Radar Jember – Pelaksanaan seleksi Manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih 2026 yang seharusnya menjadi tonggak transformasi ekonomi desa kini didera isu miring.
Sebuah video kesaksian peserta viral di media sosial, mengungkap adanya gangguan teknis serius pada sistem ujian yang dinilai merugikan para pelamar secara masif.
Kesaksian Peserta: 'Jawaban Berubah Otomatis'
Dalam video tersebut, seorang pria mengenakan kemeja putih membagikan pengalaman pahitnya saat mengikuti tes kompetensi.
Ia melaporkan adanya ketidaksesuaian data antara jawaban yang dipilih dengan yang tersimpan di sistem digital.
"Aku baru selesai tes kompetensi koperasi desa. Jangan berharap banyak. Tapi gatau kenapa? Website-nya aneh banget," keluh pria tersebut.
Masalah utama yang ia soroti adalah kegagalan sistem dalam mempertahankan pilihan jawaban peserta.
Ia mengklaim kursor berpindah sendiri ke jawaban yang tidak dipilih meski sudah dilakukan pengecekan berulang kali.
"Kita udah jawab, jawaban terasa benar, terus jawaban benar udah disimpen, tiba-tiba kursor keganti sama jawaban yang kita tidak pilih," tambahnya.
Kekecewaan ini memuncak pada pernyataan keras mengenai hilangnya transparansi dalam proses seleksi kognitif tersebut.
"Jangan berharap banyak. Lakuin aja, pilih aja asal klik yang penting keisi. Karena kalaupun jawaban benar, sama sistemnya disalahin," ungkapnya.
Ia menutup videonya dengan nada ketus, "I don't know why? tapi i lost my trust. Aku udah ga percaya sama proses seleksinya. Jadi GWS deh Indonesia."
Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih: Rintangan Utama CAT
Di tengah polemik tersebut, seleksi Manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih 2026 sebenarnya telah memasuki babak paling krusial.
Ribuan pelamar yang lolos verifikasi berkas kini sedang menghadapi rintangan utama, yakni Tes Potensi Kognitif berbasis Computer Assisted Test (CAT).
Mengapa Tahapan Ini Penting?
- Penyaring Utama: Tahapan ini dirancang untuk menjaring peserta dengan kemampuan analisis tajam dan logika kuat untuk memimpin ekonomi di tingkat desa.
- Standar Tinggi: Mengingat tanggung jawab besar sebagai manajer, memahami karakteristik soal dan stabilitas sistem menjadi kunci agar tidak tereliminasi di tengah jalan.
- Objektivitas: Secara teori, sistem CAT digunakan untuk memastikan proses seleksi berjalan transparan dan akuntabel, namun kendala teknis yang viral ini justru memicu kekhawatiran publik terhadap akurasi penilaian.
Baca Juga: Syarat Mutlak! Mau Jadi Manajer Koperasi Merah Putih di Lampung? Harus Siap Ditempatkan di Mana Saja
Hingga saat ini, para peserta masih menantikan klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara mengenai integritas sistem digital yang digunakan agar hasil seleksi tetap dianggap sah dan adil.
Editor : Imron Hidayatullahh