Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Disebut Masuk Bursa Ketum PBNU, Ini Respons Prof Mohammad Nuh

M Adhi Surya • Jumat, 22 Mei 2026 | 23:54 WIB
Prof. Mohammad Nuh (kiri) bersama Kakwarda Gerakan Pramuka Jatim Kak H. M. Arum Sabil. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
Prof. Mohammad Nuh (kiri) bersama Kakwarda Gerakan Pramuka Jatim Kak H. M. Arum Sabil. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Calon Ketua Umum PBNU 2026 mulai menjadi perbincangan menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35. 

Salah satu nama yang ramai disebut adalah Mohammad Nuh. Mantan Menteri Pendidikan Nasional itu dinilai memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan, pemerintahan, hingga organisasi keagamaan.

Nama Prof. Nuh menguat setelah sejumlah kalangan NU menilai kepemimpinannya cukup relevan untuk menjawab tantangan organisasi pada era digital dan ekonomi modern. 

Baca Juga: Pesantren Amanatul Ummah Asuhan KH Asep Saifuddin Chalim Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU

Selain pernah menjadi Menteri Pendidikan Nasional, ia juga dikenal sebagai akademisi dan pernah memimpin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Meski demikian, saat ditemui wartawan di sela kegiatan penandatanganan kerja sama antara Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya di Jember, Selasa (19/5), Prof. Nuh memilih tidak membahas peluang dirinya maju dalam bursa Ketua Umum PBNU.

“Saya tidak ada komentar soal itu. Ini forum kepramukaan, jadi kita bicara soal gerakan Pramuka dulu,” ujarnya singkat.

Baca Juga: TEGAS! PWNU Jatim Menentang Segala Bentuk Kejahatan/Penyimpangan terhadap Santri

Alih-alih menanggapi dinamika politik organisasi, Prof. Nuh justru lebih banyak menyoroti kebutuhan warga Nahdliyin di masa mendatang. 

Menurutnya, NU tidak cukup hanya hadir dalam layanan keagamaan, tetapi juga harus memperkuat sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.

Ia menyebut hasil sejumlah survei nasional menunjukkan kebutuhan warga NU berbeda-beda sesuai kelompok usia. 

Generasi muda, kata dia, lebih menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan utama. Sementara kelompok usia senior lebih membutuhkan layanan kesehatan yang mudah dijangkau.

“Kalau generasi mudanya, pendidikan itu penting. Untuk kelompok yang lebih senior, kesehatan menjadi kebutuhan dasar. Sedangkan ekonomi menjadi penghubung untuk semuanya,” terang Prof. Nuh.

Menurutnya, arah pengabdian tersebut sejalan dengan semangat NU memasuki abad kedua. 

Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu dinilai perlu bergerak lebih progresif melalui penguatan UMKM pesantren, peningkatan kualitas perguruan tinggi NU, hingga pengembangan rumah sakit berbasis keumatan di berbagai daerah.

Baca Juga: Pesantren dan Nahdlatul Ulama' (NU), Pilar Kebudayaan dan Intelektualitas Menuju Indonesia Emas 2045

Prof. Nuh juga menilai gerakan Pramuka dan NU memiliki tujuan yang saling berkaitan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 

“Pramuka dan NU punya frekuensi yang sama, bagaimana membangun masyarakat lewat pendidikan, kesehatan, penghijauan dan ekonomi,” tandasnya. (dhi)

Editor : M ADHI SURYA
#muktamar NU 2026 #prof. nuh #Pendidikan #Kesehatan #pramuka