RADAR JEMBER – Pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Prosiwangi) terus berlanjut dan menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan mempercepat konektivitas kawasan timur Pulau Jawa.
Namun, di tengah optimisme tersebut muncul satu pertanyaan yang mulai banyak diperbincangkan, yakni bagaimana nasib Kabupaten Jember yang tidak dilalui jalur tol.
Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada manfaat tol bagi daerah yang dilintasi.
Padahal, keberadaan jalan tol juga dapat mengubah peta investasi, distribusi barang, hingga pertumbuhan kawasan industri di wilayah sekitarnya.
Secara ekonomi, daerah yang memiliki akses langsung menuju jalan tol umumnya lebih menarik bagi investor.
Biaya distribusi menjadi lebih efisien, waktu tempuh lebih singkat, dan mobilitas barang maupun tenaga kerja semakin mudah.
Kondisi tersebut kerap menjadi pertimbangan perusahaan saat menentukan lokasi pembangunan gudang, kawasan industri, maupun pusat distribusi.
Di sisi lain, Jember memiliki tantangan karena seluruh aktivitas logistik masih bergantung pada jalan nasional menuju akses tol di kabupaten tetangga.
Hal itu berpotensi membuat investor lebih memilih daerah yang memiliki pintu tol sebagai basis usaha, terutama pada sektor pergudangan dan distribusi.
Meski demikian, bukan berarti Jember otomatis menjadi pihak yang dirugikan.
Kabupaten ini masih memiliki modal ekonomi yang cukup besar, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perdagangan hingga UMKM yang selama ini memasok berbagai komoditas ke Surabaya, Banyuwangi, Bali, dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur.
Keberadaan Tol Prosiwangi justru dapat dimanfaatkan sebagai jalur distribusi yang lebih cepat apabila akses dari Jember menuju pintu tol mampu diperkuat.
Dengan waktu perjalanan yang lebih efisien, biaya logistik berpotensi turun sehingga produk-produk unggulan Jember memiliki daya saing yang lebih baik.
Selain itu, posisi Jember yang berada di tengah kawasan Tapal Kuda juga membuka peluang menjadi daerah penyangga logistik.
Barang dari Bondowoso, Lumajang, maupun sebagian wilayah Jember dapat dikonsolidasikan sebelum dikirim melalui jaringan Tol Prosiwangi menuju Surabaya maupun Banyuwangi.
Namun peluang tersebut tidak akan datang dengan sendirinya.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan strategi agar Jember tidak hanya menjadi daerah yang dilewati arus distribusi menuju pintu tol di kabupaten lain.
Penguatan infrastruktur jalan penghubung, pengembangan kawasan pergudangan, hingga kemudahan investasi menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi dari kehadiran tol tetap dapat dirasakan masyarakat Jember.
Di sisi lain, apabila tidak ada langkah antisipasi, bukan tidak mungkin aktivitas investasi baru justru lebih banyak berkembang di daerah yang memiliki akses tol langsung.
Kondisi tersebut berpotensi memicu pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Tapal Kuda dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, menarik menunggu bagaimana strategi Pemerintah Kabupaten Jember dalam menyambut beroperasinya Tol Prosiwangi.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Jember dilewati jalan tol atau tidak, melainkan sejauh mana daerah ini mampu memanfaatkan perubahan jaringan transportasi tersebut menjadi peluang pertumbuhan ekonomi.
Penulis : Siti Roihani
Editor : M. Ainul Budi