini sekaligus menjadi salah satu reformasi terbesar dalam sejarah Proliga. Bukan hanya mengubah pola belanja klub, tetapi juga berpotensi mengubah peta persaingan voli profesional Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Editor : Ilham Wahyudi