Komsel Uji Carek UINSA, Menag Diminta Pilih yang Terbaik

M. Ainul Budi • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 10:06 WIB
Sekretaris Senat Akademik UINSA Prof Ali Arifin menyerahkan dokumen hasil pertimbangan dan penilaian calon rektor ke Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar di Jakarta (8/10/2026).
Sekretaris Senat Akademik UINSA Prof Ali Arifin menyerahkan dokumen hasil pertimbangan dan penilaian calon rektor ke Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar di Jakarta (8/10/2026).

RADAR JEMBER - Senin (12/10/2026) hari ini Komisi Seleksi (Komsel) Kementerian Agama melakukan uji kelayakan calon rektor (carek) UIN Sunan Ampel Surabaya. Forum Komunikasi untuk Perubahan UINSA menyatakan optimistis bahwa hasilnya tidak akan jauh dari keputusan Senat Akademik. Optimisme itu didasarkan pada komitmen Menteri Agama yang tidak ingin "kebobolan".

Juru Bicara FKUP UINSA, A. Bajuri, menilai sikap terbuka Menteri Agama saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VIII DPR RI pada 22 September 2026 menunjukkan kesediaan untuk bertanggung jawab dan melakukan perbaikan.

“Menurut kami, sikap Pak Menteri patut diapresiasi. Beliau berani mengakui adanya kelemahan dalam proses yang terjadi, tidak menutup-nutupi persoalan, dan berjanji tidak ingin kebobolan lagi. Ini menjadi modal penting untuk memperbaiki proses pemilihan rektor UINSA,” kata Bajuri.

Dalam rapat bersama Komisi VIII DPR RI tersebut, Nasaruddin mengakui adanya kelemahan yang ia istilahkan sebagai kurang tajamnya “penciuman” dalam membaca persoalan. Ia juga menyebut telah melantik puluhan rektor selama menjabat sebagai Menteri Agama, tetapi baru kali ini menghadapi polemik sebesar yang terjadi di UINSA.

“Sejarah hidup saya di Kementerian Agama baru kali ini saya kebobolan,” ujar Nasaruddin dalam rapat tersebut, sebagaimana ditayangkan secara live oleh TV Parlemen.

Menag juga berjanji persoalan serupa tidak boleh terulang. Ia menyatakan tidak ingin persoalan yang timbul akibat kepentingan subjektif merusak sistem negara. Nasaruddin bahkan menegaskan dirinya tidak memiliki beban untuk mengambil langkah yang diperlukan demi kepentingan bangsa dan negara, terlebih demi Presiden.

Komitmen Menag
Bajuri mengatakan, pengakuan dan komitmen tersebut seharusnya menjadi pegangan dalam proses pemilihan rektor UINSA yang sedang berjalan. Menurutnya, sivitas akademika membutuhkan bukti nyata bahwa evaluasi yang disampaikan Menag benar-benar diwujudkan dalam pengambilan keputusan.

“Ketika seorang pejabat berani mengakui kekurangan dan berjanji memperbaikinya, tentu kita harus memberi ruang untuk membuktikan komitmen tersebut. Sekarang yang ditunggu adalah langkah nyata. Jangan sampai janji untuk tidak kebobolan lagi hanya berhenti sebagai pernyataan di forum DPR,” ujarnya.

Ia menilai salah satu langkah penting dalam proses kali ini adalah komitmen Menag untuk menerima langsung hasil pertimbangan kualitatif Senat UINSA, tanpa melalui perantara yang dapat menimbulkan keraguan atau salah persepsi.

Menurut Bajuri, langkah tersebut penting agar aspirasi dan hasil penilaian akademik dari Senat dapat diterima secara utuh oleh Menteri Agama sebagai bagian dari proses penentuan rektor.

“Kami sangat mengapresiasi karena Pak Menteri benar-benar menerima langsung hasil penilaian Senat. Ini menunjukkan keseriusan untuk mendengar hasil proses akademik dari kampus, bukan sekadar menerima informasi dari pihak lain,” katanya.

Jangan Terulang
Bajuri menegaskan, semua hasil penilaian adalah kewenangan Menteri Agama. Namun, pihaknya berharap kewenangan tersebut dijalankan dengan mempertimbangkan hasil penilaian akademik, rekam jejak, kompetensi, integritas, serta kebutuhan nyata UINSA untuk segera pulih.

Menurutnya, persoalan pemilihan rektor sebelumnya harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Pengangkatan pemimpin perguruan tinggi bukan hanya persoalan memenuhi prosedur formal, tetapi juga membangun kepercayaan dan memastikan kepemimpinan dapat diterima oleh sivitas akademika.

“UINSA sudah mengalami dinamika yang tidak ringan. Jangan sampai kita mengulangi persoalan yang sama. Yang dibutuhkan sekarang adalah rektor terbaik, yang memiliki kapasitas memimpin, mampu merangkul semua unsur, dan bisa segera bekerja untuk memulihkan suasana kampus,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi pernyataan Menag yang menegaskan tidak memiliki beban dalam mengambil langkah demi kepentingan bangsa dan negara.

“Pernyataan bahwa beliau tidak memiliki beban seharusnya menjadi jaminan moral bahwa keputusan nanti benar-benar diambil berdasarkan kepentingan terbaik UINSA, bukan karena tekanan atau kepentingan kelompok tertentu. Kami berharap komitmen itu diwujudkan dalam keputusan yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Bajuri yang juga wakil ketua umum Pengurus Pusat IKA UINSA.

Terus Mengawal

Bajuri menyatakan FKUP UINSA akan terus mengawal proses pemilihan rektor agar berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan pemimpin yang mampu mengembalikan suasana akademik yang kondusif.

Ia berharap seluruh tahapan di Kementerian Agama berlangsung cermat, transparan dalam batas yang diatur regulasi, dan menghormati hasil pertimbangan Senat.

“Pesan kami sederhana: Pak Menteri sudah berjanji tidak ingin kebobolan lagi. Sekarang mari kita kawal bersama agar janji itu menjadi kenyataan. Jangan sampai ada lagi keputusan yang justru menimbulkan polemik baru,” katanya.

Bajuri menambahkan, FKUP menginginkan agar setelah rektor definitif ditetapkan, seluruh unsur kampus dapat kembali berkonsentrasi pada tugas utama perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan mutu dan reputasi UINSA.

“UINSA harus segera kembali normal dan bergerak maju. Kami ingin rektor yang terpilih nanti menjadi pemimpin bagi seluruh keluarga besar kampus, bukan hanya bagi satu kelompok. Pada akhirnya, yang harus kita menangkan bukan kepentingan orang per orang, melainkan masa depan UIN Sunan Ampel Surabaya,” pungkasnya.

 

Editor : M. Ainul Budi
demo uinsa rektor uinsa uinsa UINSA Surabaya