RADAR JEMBER – Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara kembali menarik perharian.
Seorang pelajar SMK Bersama Berastagi yang dikenal dengan inisial FP dilaporkan mengalami masalah dalam daya ingatannya setelah menjadi korban keracunan.
Keluarga menyatakan bahwa FP mengalami penurunan signifikan dalam kemampuan ingat.
Ibu FP, Elvinus Sitanggang, menyampaikan bahwa putrinya bahkan tidak bisa mengenali anggota keluarga atau teman-teman sekolah yang datang untuk menjenguknya.
Elvinus menjelaskan bahwa kapasitas ingatan FP diduga turun hingga sekitar 70%.
Namun, hubungan antara keracunan yang dialami dan gangguan neurologis tersebut masih perlu melalui pemeriksaan medis yang lebih mendalam.
Secara medis, keracunan dapat memengaruhi sistem saraf.
Baca Juga: BGN Bekukan 46 Dapur MBG di Jember setelah Sekian Lama Nunggak Izin Tapi Beroperasi
Namun, tipe zat beracun, tingkat paparan, serta kondisi individu yang terpapar merupakan beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum menganalisis penyebab masalah ingatan.
Seperti di lansir di suatu media, Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., N., FMIN., menjelaskan bahwa racun tertentu pada kasus keracunan makanan dapat berpengaruh pada kinerja otak.
Wahyu menyatakan bahwa senyawa berbahaya dapat mengganggu neurotransmiter, yaitu zat kimia yang berfungsi dalam mengirimkan informasi di antara sel-sel saraf. Gangguan ini memengaruhi berbagai fungsi kognitif.
Baca Juga: Gencarkan Edukasi Keamanan Pangan MBG, Balai POM di Jember Libatkan Kader Sekolah dan Posyandu
“Intoksikasi akibat keracunan makanan memang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Toksin dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter sehingga mengganggu kerja sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kognitif, termasuk gangguan daya ingat,” ujar Wahyu, Rabu (9/9/2026).
Meskipun begitu, Wahyu menekankan bahwa masalah ingatan tidak bisa segera dikaitkan hanya dengan keberadaan toksin.
Dokter harus mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari jenis zat yang masuk ke tubuh, lamanya keterpaparan, gejala klinis, riwayat kesehatan, hingga hasil dari pemeriksaan tambahan.
Gangguan pada sistem saraf akibat keracunan bisa dipengaruhi oleh faktor lain.
Wahyu menyatakan bahwa kurangnya oksigen atau hipoksia, kelainan metabolik, serta kejang yang berkepanjangan adalah beberapa keadaan yang dapat berdampak pada kinerja sel saraf.
Dalam situasi tertentu, kelebihan stimulasi neurotransmiter bisa juga berakibat pada peningkatan signifikan ion kalsium yang masuk ke dalam sel.
Proses tersebut dapat memicu aktivitas enzim yang berpotensi merusak sel saraf.
“Kerusakan sel otak tidak selalu terjadi akibat toksin secara langsung. Ada faktor-faktor lain yang dapat ikut berperan. Karena itu, mekanisme dan penyebab gangguan pada setiap pasien harus diperiksa secara menyeluruh,” tegasnya.
Wahyu juga mengingatkan para pekerja kesehatan untuk tidak hanya fokus pada masalah pencernaan saat menangani insiden keracunan besar-besaran.
Gejala yang berhubungan dengan sistem saraf juga harus mendapatkan perhatian yang memadai.
Beberapa tanda yang harus diwaspadai meliputi perubahan kesadaran, munculnya kejang, kesulitan dalam berkomunikasi, perubahan perilaku, kelemahan pada anggota tubuh, hingga masalah dengan ingatan.
“Jika muncul gejala neurologis, pasien perlu segera mendapatkan penilaian medis secara menyeluruh. Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui penyebab gangguan dan menentukan penanganan yang sesuai,” ujar Wahyu.
Berita tentang masalah ingatan setelah mengalami keracunan tentu menimbulkan rasa cemas.
Akan tetapi, Wahyu menjelaskan bahwa gangguan kognitif tidak selalu menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan otak yang bersifat permanen.
Pada anak-anak dan remaja, kemampuan mereka untuk beradaptasi dan proses pemulihan tetap dipengaruhi oleh faktor penyebab, tingkat keparahan, luasnya gangguan, kecepatan penanganan, serta respons pasien terhadap terapi yang diberikan.
Wahyu berharap bahwa kondisi kognitif yang dialami oleh FP dapat membaik.
Namun, perkembangan kondisi ini tetap perlu diawasi melalui pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
“Namun, perkembangan tetap harus dipantau. Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebabnya serta diarahkan untuk memulihkan fungsi saraf dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” ucapnya.
FP telah menjalani tes elektroensefalografi (EEG) di RSUP H. Adam Malik, Medan, pada hari Senin (7/9).
EEG adalah tes yang digunakan untuk merekan aktivitas listrik yang terjadi di otak.
Hasil dari tes ini dapat membantu dokter dalam menilai kondisi kejang serta mengidentifikasi pola aktivitas listrik yang abnormal.
Namun, EEG bukanlah satu-satunya metode untuk mencari penyebab masalah ingatan.
Dokter mungkin juga akan mempertimbangkan pemeriksaan neurologi, evaluasi fungsi kognitif, tes laboratorium, dan pencitraan otak sesuai dengan keadaan pasien.
Oleh karena itu, keadaan FP masih memerlukan pemeriksaan medis tambahan.
Analisis menyeluruh diperlukan untuk mengidentifikasi alasan di balik gangguan memori serta menetapkan tindakan yang paling sesuai untuk menangani masalah tersebut.
Penulis: Tahnia Landora Carravela Pakpahan
Editor : M. Ainul Budi