RADAR JEMBER - Pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Prosiwangi) tidak hanya akan mengubah pola perjalanan darat di Jawa Timur.
Saat ruas tol tersebut nantinya tersambung hingga kawasan Ketapang, perhatian juga akan tertuju pada Pelabuhan Ketapang sebagai gerbang utama penyeberangan menuju Pulau Bali.
Selama ini, perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang masih dipengaruhi kondisi jalan nasional yang kerap padat, terutama saat musim liburan dan angkutan barang.
Kehadiran jalan tol diperkirakan memangkas waktu tempuh kendaraan dari arah barat menuju Banyuwangi. Konsekuensinya, arus kendaraan yang tiba di pelabuhan berpotensi meningkat dalam waktu yang lebih singkat.
Baca Juga: Jember Tidak Dilewati Tol, Untung atau Rugi? Ini Peluang dan Ancamannya
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan baru. Apakah infrastruktu
r di Pelabuhan Ketapang sudah cukup siap mengantisipasi lonjakan kendaraan ketika Tol Prosiwangi beroperasi penuh?
Kesiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah kapal penyeberangan. Sistem pengaturan kendaraan, kapasitas area parkir, ruang tunggu, hingga rekayasa lalu lintas menuju pelabuhan menjadi faktor penting agar peningkatan mobilitas tidak justru memunculkan antrean baru.
Selama periode mudik Lebaran maupun libur panjang, antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang beberapa kali menjadi perhatian publik.
Pada momen tertentu, kendaraan harus menunggu cukup lama sebelum dapat masuk ke area pelabuhan akibat tingginya volume penyeberangan menuju Gilimanuk.
Baca Juga: Ini Sejarah Besar Perubahan Nama Tol Probowangi Jadi Tol Prosiwangi
Dengan akses tol yang lebih cepat, distribusi kendaraan menuju pelabuhan diperkirakan menjadi lebih lancar. Namun jika kapasitas layanan penyeberangan tidak bertambah seiring peningkatan arus kendaraan, kepadatan berpotensi bergeser dari jalan nasional ke kawasan pelabuhan.
Karena itu, kesiapan operator penyeberangan menjadi aspek yang tak kalah penting dibanding pembangunan jalan tol itu sendiri. Pengaturan jadwal kapal, sistem tiket digital, pengelolaan buffer zone atau kantong parkir, hingga koordinasi dengan kepolisian dalam manajemen lalu lintas akan menentukan kelancaran arus kendaraan.
Selain kendaraan pribadi, sektor logistik juga diperkirakan menjadi salah satu pengguna utama Tol Prosiwangi.
Truk pengangkut barang menuju Bali berpotensi memanfaatkan jalur tersebut untuk memangkas waktu perjalanan. Hal ini dapat meningkatkan volume kendaraan barang yang masuk ke Pelabuhan Ketapang setiap harinya.
Di sisi lain, apabila pengelolaan pelabuhan mampu mengikuti peningkatan mobilitas tersebut, keberadaan Tol Prosiwangi justru dapat menciptakan rantai distribusi yang lebih efisien antara Jawa dan Bali. Waktu tunggu kendaraan dapat ditekan, biaya logistik menjadi lebih kompetitif, dan arus barang antarpulau semakin lancar.
Kini, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan pembangunan jalan tol, tetapi juga memastikan simpul transportasi di ujung jalur tersebut mampu melayani peningkatan arus kendaraan secara optimal.
Sebab, kelancaran perjalanan tidak ditentukan oleh jalan tol semata, melainkan juga oleh kesiapan pelabuhan sebagai titik akhir perjalanan darat sebelum kendaraan menyeberang ke Pulau Bali.
Penulis = Siti Rohani
Editor : M. Ainul Budi