RADAR JEMBER– Sebuah pertunjukan teatrikal dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 menjadi perhatian setelah video penampilannya ramai diperbincangkan. Di balik aksi para peserta berkostum monster, ternyata konsep tersebut dipersiapkan dalam waktu sekitar satu minggu.
Kontingen Simbang Kulon Gang 1 menjadi salah satu peserta yang membawa konsep teatrikal bernuansa horor dalam karnaval yang berlangsung di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
Ketua kontingen, Muhammad Akhid, mengatakan ide pertunjukan tersebut disusun dengan melihat berbagai referensi penampilan yang ditemukan di YouTube. Sementara kostum monster yang digunakan dalam pertunjukan disebut disewa dari Malang, Jawa Timur.
Bukan hanya kostum yang menjadi perhatian. Dalam pertunjukan tersebut juga terdapat sejumlah properti teatrikal, termasuk peti mati. Salah satu adegan yang kemudian menuai sorotan adalah penyembelihan kambing yang dilakukan dalam rangkaian atraksi.
Pihak kontingen memberikan penjelasan bahwa adegan tersebut tidak dimaksudkan sebagai ritual tertentu. Menurut Akhid, penyembelihan kambing berkaitan dengan acara rahatan yang dilakukan setelah kegiatan.
Di tengah ramainya pembahasan mengenai pertunjukan tersebut, kabar duka datang dari kontingen yang sama. Ahmad Faiz (41), salah satu peserta yang mengenakan kostum monster, meninggal dunia setelah mengikuti karnaval.
Faiz diketahui sudah mengalami kelelahan dan kurang tidur selama beberapa hari sebelum acara. Berdasarkan keterangan keluarga yang disampaikan Kapolsek Buaran AKP Sunarto, Faiz bahkan disebut hanya tidur sekitar satu jam dalam beberapa hari.
Usai karnaval, rombongan tiba di rumah sekitar tengah malam. Faiz masih sempat berbincang dengan teman-temannya sebelum pulang dan beristirahat. Setelah tidur, ia tidak bangun ketika dibangunkan oleh istrinya.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bagi kontingen. Selain menjelaskan konsep pertunjukan, mereka juga berencana mengevaluasi persiapan dan pelaksanaan kegiatan untuk acara berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan turut meminta klarifikasi mengenai pertunjukan yang viral tersebut. Peserta disebut mengaku tidak memahami makna sejumlah simbol dan istilah yang kemudian dikaitkan masyarakat dengan “ritual satanic”.
Penulis : Evelyn Ramadhani Wibowo