RADAR JEMBER – Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih di seluruh Indonesia membawa harapan baru bagi perekonomian desa.
Namun, di balik proses rekrutmen manajer koperasi, muncul pertanyaan yang mulai menjadi perhatian, apakah beban kerja manajer di setiap desa bisa disamakan, sehingga skema penggajiannya juga dibuat seragam?
Pasalnya, karakteristik desa di Indonesia sangat beragam.
Ada desa dengan jumlah penduduk ribuan jiwa yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi, tetapi ada pula desa berpenduduk lebih sedikit dengan skala usaha yang relatif kecil.
Perbedaan itu juga terlihat dari potensi ekonomi masing-masing wilayah. Desa wisata, misalnya, memiliki peluang mengembangkan usaha berbasis pariwisata dan UMKM. Desa pertanian lebih banyak bergerak pada sektor hasil panen, pupuk, dan sarana produksi.
Sementara desa pesisir berpotensi mengembangkan usaha perikanan, pengolahan hasil laut, hingga distribusi tangkapan nelayan.
Keragaman tersebut membuat tantangan yang dihadapi setiap manajer diperkirakan tidak sama.
Manajer di desa dengan aktivitas ekonomi yang lebih besar kemungkinan harus mengelola transaksi lebih banyak, menjalin kerja sama dengan lebih banyak mitra usaha, serta mengawasi unit bisnis yang lebih kompleks dibanding desa dengan skala usaha yang lebih kecil.
Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan secara rinci apakah skema penggajian manajer Kopdes Merah Putih akan dibedakan berdasarkan karakteristik desa atau menggunakan pola yang sama secara nasional.
Pemerintah masih berfokus pada penyelesaian proses pembentukan koperasi dan perekrutan manajer.
Pengamat koperasi menilai, apabila nantinya besaran gaji ditetapkan sama, maka indikator penilaian kinerja sebaiknya tidak disamaratakan.
Sebab, potensi usaha setiap desa berbeda sehingga target yang diberikan juga perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Misalnya, koperasi di desa dengan jumlah penduduk besar berpotensi memiliki anggota dan volume transaksi yang lebih tinggi dibanding desa yang jumlah penduduknya lebih sedikit.
Begitu pula desa yang memiliki potensi wisata atau sentra produksi tertentu tentu memiliki peluang usaha yang berbeda dengan desa yang masih mengandalkan satu sektor ekonomi.
Karena itu, keberhasilan seorang manajer dinilai lebih tepat diukur berdasarkan kemampuannya mengembangkan potensi ekonomi desa masing-masing, meningkatkan partisipasi anggota, menjaga kesehatan keuangan koperasi, serta memastikan usaha koperasi terus berkembang secara berkelanjutan.
Dengan perbedaan karakteristik tersebut, skema evaluasi kinerja menjadi hal yang tak kalah penting dibanding besaran gaji.
Sebab, tujuan utama pembentukan Kopdes Merah Putih bukan sekadar menghadirkan pengelola profesional, tetapi memastikan koperasi mampu tumbuh sesuai potensi yang dimiliki setiap desa.
Penulis : Siti Roihani
Editor : M. Ainul Budi