RADAR JEMBER - Beroperasinya Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Prosiwangi) diperkirakan akan mengubah pola perjalanan masyarakat menuju kawasan timur Jawa. Selama ini, kereta api menjadi salah satu moda transportasi favorit menuju Banyuwangi karena menawarkan perjalanan yang relatif nyaman dan bebas macet.
Namun, dengan hadirnya jalan tol, kendaraan pribadi berpotensi menjadi pilihan baru bagi banyak orang.
Lalu, moda transportasi mana yang sebenarnya lebih menguntungkan bagi masyarakat?
Baca Juga: Jember Tidak Dilewati Tol, Untung atau Rugi? Ini Peluang dan Ancamannya
Dari sisi waktu tempuh, keberadaan Tol Prosiwangi diproyeksikan memangkas durasi perjalanan darat dari Surabaya menuju Banyuwangi.
Pengendara tidak lagi harus melewati seluruh jalur Pantura maupun jalan nasional yang selama ini menjadi titik perlambatan akibat kepadatan lalu lintas, lampu lalu lintas, hingga kendaraan berat.
Di sisi lain, kereta api memiliki keunggulan karena jadwal perjalanan yang lebih pasti. Penumpang tidak perlu mengkhawatirkan kemacetan di jalan maupun kelelahan akibat mengemudi dalam perjalanan panjang.
Selain itu, perjalanan kereta juga dinilai lebih stabil karena tidak dipengaruhi kondisi lalu lintas.
Baca Juga: Gara-gara Beroperasinya Tol Prosiwangi Kabupaten Bondowoso Terdampak Positif?
Dari aspek biaya, masing-masing moda memiliki kelebihan tersendiri. Kendaraan pribadi memerlukan biaya bahan bakar, tarif tol, serta biaya operasional lainnya.
Sebaliknya, perjalanan menggunakan kereta api cukup membayar tiket, tanpa perlu memikirkan biaya parkir maupun kelelahan selama perjalanan.
Bagi rombongan keluarga, kendaraan pribadi sering kali menjadi pilihan yang lebih ekonomis karena biaya perjalanan dapat dibagi beberapa penumpang sekaligus.
Namun bagi pelancong individu atau pasangan, kereta api masih menjadi alternatif yang kompetitif karena tarifnya relatif terjangkau dan praktis.
Faktor kenyamanan juga menjadi pertimbangan.
Kendaraan pribadi memberikan fleksibilitas untuk berhenti kapan saja dan langsung menuju tujuan akhir tanpa harus berganti moda transportasi.
Sementara itu, kereta api menawarkan ruang istirahat yang lebih nyaman karena penumpang tidak perlu berkonsentrasi mengemudi selama berjam-jam.
Persaingan kedua moda transportasi tersebut diperkirakan akan semakin menarik setelah Tol Prosiwangi beroperasi secara bertahap, Kehadiran jalan tol tidak serta-merta membuat kereta api kehilangan daya tarik.
Sebaliknya, masing-masing moda diperkirakan akan memiliki segmen pengguna yang berbeda sesuai kebutuhan perjalanan.
Bagi pelaku usaha dan logistik, kendaraan melalui jalan tol kemungkinan lebih diminati karena menawarkan fleksibilitas distribusi hingga lokasi tujuan.
Sementara untuk perjalanan wisata maupun bisnis, kereta api masih memiliki keunggulan dalam hal kenyamanan, ketepatan waktu, dan efisiensi bagi penumpang yang tidak membawa kendaraan.
Pada akhirnya, kehadiran Tol Prosiwangi bukan sekadar menghadirkan jalur baru, tetapi juga membuka persaingan baru antarmoda transportasi.
Tantangannya kini adalah bagaimana operator jalan tol maupun PT Kereta Api Indonesia mampu menghadirkan layanan yang semakin efisien agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan perjalanan menuju Banyuwangi.
Penulis : Siti Roihani
Editor : M. Ainul Budi