Radar Jember - Teka-teki mengenai besaran gaji 30.000 manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mulai menemui titik terang.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), memberikan sinyal kuat bahwa skema pengupahan bagi para pemimpin ekonomi desa ini akan disesuaikan dengan kualifikasi pendidikan pelamar.
Karena rekrutmen ini terbuka bagi lulusan D-3, D-4, hingga S-1, besaran gaji yang diterima nantinya akan mengikuti jenjang tersebut dengan status sebagai pegawai perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) di bawah BUMN PT Agrinas Pangan Nusantara.
"Gajinya nanti disesuaikan, karena kan ada D3, D4, S1. Kita tidak sampai menentukan detail nominalnya," ujar Zulhas dalam keterangannya di Jakarta.
Prediksi Kompensasi dan Standar UMP 2026
Meski angka resmi belum dirilis, para pengamat memprediksi gaji manajer di lingkungan BUMN akan sangat kompetitif.
Sebagai gambaran, rentang gaji manajer profesional di berbagai sektor umumnya berada di angka Rp7,5 juta hingga puluhan juta rupiah, bergantung pada skala operasional.
Sebagai batas bawah, skema ini dipastikan tidak akan berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026.
Sebagai referensi, DKI Jakarta saat ini memiliki UMP tertinggi sebesar Rp5.729.873, sementara wilayah dengan UMP terendah berada di Jawa Barat sebesar Rp2.317.601.
Negara Memanggil: Seleksi Transparan Tanpa ‘Orang Dalam’
Zulhas menegaskan bahwa program inisiatif Presiden Prabowo Subianto ini merupakan misi untuk membangun ekonomi dari desa.
Oleh karena itu, ia menjamin proses seleksi yang dilakukan melalui portal resmi https://phtc.panselnas.go.id berlangsung 100 persen transparan dan bebas biaya.
"Jadi, tidak ada jalur khusus, tidak ada orang yang mengatur secara pribadi, dan tidak ada pihak tertentu yang menjamin seseorang diterima. Jika ada orang yang meminta uang, lalu menjanjikan lulus, itu berarti mereka sedang menipu," tegas Zulhas.
Saat ini pendaftaran masih dibuka hingga Jumat, 24 April 2026.
Para manajer yang terpilih nantinya akan memimpin unit usaha strategis desa, mulai dari logistik pangan hingga toko sembako dan apotek, menjadikannya ujung tombak kemandirian ekonomi nasional.
Editor : Imron Hidayatullahh