JAKARTA, Radar Ijen - Langkahnya tak selalu mudah. Namun dari lapangan ke lapangan, Dimas Saputra terus membuktikan diri dengan kemampuan yang dimiliki.
Nama Dimas Saputra bukan sosok asing bagi pecinta bola voli Tanah Air. Pemain kelahiran Samarinda, 4 November 1995 itu dikenal sebagai opposite hitter yang konsisten tampil tajam di berbagai kompetisi.
Karirnya mulai mencuri perhatian sejak tampil di ajang Proliga bersama Jakarta BNI 46. Saat itu, ia bahkan sempat menyandang predikat best spiker, sebuah pencapaian yang menegaskan kualitasnya di usia muda.
Sejak saat itu, perjalanan karirnya terus menanjak. Ia menjadi bagian dari tim nasional voli putra Indonesia dan ikut mempersembahkan prestasi, termasuk medali emas di ajang SEA Games.
Dilansir dari volleybox, postur Dimas Saputra mencapai 190 centimeter dan kemampuan loncatan yang impresif, Dimas Saputra dikenal fleksibel di lapangan.
Dengan loncatan impresif, Dimas Saputra memiliki jangkauan spike 360 centimeter. Serta jangkauan block mencalai 340 centimeter.
Ia tak hanya kuat dalam menyerang, tetapi juga mampu beradaptasi dalam berbagai skema permainan.
Perjalanan klubnya pun cukup panjang. Ia sempat memperkuat sejumlah tim besar, mulai dari Jakarta BNI 46, Palembang Bank Sumsel Babel, hingga Jakarta LavAni Livin Transmedia.
Menariknya, kiprah Dimas tidak berhenti di satu generasi. Ia juga menjadi inspirasi bagi sang adik, yang kini mengikuti jejaknya di dunia voli.
Kini, memasuki usia matang sebagai atlet, Dimas Saputra tetap menunjukkan konsistensinya. Di tengah persaingan ketat pemain muda, ia masih menjadi sosok yang bisa diandalkan.
Perjalanannya menjadi bukti bahwa karir besar tidak lahir dari satu momen saja, melainkan dari proses panjang, kerja keras, dan ketekunan yang terus dijaga.
Meski demikian, Dimas Saputra belum merasakan juara Proliga selama karir profesionalnya. Meski sudah bergabung dalam berbagai tim.
Namun, puasa gelar itu berpotensi berakhir. Setelah Jakarta Lavani, tim yang dibela Dimas Saputra di Proliga 2026, memantapkan langkah di grand final.
Diketahui Jakarta Lavani menjadi satu satunya tim yang belum terkalahkan sejak fase reguler hingga fase final four.
Bahkan mereka selalu menumbanhkan rival terberatnya Jakarta Bhayangkara Presisi, dalam empat pertandingan yang sudah dilalui.
Kedua tim akan kembali bertemu di babak grand final Proliga 2026. Sistem penentuan juara menggunakan best of three, artinya tim harus mendapatkan kemenangan di dua laga berbeda. (*)
Editor : Ilham Wahyudi