Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gaji UMR tapi Ingin Naik Haji? No Worries, Ini Cara Nabungnya

Redaksi Radar Jember • Senin, 22 Juni 2026 | 17:05 WIB
Ilustrasi uang (Foto: KRESNA-Pinterest)
Ilustrasi uang (Foto: KRESNA-Pinterest)

Radar Jember – Menjalankan ibadah Haji merupakan salah satu rukun Islam yang hukumnya wajib bagi yang mampu, dengan biaya yang makin melejit tiap tahunnya tentu hal tersebut menjadi masalah terutama bagi karyawan dengan gaji UMR. 

Eitss namun jika memakai strategi menabung yang benar dan disiplin tentu bukan hal mustahil bagi karyawan yang bahkan dengan gaji UMR untuk naik Haji sesuai panggilan Allah SWT.

Salah satu kesalahan yang umum terjadi biasanya menunggu uang sampai terasa cukup untuk berangkat Haji, padahal dalam realitasnya sistem haji di Indonesia tidak langsung mewajibkan calon jamaah Haji untuk melunasi, namun mengamankan nomor porsi terlebih dahulu.

Baca Juga: Tuntaskan Tawaf Wada, Ribuan Jemaah Haji Asal Jember Mulai Tinggalkan Makkah Menuju Kota Madinah!

Caranya? Dengan menyetor total Rp 25 juta melalui rekening haji di Bank Syariah (BPS-BPIH), lalu memverifiksinya di kemenag yang kemudian ditukar dengan nomor porsi. Nah jadi fokusnya adalah untuk mendapatkan nomor porsi terlebih dahulu alih alih menunggu uangnya terasa cukup.

Nah, lalu apa aja sih kiat-kiat yang efektif dan aplikatif untuk diterapin dengan gaji UMR?

 Yang pasti kuncinya adalam sistem menabung yang konsisten, ini rincian kiat kiatnya:

  1. Buka Tabungan Haji
    Sebagai bukti niat dan komitmen awal, sekaligus memisahkan dana agar tidak tercampur dengan kebutuhan harian. Tabungan ini juga menjadi syarat administratif saat mendaftar ke Kementerian Agama Republik Indonesia. 
  2. Aktifkan Fitur Autodebet
    Sangat dianjurkan untuk menjaga konsistensi. Dengan autodebet, kamu “dipaksa disiplin” karena uang langsung terpotong di awal, bukan menunggu sisa di akhir bulan. 
  3. Gunakan Strategi 50:30:20
    Metode ini membantu mengontrol keuangan: 

Contoh:
Gaji Rp3.070.000 × 20% = Rp614.000/bulan
Target Rp25.000.000 → tercapai dalam ±41 bulan (sekitar 3,4 tahun).
Ini sudah cukup untuk mendapatkan nomor porsi haji.

  1. Cari Side Hustle
    Tambahan penghasilan, sekecil apa pun, bisa mempercepat target. Misalnya freelance, jualan online, atau kerja sampingan yang fleksibel. 
  2. Jadwalkan di Awal Bulan
    Prioritaskan tabungan haji segera setelah gajian. Jangan menunggu sisa, karena biasanya tidak ada. 
  3. Konsisten
    Kunci utama bukan besar kecilnya nominal, tapi rutinitasnya. Sedikit tapi rutin jauh lebih efektif daripada besar tapi tidak stabil. 
  4. Berdoa
    Selain ikhtiar finansial, tetap libatkan aspek spiritual. Karena pada akhirnya, perjalanan haji bukan hanya soal kesiapan materi, tapi juga panggilan.

Namun satu hal yang juga perlu dipahami sejak awal adalah: perjalanan haji bukan hanya soal uang, tapi juga soal waktu.

Di Indonesia, antrean haji reguler bisa mencapai 10 hingga 30 tahun, tergantung daerah. Artinya, saat kamu berhasil mengumpulkan Rp25 juta dan mendapatkan nomor porsi, perjalananmu sebenarnya baru dimulai.

Justru di sinilah strategi menabung jangka panjang menjadi penting.

Selama masa antrean tersebut, kamu punya waktu untuk mempersiapkan pelunasan biaya haji secara bertahap. Berdasarkan data resmi 2026, total biaya yang dibayar jamaah (Bipih) berada di angka sekitar Rp54,19 juta . Dengan setoran awal Rp25 juta, maka sisa yang perlu dilunasi berada di kisaran:

 ± Rp26–30 jutaan (tergantung saldo nilai manfaat dan embarkasi) 

Artinya, jika kamu sudah masuk antrean, kamu sebenarnya punya waktu bertahun-tahun untuk mencicil sisa tersebut bukan harus menyiapkan semuanya sekaligus.

Ini yang sering tidak disadari banyak orang.

Mereka melihat angka Rp50 juta sebagai sesuatu yang berat, padahal jika dipecah dalam waktu 10–20 tahun antrean, beban itu menjadi jauh lebih ringan dan realistis.

Pada akhirnya, haji bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang memulai lebih dulu dan bertahan paling konsisten. Dengan sistem yang tepat, bahkan gaji UMR pun bisa menjadi titik awal perjalanan menuju Ka’bah

Karena dalam banyak kasus, yang gagal bukan karena tidak mampu melainkan karena tidak pernah benar-benar memulai.

Penulis = Bakhtiyar

Editor : M. Ainul Budi
#gaji umr #nabung naik haji #Haji