Radar Jember - Pergantian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dari Dadan Hindayana kepada Nanik Sudaryati Deyang menyisakan pertanyaan besar.
Apakah langkah Istana dengan mengganti kepala BGN akan menyelesaikan serangkaian problemk yang terjadi dalam program MBG.
Dengan melihat data lapangan, tantangan berat yang menanti Nanik justru bersumber dari kelemahan sistemis.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sebanyak 33.626 pelajar mengalami gejala keracunan makanan hingga April 2026, kasus ini terjadi berulang di berbagai wilayah.
Kondisi tersebut dipertegas oleh data operasional BGN, dari total 27.208 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) atau dapur umum yang beroperasi, sebanyak 8.182 di antaranya pernah disuspensi.
Pola ini menunjukkan hampir sepertiga dapur umum di Indonesia mengalami masalah kelayakan, guru Besar Teknologi Pangan UGM, Prof. Sri Raharjo, menilai program ambisius ini sejak awal memang menghadapi masalah kesiapan yang serius di lapangan.
Mekanisme sanksi suspensi yang selama ini menjadi andalan BGN juga mulai mendapat kritik tajam.
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, menegaskan bahwa dapur umum yang terbukti menyebabkan keracunan harus ditutup permanen dan dicabut izinnya, bukan sekadar dihentikan sementara.
Banyaknya dapur bermasalah yang lolos verifikasi, seperti temuan air mengandung bakteri E. coli dan sanitasi buruk, menjadi bukti lemahnya proses seleksi mitra dari hulu.
Di sisi lain juga, Nanik juga dihadapkan pada persoalan tata kelola anggaran BGN yang sempat memicu kontroversi di masyarakat.
Di antaranya alokasi anggaran langganan Zoom senilai Rp 5,7 miliar untuk periode April–Desember 2026 serta rencana pengadaan 25.000 unit motor listrik senilai Rp 1,02 triliun.
Pengamat dari Center of Economic and Social Innovation Studies (CESIS), Irvan Maulana, menilai pengeluaran tersebut rentan mengaburkan prioritas sasaran program utama.
Tantangan terbesar bagi Nanik kini adalah mengubah ketegasan personalnya menjadi ketegasan sistem.
Baca Juga: Ini Alasan Pencopotan Kepala BGN Dadan Hindayana
Pergantian kepala BGN dikhawatirkan hanya menjadi rotasi formalitas yang tetap menanggung beban lama dari sistem yang belum dibenahi.
Penulis: Bakhtiyar Subandi
Editor : Imron Hidayatullahh