Radar Jember – Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjadi pusat perhatian publik menyusul kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 lalu.
Bobby menghadapi dua arus opini yang kontras: apresiasi atas respons cepatnya dalam menangani krisis, serta tuntutan dari sejumlah pihak agar dirinya menanggalkan jabatan sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Jadikan Dukungan sebagai Momentum Berbenah
Menanggapi banyaknya simpati dan dukungan yang mengalir, Bobby menyampaikan rasa terima kasihnya saat meninjau lokasi kejadian.
Baca Juga: Siapa Orang Tua Dirut PT KAI Bobby Rasyidin? Ini Biodata dan Riwayat Pendidikannya
Menurutnya, dukungan tersebut merupakan suntikan semangat bagi seluruh jajaran KAI untuk terus memperbaiki sistem.
"Terima kasih atas dukungan dari rekan-rekan semua. Dukungan ini menjadikan kami lebih semangat untuk memberikan layanan yang lebih baik dan lebih aman," ujar Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Senin (4/5/2026).
Ia kembali menekankan bahwa dalam industri transportasi, aspek keselamatan adalah harga mati.
"Tingkat keselamatan selalu saya tekankan; tidak bisa ditoleransi dan tidak bisa dikompromikan," tandasnya.
Respons Santai Terkait Desakan Mundur
Di sisi lain, Bobby menanggapi dengan rileks saat ditanya awak media mengenai desakan mundur yang disuarakan oleh beberapa organisasi masyarakat dan kelompok pemuda.
Alih-alih memberikan jawaban formal yang kaku, Bobby merespons tuntutan tersebut dengan nada berkelakar sembari tersenyum kepada wartawan.
"Saya (sampai sekarang, Red) belum mundur. Mau mundur nggak?" ucapnya santai, mengisyaratkan bahwa fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan penanganan pascainsiden ketimbang menanggapi polemik jabatan.
Komitmen Peningkatan Layanan
KAI kini tengah melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan insiden serupa tidak terulang kembali.
Komitmen Bobby untuk meningkatkan standar keamanan menjadi pertaruhan besar di tengah sorotan tajam publik terhadap keandalan transportasi kereta api nasional pada tahun 2026 ini.
Editor : Imron Hidayatullahh