PONTIANAK, Radar Ijen – Langkah Jakarta Bhayangkara Presisi di ajang AVC Men's Volleyball Champions League 2026 belum terbendung.
Sukses menggulung wakil Kazakhstan, Zhaiyk VC, dengan skor 3-1 di perempat final tidak hanya mengamankan tiket semifinal, tetapi juga menegaskan status mereka sebagai penantang gelar yang serius.
Di balik performa impresif anak asuh Reidel Toiran tersebut, ada formula starter yang mumpuni serta kombinasi legiun asing kelas dunia yang menjadi ruh permainan tim.
Bhayangkara Presisi tahun ini tampil dengan wajah yang sangat menakutkan. Manajemen tidak main-main dalam menyusun komposisi pemain demi membidik trofi tertinggi antar-klub Asia ini.
Lantas, siapa saja sosok kunci yang menjadi tulang punggung keberhasilan Bhayangkara Presisi melaju sejauh ini?
Berikut adalah ulasan profil para pemain andalan yang siap meledak di babak semifinal.
Pertama ada Robertlandy Simon Aties, di usia yang tidak lagi muda, middle blocker legendaris asal Kuba ini tetap menjadi monster yang menakutkan di depan net.
Berdiri setinggi 208 cm, Simon adalah tembok berjalan bagi Bhayangkara Presisi. Kemampuannya membaca arah bola dan melakukan quick attack dengan power keras, kerap membuat defense lawan kocar-kacir.
Kehadiran pemain yang kenyang pengalaman di liga-liga elite Eropa ini juga menjadi mentor mental bagi para pemain lokal di lapangan.
Kedua ada nama, Noumory Keita sang mesin poin andalan Jakarta Bhayangkara Presisi dengan julukan The Eagles.
Jika Anda mencari motor serangan utama Bhayangkara Presisi, jawabannya adalah Noumory Keita. Outside hitter bertinggi badan 206 cm ini memiliki lompatan vertikal tinggi.
Smash tajamnya dari posisi 2 maupun Five attack dari posisi 6 selalu menjadi andalan, saat tim dalam situasi buntu. Kemampuannya untuk mencetak poin tak perlu diragukan.
Pemain yang musim lalu bersinar di Liga Voli Korea ini memiliki kelebihan pada variasi serangannya yang sulit ditebak oleh blocker lawan.
Pemain andalan lainnya adalah Rok Mozic, pelengkap dari trio menara asing. Outside hitter andalan Timnas Slovenia ini memberikan dimensi permainan yang berbeda bagi Bhayangkara.
Mozic tidak hanya piawai dalam melepaskan spike keras, tetapi juga cerdik dalam melakukan penempatan bola dan memiliki kemampuan receive yang sangat solid.
Selain tiga pemain diatas, ada nama Farhan Halim yang resmi bergabung dengan Jakarta Bhayangkara setelah resmi berpisah dengan VC Nagano di Jepang.
Kemampuannya dalam melakukan service, tak jarang berbuat ace. Lawan sering kesulitan untuk mengontrol service keras dari Farhan Halim.
Selain service, Farhan Halim juga memiliki kemampuan untuk melakukan spike tajam yang merepotkan jantung pertahanan lawannya.
Pada posisi setter ada nama Nizar Julfikar, Jenderal Lapangan Tengah legendaris di Indonesia.
Semua monster di atas net tidak akan berfungsi tanpa adanya pasokan umpan yang manja Nizar Julfikar. Di sinilah peran vital sang kapten, Nizar Julfikar.
Sebagai setter senior, Nizar Julfikar menunjukkan kematangan yang luar biasa dalam mengatur ritme permainan. Sehingga para spiker dapat melakukan serangan dengan nyaman.
Pemain andalan lainnya adalah Ahmad Gumilar atau lebih dikenal dengan panggilan Deden. Dia bahu-membahu bersama Simon di posisi middle blocker.
Deden membuktikan bahwa kualitas pemain lokal Indonesia tidak kalah saing. Dia tampil solid dalam melakukan monster block maupun one-touch untuk meredam serangan balik lawan.
Kecepatannya dalam bergeser menjaga area net menjadi kunci penting dalam strategi bertahan Jakarta Bhayangkara Presisi. (*)
Editor : Ilham Wahyudi