RADAR JEMBER - Jagat maya tengah diguncang oleh potongan video viral yang memperlihatkan ketidakadilan dalam ajang Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Insiden yang terjadi di Pontianak ini memicu gelombang amarah netizen hingga menyeret petinggi parlemen untuk turun tangan.
Berikut adalah fakta-fakta mengejutkan dan terbaru yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber terkait polemik tersebut:
1. Kronologi: Jawaban Sama, Nasib Berbeda
Kekisruhan bermula saat sesi rebutan. Juri melontarkan pertanyaan: "DPR dalam memilih anggota BPK, wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?"
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab dengan lengkap bahwa pemilihan harus memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Namun, juri menyatakan jawaban itu SALAH dan memberi penalti minus 5 poin. Saat pertanyaan dilempar ke Regu B (SMAN 1 Sambas), mereka memberikan jawaban yang identik namun justru dinyatakan BENAR dan mendapat 10 poin.
2. Alasan 'Masalah Artikulasi' dan Gangguan Teknis
Saat diprotes di tempat, dewan juri (Dyastasita WB dan Indri Wahyuni) berdalih tidak mendengar kata "DPD" dari Regu C. Mereka menyalahkan artikulasi (kejelasan bicara) peserta.
"Artikulasi itu penting... Kalau dewan juri tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus 5," tegas juri dalam video tersebut.
Namun, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kalbar mengungkap fakta lain: diduga ada gangguan pada speaker yang mengarah ke meja juri, sehingga suara peserta terdengar jelas oleh penonton dan siaran YouTube, namun samar di telinga juri.
3. Sikap MC yang Dinilai Arogan
Bukan hanya juri, pembawa acara (MC) juga mendapat sorotan tajam. Alih-alih memediasi, MC justru meminta peserta diam dan menerima keputusan juri dengan dalih "juri sudah sangat kompeten" dan menyebut perasaan peserta yang dirugikan sebagai "hanya perasaan adik-adik saja".
4. Juri dan MC Resmi Dinonaktifkan!
Menanggapi tekanan publik, Sekretariat Jenderal MPR RI mengambil langkah ekstrem. Juri dan MC yang bertugas dalam video tersebut dikabarkan telah dinonaktifkan dari rangkaian lomba selanjutnya. Setjen MPR juga menyatakan sedang melakukan penelusuran internal dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penilaian agar kejadian serupa tidak terulang di provinsi lain.
Baca Juga: Sekda Kalbar Angkat Bicara! Juri LCC Seakan Tak Paham Materi
5. Pimpinan MPR RI Minta Maaf Secara Terbuka
Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, secara jantan mengakui adanya kelalaian.
"Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya juri bersikap objektif dan tidak hanya terpaku pada teks di tablet, melainkan memahami substansi jawaban peserta.
6. Desakan Evaluasi Total dari DPR
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, ikut meradang. Ia meminta Setjen MPR tidak main-main dalam menunjuk juri.
"Pokoknya kami dari anggota MPR ini sampaikan protes juga kepada kesetjenan MPR mengangkat juri yang benar, gitu," tegas Cucun.
7. Keberanian Siswa SMAN 1 Pontianak Banjir Pujian
Di balik kekecewaan, netizen justru memberikan apresiasi luar biasa kepada para siswa SMAN 1 Pontianak. Keberanian mereka dalam menyuarakan kebenaran secara sopan di bawah tekanan juri dianggap sebagai implementasi nyata dari nilai-nilai "Empat Pilar" yang sesungguhnya.
Editor : M. Ainul Budi