TANGGUL, Radar Jember - Langit Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, Jember mendadak bising oleh deru baling-baling helikopter pada Kamis siang (16/4/2026).
Di tengah gencarnya sorotan publik terhadap efisiensi anggaran negara, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memilih moda transportasi udara yang tak biasa bagi pejabat setingkat kepala badan untuk mendarat di area hamparan komplek Padepokan HM. Arum Sabil.
Turun dari helikopter bersama staf dan ajudannya, Dadan disambut hangat oleh tokoh masyarakat terkemuka di Jember tersebut. Hadir pula mendampingi, sejumlah pejabat teras Pemkab Jember di antaranya Pj. Sekretaris Daerah (Sekda) Akhmad Helmi Luqman dan Kepala Dinas Perhubungan Jember Gatot Triyono.
Baca Juga: Gus Fawait Siapkan BUMD Pangan! Amankan Perputaran Uang Rp 4 Triliun dari Program MBG di Jember
Kontras dengan kemewahan transportasi udaranya, Dadan kemudian diarahkan menaiki minibus bak terbuka bertemu dengan sejumlah masyarakat dan secara simbolis menyerahkan bantuan sembako. Kemudian ia menanam bibit pohon durian di area tersebut. Dan tak berselang lama, ia menuju kediaman Arum Sabil untuk jamuan formal.
Langkah high-profile Dadan Hindayana ke Jember ini seolah menjadi simbol visual dari besarnya sokongan fasilitas di balik Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kemewahan perjalanan dinas ini berbanding lurus dengan distribusi fasilitas bagi para kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia yang baru-baru ini dibekali sepeda motor listrik mewah senilai Rp50 juta per unit.
Usai jamuan, transisi gaya transportasi kembali terlihat. Dadan meninggalkan kediaman Arum Sabil menggunakan Toyota Alphard mewah berpelat nomor L 45 KAA menuju Kecamatan Jombang, Jember.
Tujuan utamanya adalah meninjau dan meresmikan SPPG Yayasan Cahaya Sholawat Nusantara yang terletak di Jalan Duku, Desa Wringinagung—sebuah lokasi strategis yang merupakan kampung halaman Bupati Jember, Muhammad Fawait. Dalam kesempatan itu, Dadan mengutarakan maksud lawatannya ke kota berpenduduk 2,6 juta jiwa lebih ini.
"Dari pengalaman di Jember, dari data kami 500 ribu, ternyata Jember bisa turun ke desa-desa sampai RT-RW, bisa membawa data penerima manfaat (MBG) ke kami kurang lebih 800 ribu, dan ini (Jember) selalu saya contohkan di seluruh Indonesia. Makanya saya harus ke Jember ini karena untuk menyampaikan bahwa banyak calon penerima manfaat (MBG) belum terdata di sistem," kata Dadan, di sela-sela memberikan paparan dalam kesempatan tersebut.
Editor : Maulana RJ