RADAR JEMBER - Sebuah revolusi besar dalam sektor pangan nasional tengah bergulir.
Koperasi Merah Putih kini diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi raksasa baru dengan potensi keuntungan yang sangat menggiurkan.
Bukan sekadar angka, proyeksi laba ini muncul seiring dengan strategi jitu pemerintah dalam membenahi tata kelola distribusi pangan di tanah air.
Kunci utama dari lonjakan keuntungan ini adalah keberhasilan dalam mempersingkat rantai pasok pangan yang selama ini dinilai terlalu panjang dan merugikan petani maupun konsumen.
Dengan memangkas keterlibatan tengkulak dan perantara yang tidak perlu, Koperasi Merah Putih mampu mengamankan margin keuntungan yang lebih besar sekaligus menjaga harga pangan tetap stabil di pasar.
Langkah efisiensi ini tidak hanya memperkuat posisi tawar koperasi, tetapi juga memastikan bahwa nilai tambah ekonomi benar-benar kembali ke tangan rakyat dan anggota koperasi di pedesaan.
Baca Juga: Anggaran Jebol? Kontroversi Gaji KDMP Meledak, Menkeu Bongkar Fakta Bayar Rp40 Triliun Per Tahun
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap bahwa untuk mempersingkat alur rantai pasok produk pangan dari petani hingga sampai ke konsumen akhir yakni lewat Koperasi Merah Putih.
Dia menyebut selama ini total potensi keuntungan yang diperoleh middleman dengan rantai pasok yang panjang mencapai Rp 313,08 triliun.
Rantai itu setelah dari petani dimulai dari pedagang pengumpul, distributor, subdistributor, hingga ritel. Dari ritel baru sampai ke konsumen akhir.
"Di middleman untungnya bisa 10 persen, 20 persen, 30 persen (dari setiap tahap distribusi)," ujar Amran dalam diskusi dengan sejumlah pengamat di gudang sewa penyimpanan beras Bulog di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4).
Dengan skema Koperasi Merah Putih, rantai pasok produk pertanian lebih pendek. Dari petani ke koperasi dan ke konsume akhir.
"Potensi marginnya Rp 50 triliun," tegas Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.
Editor : M. Ainul Budi